Oleh Aliansyah Jumbawuya*
Tsaqofah.com - Ulama diidentikkan
sebagai orang yang berilmu agama luas, saleh, berakhlak mulia, dan bijaksana.
Karena itu, pemikirannya sering dijadikan rujukan umat. Wajar jika banyak orang
yang datang kepadanya berkonsultasi masalah hukum fiqih, amaliah keseharian,
dan sebagainya.
Namun, tidak setiap saat
ulama bisa menyediakan diri untuk meladeni dan menjawab berbagai problem yang
dihadapi umat. Mereka juga harus mengalokasikan waktu buat keluarga serta
hal-hal yang sifatnya pribadi. Sementara di sisi lain, kebutuhan umat untuk
mendapatkan pencerahan atau solusi keagamaan kadang sangat mendesak.
Maka, untuk
mensiasatinya, kenapa ulama tidak menulis saja? Dengan begitu, satu kali kerja
sekian ratus bahkan ribu orang terlayani. Sebab, banyak individu yang punya
kepentingan sama. Misalnya, hari ini ulama dalam tulisannya mengulas tentang
hukum mengecat rambut berwarna-warni, menato kulit, atau menyuntikkan silikon
ke organ tubuh ditinjau dari kacamata Islam. Pihak terkait bukan kalangan
remaja saja, para orangtua pun perlu tahu agar bisa bersikap tegas ketika
menemukan anak mereka berprilaku demikian.
Hal ini menegaskan
betapa efektifnya tulisan menjangkau khalayak luas. Bahkan bisa dibaca
berulang-ulang kapan dan dimana pun, sehingga kadar pemahaman terhadap
permasalahan yang dimaksud melekat kuat, tidak mudah lupa.
Persoalannya, sudahkah
ulama kita, terutama yang di banua Banjar, rajin menulis?
Dulu Serambi UmmaH pernah
menyediakan rubrik sari khutbah. Para khatib dimintai secara bergantian tulisan
mereka yang akan dibacakan pada khutbah Jumat berikut. Fakta di lapangan
sebagian memang ada yang sanggup memenuhi target, menyerahkan tulisan hari Rabu
sesuai deadline.
Namun, justru lebih banyak yang tidak sebagaimana diharapkan. Ketika dihubungi
si ulama mengaku belum menyiapkan teks yang dijanjikan. Akibatnya, karena sudah
kepepet disiasati dengan model wawancara. Si bersangkutan ngomong, wartawan
yang menuliskan.
Rupanya budaya menulis,
tanpa bermaksud meng-generalisasi, di kalangan ulama kita masih tipis.
Buktinya, tidak jarang isi khutbah yang Jumat ini dibacakan di masjid A, nanti
diulang lagi di masjid B, C, D, dan seterusnya. Artinya, dalam sebulan dari
jadwal dia menjadi khatib, teks yang dibaca ya itu-itu saja. Masih mendingan
kalau tulisan tersebut hasil karya sendiri, sebab pernah kejadian ketika
dimintai teks khutbah si ulama menyerahkan lembaran fotocopi yang dicomot dari
buku kumpulan khutbah. Ternyata apa yang dia sampaikan di depan jamaah Jumat
selama ini bukan hasil pemikiran dia, tapi mencuplik total tulisan orang lain.
Sungguh, betapa memprihatinkan kenyataan ini!
Seorang sahabat — saya
lebih senang menyebutnya ‘Mr Lebah’ karena kata-kata yang dia lontarkan sering
menyengat, tapi jika dikaji lebih dalam justru mampu menghasilkan ‘madu’ sebab
menggugah orang untuk memperbaiki kualitas diri — ketika memberikan motivasi
penulisan, mengaku punya 200 lebih buku tentang Rasulullah. Sayang, sesalnya,
sebagian besar adalah karya terjemahan.
“Lalu, apa saja yang
dilakukan kiai-kiai kita di pesantren, sehingga tulisan mereka tidak terlihat?
Padahal, kita punya ulama panutan Syekh Arsyad Al Banjari, yang selain
berdakwah secara lisan juga rajin menulis,” gugatnya dengan nada menohok.
Agaknya statement ini
patut menjadi renungan kita bersama.
