By. Arengapinata
Menjadi wanita saja dalam
Islam tidaklah cukup. Sebab dalam Islam, seorang wanita itu sangat mulia dan
dimuliakan. Bukan hanya oleh ayah dan suaminya, tapi juga dimuliakan oleh Allah
dan Nabinya. Wanita begitu berharga, terhormat dan ditempatkan pada tempatnya.
Tidak seperti wanita yang hidup di jaman jahiliyah (jaman kebodohan/kegelapan).
Di masa jahiliyah, wanita tercipta hanya sebagai pemuas nafsu kaum lelaki
pemuja syahwat; tidak lebih.
Namun, setelah Islam datang
semua adab jahiliyah satu per satu runtuh. Termasuk cara memperlakukan seorang
wanita pun menjadi perhatian penting bagi dienul Islam yang dibawa oleh
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Di masa Nabi itulah seorang wanita
terangkat kedudukannya. Dimuliakan dan disejajarkan derajatnya dengan kaum
lelaki sebagai hamba Allah yang mempunyai kewajiban dan hak yang sama di
hadapan Rabbnya.
Berikut adalah beberapa sifat
wanita terbaik di dalam Islam.
Wanita, dalam Islam harus
menutup aurat (berjilbab syar'i). Namun, bukan sekedar menutup aurat. Sebab ada
aturan dan caranya bagaimana perintah menutup aurat sesuai dengan kehendak
Allah dan Nabinya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Hai
Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri
orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. Al Ahzab: 59).
Daripada menuntut terus persamaan gender, mending setiap wanita
berusaha memiliki 8 sifat wanita terbaik berikut ini.
1-
Menutup Aurat
Wanita terbaik itu menutup auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya
kecuali wajah dan telapak tangan, menurut pendapat terkuat di antara pendapat
para ulama.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai
Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,
karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. Al
Ahzab: 59).
Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh
wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya, “Katakanlah
kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,
dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari
padanya.” (QS. An Nuur: 31).
2-
Berbusana dengan Memenuhi
Syarat Pakaian yang Syar’i
Wanita yang menjadi idaman sepatutnya memenuhi beberapa kriteria berbusana berikut
ini yang kami sarikan dari berbagai dalil Al Qur’an dan As Sunnah. Syarat
pertama: Menutupi seluruh tubuh (termasuk kaki) kecuali wajah dan telapak
tangan.
Syarat kedua: Bukan memakai pakaian untuk berhias diri.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti
orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33).
Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.”
Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal
yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”
Syarat ketiga: Longgar, tidak ketat dan tidak tipis sehingga tidak
menggambarkan bentuk lekuk tubuh. Syarat keempat: Tidak diberi wewangian
atau parfum. Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu
melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka
perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu
Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan
bahwa hadits ini shohih)
Syarat kelima: Tidak menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhu berkata, “Rasulullah
melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai
kaum pria.” (HR. Bukhari no. 6834)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam juga
bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia
termasuk bagian dari mereka”.(HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul
Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)
Inilah di antara beberapa syarat pakaian wanita yang harus dipenuhi. Inilah
wanita yang pantas dijadikan kriteria.
3- Betah Tinggal di Rumah
Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah
betah berada di rumah dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak
keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk
menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi
laki-laki.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan
tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan
sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).
Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Hendaklah kalian
tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali
karena ada kebutuhan”.
Disebutkan bahwa ada orang yang bertanya kepada Saudah -istri Rasulullah-,
“Mengapa engkau tidak berhaji dan berumrah sebagaimana yang dilakukan oleh
saudari-saudarimu (yaitu para istri Nabi yang lain, pent)?” Jawaban beliau,
“Aku sudah pernah berhaji dan berumrah, sedangkan Allah memerintahkan aku untuk
tinggal di dalam rumah”. Perawi mengatakan, “Demi Allah, beliau tidak pernah
keluar dari pintu rumahnya kecuali ketika jenazahnya dikeluarkan untuk
dimakamkan”. Sungguh moga Allah ridha kepadanya.
Ibnul ‘Arabi bercerita, “Aku sudah pernah memasuki lebih dari seribu
perkampungan namun aku tidak menjumpai perempuan yang lebih terhormat dan
terjaga melebihi perempuan di daerah Napolis, Palestina, tempat Nabi Ibrahim
dilempar ke dalam api. Selama aku tinggal di sana aku tidak pernah melihat
perempuan di jalan saat siang hari kecuali pada hari Jumat.
