Bagi seorang
muslim, semua sisi kehidupannya bisa bernilai ibadah di mata Allah Ta’ala. Syaratnya,
lakukan semua amal kebaikan itu karena Allah semata dan bukan karena ada motif
lainnya. Salah satu hal kecil mungkin yang sering kali dilupakan adalah masalah
tidur dan bangun.
Dalam Islam,
tidur dan bangun mempunyai adab (etika). Jika etika itu dilakukan, maka insya
Allah tidur dan bangunnya menjadi penuh makna (berpahala dan mendapat ridha
Allah). Berikut ini adalah beberapa adab agar tidur dan bangun seorang muslim
mendapat pahala dari Allah.
Pertama, sebelum tidur (memejamkan mata),
alangkah baiknya jika melakukan muhasabah terlebih dulu. Dalam sebuah riwayat,
panglima yang mendapat gelar ‘Singa Allah’ Khalid bin Walid, dikisahkan sebelum
ia tidur, selalu melakukan muhasabah. Jika sekaliber panglima Khalid bin Walid
saja selalu bermuhasabah sebelum tidurnya, lalu apalagi kita hari ini yang tentu saja levelnya masih sangat
jauh dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Evaluasilah
segala perbuatan yang telah kita lakukan di siang hari. Lalu jika terdapat perbuatannya
baik, maka hendaknya memuji kepada Allah Ta’ala dan jika sebaliknya, maka hendaknya
segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.
Kedua, segeralah tidur sesegera mungkin, berdasarkan hadis
yang bersumber dari `Aisyah ra “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam tidur pada awal malam dan bangun pada pengujung malam, lalu beliau
melakukan shalat." (Muttafaq
`alaih).
Tentu saja, segera tidur itu yang dimaksud adalah jika tidak ada hal
penting lain yang perlu dimusyawarahkan, maka sebaiknya tidurlah segera selepas
shalat Isya. Betapa banyak orang yang tidurnya di larut malam, tetapi bukan
bermaksud untuk zikrullah. Malah sebaliknya begadangnya bukan untuk ribath
(berjaga-jaga) di jalan Allah, tapi untuk menyia-nyiakan waktu dengan melakukan
hal-hal kurang atau tidak bermanfaat.
Ketiga, alangkah baiknya berwudhu sebelum
tidur, dan berbaring miring sebelah kanan. Al-Bara' bin Azib ra menuturkan,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, "Bila kamu akan tidur, maka
berwudhu'lah sebagaimana wudhu' untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan
miring ke sebelah kanan..."
Dan tidak mengapa berbalik kesebelah kiri nantinya.
Berwudhu’
artinya menyucikan diri sebelum tidur. Lalu berbaringlah kesebelah kanan. Menurut
ilmu kesehatan, tidur dengan miring ke kanan akan memberikan manfaat yang
sangat banyak. Salah satunya adalah membuat lambung tidak bisa bekerja lebih
efektif dan nafas lebih lancar.
Keempat,
kibaskanlah sperei
tiga kali sebelum berbaring. Hal itu berdasarkan hadis dari Abu Hurairah ra
bahwa Rasulullah Shallallhau
‘alaihi wasallam bersabda, "Bila seorang dari kamu akan tidur
pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pada tempat tidurnya
itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya..." Di
dalam satu riwayat dikatakan,
"tiga kali."
(Muttafaq `alaih).
Dalam penjelasan
yang lain, sesungguhnya bisa jadi di atas tempat tidur itu ada anak-anak jin. Karena
itu perlu dikibaskan dulu tempat tidur itu agar mereka bisa pergi dari tempat
itu. Sebab jangan sampai saat seseorang tidur, maka ia tidur bersama dengan
anak-anak jin.
Kelima, jangan tidur tengkurap. Abu Dzar ra
menuturkan, "Nabi
Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang
berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda, "Wahai Junaidab (panggilan Abu
Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya
penghuni neraka." (HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih
oleh Al-Albani).
Nauzubillah,
sadarlah kita, ternyata tidur tengkurap itu adalah bentuk tidurnya ahli nar
(penghuni neraka). Semoga Allah Ta’ala memaafkan kesalahan kita bila selama ini
tidur tengkurap dengan sengaja.
Keenam, makruh tidur di
atas dak terbuka, karena di dalam hadis yang bersumber dari `Ali bin Syaiban
disebutkan bahwasanya Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam telah bersabda, "Siapa yang tidur malam di atas
atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya."
(HR. Al-Bukhari di dalam
al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
Siapa yang
akan menjamin jika ia terjatuh dari atas karena tidur di atap rumahnya? Ada orang
yang saat tidur, ia bisa membolak balik badannya ke sana kemari. Dikhawatirkan saat
ia membolak balikkan badannya, ia terjatuh lalu meninggal dunia. Inilah mengapa
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya melalui hadis di atas.
Ketujuh, menutup pintu, jendela dan
memadamkan api juga lampu sebelum tidur. Dari Jabir ra diriwayatkan bahwa
sesungguhnya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam telah bersabda,
"Padamkanlah
lampu di malam hari apabila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah
rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman.” (Muttafaq'alaih).
Betapa
indahnya anjuran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Hingga bejana-bejana
yang belum tertutup pun dianjurkan agar segera ditutup jika akan tidur. Termasuk,
lampu yang menyala juga agar dimatikan sebelum tidur. Lampu yang menyala di
sini adalah lampu di kamar tidur kita atau dimana tempat kita tidur.
Kedelapan, jangan lupa bacalah ayat
Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan
Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits shahih yang
menganjurkan hal tersebut.
Hal ini berdasarkan hadis tentang kisah Abu Hurairah
Radhiallahu'anhu yang diajari oleh syaithon tentang ayat kursi bahwa membaca
Ayat Kursi sebelum tidur adalah upaya agar terhindar dari kejahatannya. Di ahir
hadis itu syaithon berkata, "Jika engkau membacanya, maka Allah
senantiasa akan menjagamu dan syaithon tidak akan mendekatimu hingga
pagi." (HR. Al-Bukhariy - Fathul Baarii 4/487).
Kesembilan, membaca do`a-do`a dan dzikir yang
keterangannya shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti: “Allaahumma
qinii yauma tab'atsu 'ibaadaka” "Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu
pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu." Dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh
Al Albani).
Dan juga
membaca: “Bismika
Allahumma Amuutu Wa ahya” "Dengan
menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup." (HR. Al Bukhari).
Kesepuluh, bila di saat tidur merasa kaget
atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a
dengan do`a berikut ini:
"A'uudzu
bikalimaatillaahit taammati min ghadhabihi Wa syarri 'ibaadihi, wa min
hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuna." “Aku berlindung dengan Kalimatullah
yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan
dan kehadiran mereka kepadaku."
(HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani)
Kesebelas, hendaknya bila bangun tidur membaca: "Alhamdu Lillahilladzii Ahyaanaa
ba'da maa Amaatanaa wa ilaihinnusyuuru" "Segala puji bagi Allah yang
telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami
dikembalikan." (HR. Al-Bukhari).
Demikian beberapa adab yang sejatinya bisa diamalkan oleh
setiap muslim sebelum tidur dan setelah bangun tidur. Tidur akan menjadi ibadah.
Berpahala dan menyehatkan jika adab-adab yang di ajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam di atas bisa diamalkan, insya Allah. (minanews.net)


0 Komentar