Potensi Dahsyat
Dalih yang paling sering
dikemukakan kenapa ulama kita tidak sempat lagi menulis, karena mereka
disibukkan oleh mengisi undangan ceramah di mana-mana. Tak dipungkiri, bahwa
memberi ceramah itu memang penting dan kontribusinya bagi umat cukup besar.
Namun, alangkah baiknya jika dibarengi pula dengan menulis. Sebab, ulama-ulama
dulu pun tak kalah sibuknya, toh mereka masih bisa meluangkan waktu berdakwah
menggunakan goresan pena.
Imam Malik setiap hari
membuka majelis ilmu. Muridnya ribuan orang dari berbagai penjuru. Saking
banyak yang belajar padanya, untuk memudahkan maka tiap hari dibagi beberapa
sesi, sesuai dengan bidang kajian yang hendak diperdalam. Berarti jadwalnya
memberi pengajian sangat padat. Kendati demikian, nyatanya Imam Malik masih
sempat menulis. Padahal waktu itu fasilitas serba terbatas, belum ada listrik
apalagi komputer dan laptop. Buktinya, beliau mampu produktif menulis.
Dalam buku Seratus Muslim Terkemuka
karya Jamil Ahmad disebutkan rata-rata ulama dahulu tak hanya fasih berceramah,
juga piawai menulis. Bahkan, saking tingginya dedikasi mereka untuk mewariskan
ilmu kepada generasi berikut, di antaranya ada yang menulis sambil menunggang
kuda. Bandingkan dengan kita sekarang, punya waktu luang saja sering
disia-siakan.
Saya sering
membayangkan, di Kalsel ini kita punya masjid sekitar 3.000 buah. Berarti tiap
Jumat ada 3.000 khatib yang naik mimbar, dan tentu membawa teks khotbah. Andai
tiap 30 buah tulisan dikumpulkan, kemudian dicetak, hitungannya dalam seminggu
kita menghasilkan 100 buku. Kali 48 minggu, berarti 4.800 jilid dalam setahun.
Wooww!!! Betapa dahsyatnya potensi ilmu yang dimiliki umat Islam jika
benar-benar diberdayakan. Itu baru dari teks khotbah, belum lagi yang lain.
Tapi, persoalannya
seberapa banyak ulama kita yang rajin menulis, walau seminggu sekadar
menghasilkan satu tulisan? Apalagi yang mau mengangkat topik tulisan sesuai
dengan aktualitas yang tengah berkembang di masyarakat, sehingga bisa jadi
penyejuk atas kegelisahan umat. Belum lagi kalau bicara tentang kualitas
tulisan.
Saya pernah ngobrol
dengan seorang mubaligh, dia bilang kalau diminta ceramah mendadak di depan
jamaah, tiga jam pun sanggup menguraikan materi keagamaan. Tapi kalau diminta
menulis tiga halaman kuarto saja, katanya, susah bukan main.
Padahal semua orang
memiliki potensi besar untuk menjadi penulis. Karena menulis itu sekadar
mentransfer pikiran ke dalam bentuk tulisan. Terlebih bagi ulama, yang kita
tahu adalah gudangnya ilmu. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan untuk ‘pelit’
menulis.
Seorang Yahudi pernah
bilang: “Kami tak akan pernah takut pada umat Islam selama mereka masih tidak
suka membaca dan menulis.
”
Nah, apa tidak panas
kuping. Mestinya mendengar pernyataan tersebut kita terlecut untuk menghidupkan
kembali tradisi baca-tulis di kalangan Islam. Ingat, kita hanya akan bisa
mencapai kebangkitan apabila dimulai dengan revolusi mental. Salah satu caranya
ialah tumbuhkan kecintaan masyarakat pada ilmu — dan itu harus didukung oleh
budaya membaca dan menulis.
Lihatlah, Paus
Benidiktus XVI setelah menjalin kerjasama dengan Apple untuk aplikasi doa pada
iPhone, kini kembali merangkul Google agar membuatkan kanal khusus di layanan
YouTube dalam upaya menyebarkan isi khutbahnya. Vatikan begitu gencar
memanfaatkan teknologi, sementara kita menulis saja masih dianggap sebagai
problem.
Sekali lagi, ini patut
jadi renungan kita bersama.
*Sastrawan Kalsel


0 Komentar