Pada hari itu para perempuan pergi ke masjid untuk ikut shalat Jumat sampai
masjid penuh dengan para perempuan. Begitu shalat Jumat berakhir mereka segera
pulang ke rumah mereka masing-masing dan aku tidak melihat satupun perempuan
hingga hari Jumat berikutnya”.
Dari Abdullah, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan
menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah
ketika dia berada di dalam rumahnya”. (HR Ibnu Khuzaimah no. 1685.
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak halal bagi
seorang istri keluar dari rumah kecuali dengan izin suaminya.” Beliau juga
berkata, “Bila si istri keluar rumah suami tanpa izinnya berarti ia telah
berbuat nusyuz (pembangkangan), bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya,
serta pantas mendapatkan siksa.” (Majmu’ Al-Fatawa, 32: 281)
4- Memiliki Sifat Malu
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR.
Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain.)
Kriteria ini juga semestinya ada pada setiap wanita. Contohnya adalah
ketika bergaul dengan pria. Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu
yang sangat. Cobalah perhatikan contoh yang bagus dari wanita di zaman Nabi
Musa ‘alaihis salam.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, "Dan tatkala ia
sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang
sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu,
dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah
maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat
meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan
(ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.
Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (QS.
Qashash: 23-24).
Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu
berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Namun coba
bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!
Tidak cukup sampai di situ kebagusan akhlaq kedua wanita tersebut. Lihatlah
bagaimana sifat mereka tatkala datang untuk memanggil Musa ‘alaihis salaam;
Allah melanjutkan firman-Nya, “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang
dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya
bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi
minum (ternak) kami.‘” (QS. Al Qashash : 25)
Ayat yang mulia ini,menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq
dan bersifat malu. Allah menyifati gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya
yang penuh dengan rasa malu dan terhormat.
Amirul Mukminin Umar bin Khoththob rodiyallohu ‘anhu mengatakan, “Gadis itu
menemui Musa ‘alaihis salaam dengan pakaian yang tertutup rapat, menutupi
wajahnya.” Sanad riwayat ini shahih.
5- Taat dan Menyenangkan
Hati Suami
Istri yang taat pada suami, senang dipandang dan tidak membangkang yang
membuat suami benci, itulah sebaik-baik wanita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, dia berkata,
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab
beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami
jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga
membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Begitu pula tempat seorang wanita di surga ataukah di neraka dilihat dari
sikapnya terhadap suaminya, apakah ia taat ataukah durhaka.
Al Hushoin bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat
Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam karena satu
keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah bersuami?”
Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap
suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab,
“Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak
mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana
keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan
nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata
Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)
6- Menjaga Kehormatan,
Anak dan Harta Suami
Allah Ta’ala berfirman artinya, “Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat
kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada” (QS.
An Nisa’: 34).
Ath Thobari mengatakan dalam kitab tafsirnya (6: 692), “Wanita tersebut
menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta
suami. Di samping itu, ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu.”
7- Bersyukur dengan Pemberian Suami
Seorang istri harus pandai-pandai berterima kasih kepada suaminya atas semua yang telah diberikan suaminya kepadanya. Bila tidak, si istri akan berhadapan dengan ancaman neraka Allah Ta’ala. Seselesainya dari shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat, “Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).
Lihatlah bagaimana kekufuran si wanita cuma karena melihat kekurangan suami sekali saja, padahal banyak kebaikan lainnya yang diberi. Hujan setahun seakan-akan terhapus dengan kemarau sehari.
8- Berdandan dan Berhias Diri
Hanya Spesial untuk Suami
Sebagian istri saat ini di hadapan suami bergaya seperti tentara, berbau
arang (alias: dapur) dan jarang mau berhias diri. Namun ketika keluar rumah, ia
keluar bagai bidadari. Ini sungguh terbalik. Seharusnya di dalam rumah, ia
berusaha menyenangkan suami. Demikianlah yang dinamakan sebaik-baik wanita.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, dia berkata, pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling
menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak
menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR.
An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits
ini hasan shahih)


0 Komentar