Suku Uighur atau Uygur,
Uigur, Uighur adalah
salah satu suku minoritas resmi di Republik Rakyat Tiongkok. Suku ini
merupakan keturunan dari suku kuno Huihe yang tersebar di Asia Tengah. Selain
Republik Rakyat Tiongkok, populasi suku ini juga tersebar di Kazakhstan, Kyrgystan dan Uzbekistan.
Suku Uighur bersama suku Hui menjadi suku utama pemeluk Islam di
Tiongkok, namun ada perbedaan budaya dan gaya hidup yang rentan
di antaranya. Suku Uighur lebih bernafaskan Sufi sedangkan suku Hui lebih pada mazhab Hanafi. Suku
Uighur terutama berdomisili dan terpusat di Daerah Otonomi Xinjiang.
Muslim yang
tinggal di setiap wilayah di China dan Muslim mayoritas di wilayah
Xinjiang–Uyghur dan Chinghai berupa, Etnis Muslim di Cina (th 2000): Hui (9,8
juta), Uyghur (8,4juta), Kazak (1,25 juta), Dongxiang, Kyrgyz, Salar, Tajik,
Uzbek, Bonan, dan Tartar. Muslim di China terdiri dari 10 etnis: Turki
(Uighur, Kazak, Kyrgyz, Salar, Uzbek and Tatar), Persia Xinjiang, Mongol
(Dongxiang and Bonan), dan Hui di Qinghai, Gansu, and Ningxia. Populasi yang
sebenarnya dimungkinkan lebih banyak, yaitu sekitar 32 juta (2,5%).
Sejarah Muslim di Uighur
Bangsa Uighur
adalah keturunan klan Turki yang hidup di Asia Tengah, terutama di provinsi Cina,
Xinjiang. Namun, sejarah etnis Uighur menyebut daerahnya itu Uighuristan atau
Turkestan Timur.
Menurut sejarah,
bangsa Uighur merdeka telah tinggal di Uighuristan lebih dari 2.000 tahun. Tapi
Cina mengklaim daerah itu warisan sejarahnya, dan oleh karenanya tak dapat
dipisahkan dari Cina. Orang Uighur percaya, fakta sejarah menunjukkan klaim
Cina tidak berdasar dan sengaja menginterpretasikan sejarah secara salah, untuk
kepentingan ekspansi wilayahnya.
Tahun 1949, 96
persen penduduk Xinjiang adalah klan Turki. Namun, sensus Cina terakhir
menyebutkan kini hanya ada 7,2 juta Uighur dari 15 juta warga Xinjiang. Selain
itu ada etnis Kazakh (1 juta), Kyrgyz (150 ribu), dan Tatar (5 ribu). Para
tokoh Uighur percaya jumlah mereka di sana 15 juta. Selain itu, kini di
Xinjiang tinggal juga etnis ras Asia: Han-Cina, Manhcu, Huis, dan Mongol.
Orang Uighur
berbeda ras dengan Cina-Han. Mereka lebih mirip orang Eropa Kaukasus, sedang
Han mirip orang Asia. Bangsa Uighur memiliki sejarah lebih dari 4.000 tahun.
Sepanjang itu, mereka telah mengembangkan kebudayan uniknya, sistem masyarakat,
dan banyak menyumbang dalam peradaban dunia.
Di awal abad ke-20,
melalui ekspedisi keilmuan dan arkelogis di wilayah Jalur Sutra, di Uighuristan
ditemukan peninggalan kuno bangsa Uighur berupa candi-candi, reruntuhan biara,
lukisan dinding, dan barang-barang lainnya, juga buku dan dokumen.
Berabad-abad lalu,
Uighur telah menggunakan skrip tulisan. Saat bersatu di bawah Kerajaan
Uighur-Kok Turk abad ke-6 dan ke-7, mereka menggunakan tulisan Orkhun, yang
lalu diadposi menjadi tulisan Uighur.
Tulisan ini
digunakan hampir 800 tahun, tidak hanya oleh bangsa Uighur tapi juga oleh
suku-suku klan Turki lainnya, oleh orang Mongol (saat kekaisaran Genghis Khan),
oleh orang Manchu (terutama pada masa awal Manchu mulai menguasai Cina).
Setelah memeluk Islam di abad ke-10, Uighur menyerap alpabet Arab.
Sejak dulu, banyak
orang Uighur menjadi pengajar di kekaisaran Cina, menjadi duta besar di Roma,
Istambul, Baghdad. Kebanyakan karya sastra awal keberadaan Uighur diterjemahkan
ke teks agama Budha dan Manichean. Namun ada juga karya naratif, puisi dan epik
yang telah diterjemahkan ke bahasa Jerman, Inggris dan Rusia.
Walau telah memeluk
Islam, dominasi kebudayan Uighur asli tetap bertahan di Asia Tengah. Malah
dengan masuknya Islam, karya sastra dan ilmu Uighur semakin berkembang.
Beberapa karya sastra yang terkenal misalnya Kutatku bilik karya Yusuf Has
Najib (1069-1070), Divani Lugarit Turk oleh Mahmud Kashari, dan Atabetul
Hakayik oleh Ahmet Yukneki.
Bangsa Uighur juga
dikenal ahli pengobatan. Zaman Dinasti Sung (906-960), seorang ahli obat-obatan
Uighur bernama Nanto mengembara ke Cina. Ia membawa berbagai jenis obat yang
saat itu belum dikenal di Cina. Bangsa ini pada masa itu itu telah mengenal 103
tumbuan obat yang
dicatat dalam buku obat-obatan Cina oleh Shi-zhen Li (1518-1593). Bahkan
sebagian ahli barat percaya akupuntur bukan asli milik orang Cina, tapi awalnya
dikembangkan Uighur.
Orang Uighur juga
memiliki kemampuan arsitektur, musik, seni dan lukisan yang tinggi. Mereka
bahkan telah bisa mencetak buku berabad-abad sebelum ditemui oleh Gutenberg. Pada
abad pertengahan, karya sasta, teater, musik dan lukisan sastrawan Cina juga
sangat dipengaruhi Uighur.
Sebelum masuknya
Islam, Uighur menganut Shamanian, Budha dan Manicheism. Saat ini, bisa dilacak
candi yang dikenal sebagai Ming Oy (Seribu Budha) di Ughuristan. Reruntuhannya
ditemui di kota Kucha, Turfan dan Dunhuang, dulunya tempat tinggal orang
Kanchou-Uighur.
Orang Uighur
memeluk Islam sejak tahun 934, saat pemerintahan Satuk Bughra Khan, pengusaha
Kharanid. Saat itu, 300 masjid megah dibangun di kota Kashgar. Islam lalu
berkembangan dan menjadi satu-satunya agama orang Uighur di Uighuristan.
Corak Keberagaman di China
Islam memberikan pengaruh yang cukup signifikan di China terutama pada
aspek arsitektur (masjid) dan kaligrafi. Terdapat sekitar 45.000 masjid.
Laksamana Cheng Ho dikenal sebagai pelaut Muslim yang tangguh. Pengikutnya yang
terkenal adalah Ma Huan. Bela diri Wushu juga dikembangkan oleh bangsa Hui di
China.
Menjamur di Cina masjid khusus wanita untuk mendukung pendidikan agama
bagi wanita dari anak-anak, remaja, dan tua. Lebih dari 200 imam masjid wanita
bersertifikat di Ningxia. Pada April 2001, pemerintah membentuk Asosiasi Islam
Cina, yang bertujuan membantu penyebaran Al-Qur’an di Cina dan mereduksi
radikalisme agama. Asosiasi ini dijalankan oleh 16 tokoh agama Islam yang
bertugas membuat sebuah interpretasi yang tepat dari Islam. Lembaga ini akan
mengkomplikasi dan menyebarkan teks khutbah inspiratif yang dibuat oleh para
ulama diseluruh negeri.
Masjid-masjid yang
megah karya bangsa Uighur contohnya Azna (dibangun abad ke-12), Idgah (abad
ke-15) dan Appak Khoja (abad ke-18). Pada masa kejayaan itu di Kashgar saja
telah ada 18 madrasah besar dengan lebih 2.000 siswa baru yang masuk
pertahunnya.
Pendidikan di Uighur
Selama satu
dekade terakhir, China telah banyak berinvestasi untuk mengurangi kemiskinan di
wilayah Otonomi Uighur, Xinjiang. Namun dari semua sector yang ada paling
menuntut lebih banyak sumber daya adalah sector pendidikan telah menjadi
prioritas utama.
Selain agama, di
madrasah-madrasah inilah anak Uighur belajar membaca, menulis, logika,
aritmatik, geometri, etik, astronomy, tibb (pengobatan), pertanian. Pada abad
ke-15 di kota ini telah ada perpustakaan dengan koleksi 200 ratus ribu buku.
Orang Uighur juga telah mengenal pertanian semiintensif sejak 200 SM. Pada abat
ke-7 pertanian mereka semakin berkembang dengan menaman jagung, gandum,
kentang, kacang tanah, anggut, melon dan kapas.
Mereka juga telah
mengembangkan sistem irigasi (kariz) untuk mengalirkan air dari sumber yang
jauh dari lahan pertanian. Satu sistem irigasi kuno ini masih bisa dilihat di
kota Turfan. Boleh dikatakan, kebudayaan Uighur mendominasi Asia Tengah
sepanjang 1.000 tahun sebelum bangsa ini ditaklukan penguasa Manchu yang
memerintah di Cina.
(Annisa FN: dari berbagai sumber)


0 Komentar