Oleh Arenga Pinata*
Sombong, bisa
hinggap kepada siapa saja. Tak perduli orang awam, alim, dosen, doktor,
professor, ustad, ulama atau pun kiai. Sombong atau yang sering kita kenal
dengan istilah kibr, takabur dan istikbar, ketiganya hampir semakna, merupakan suatu
kondisi dimana seseorang merasa lain dari yang lain (dengan keadaan tersebut)
sebagai pengaruh i’jab (kebanggaan) terhadap
diri sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya lebih
tinggi dan besar daripada selainnya.
Orang sombong, maka
dia merasa segala bisa. Tak ada seorang pun yang mampu menyamainya. Ia akan
kecewa, sakit hati dan marah jika ada orang lain yang melebihinya dalam segala
bidang. Selain itu, orang sombong adalah orang yang terkumpul padanya segala
macam sifat buruk. Karena itu, orang yang sombong di mata Allah Swt kelak akan
ditempatkan di tempat "terbaik" yakni neraka !
Tidak akan berlaku
sombong, kecuali orang yang merasa dirinya besar dan tinggi, dan ia tidak
merasa tinggi atau besar, kecuali karena adanya keyakinan, bahwa dirinya
memiliki keunggulan, kelebihan dan kesempurnaan yang dengannya ia menganggap
berbeda dengan orang lain.
Ada beberapa sebab
yang mendorong seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain,
sehingga melahirkan kesombongan dalam jiwa, yaitu:
Pertama, SOMBONG KARENA ILMU
Ada sebagian thalib ilmu atau
orang yang diberi pengetahuan oleh Allah, malah justru menjadikan dirinya
sombong. Ia merasa dirinya yang paling pandai (alim), menganggap rendah orang
lain, menganggap bodoh mereka dan selalu ingin agar dirinya mendapatkan
penghormatan, pelayanan dan fasilitas khusus dari mereka (umat). Dia memandang,
bahwa dirinya lebih mulia, tinggi dan utama di sisi Allah daripada mereka.
Biasanya, ada dua
faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sombong dengan ilmunya antara
lain; pertama, ia mencurahkan perhatian terhadap apa yang ia
anggap sebagai ilmu, padahal hakikatnya ia bukan ilmu. Ia tak lebih sebagai
data atau informasi yang direkam dalam otak yang tidak memberikan buah dan
hasil, karena ilmu yang sesungguhnya akan membuat seseorang semakin kenal siapa
dirinya dan siapa Rabbnya.
Ilmu yang hakiki
akan melahirkan sikap khosyah (takut
kepada Allah) dan tawadhu’ (rendah hati), bukan
sombong, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala,
إِنَّمَا يَخْشَى
اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَائُوْا، إِنَّ اللهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ .٢٨
“Sesungguhnya yang takut kepada
Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir
: 28).
Kedua, Al-khoudl fil ilm yaitu belajar dengan tujuan agar
dapat berbicara banyak, berdebat dan menjatuhkan orang dengan kepiawaian yang
dimilikinya, sehingga orang menilainya sebagai orang alim yang tak terkalahkan
karena ilmu yang dimilikinya. Orang semacam ini selayaknya lebih dulu memperbaiki
hati dan jiwa, membersihkan dan menatanya, sehingga tujuan dalam mencari ilmu
menjadi benar dan lurus.
Karena sekali lagi
yang menjadi ciri khas dari sebuah ilmu adalah ia menjadikan pemiliknya
bertambah takut kepada Allah dan tawadhu’ terhadap sesama manusia. Ibarat pohon
tatkala banyak buahnya, maka ia semakin merunduk dan merendah, sehingga orang
akan lebih mudah mendapatkan kebaikan dan manfaat darinya.
Orang, bila senang
mengumbar omongan, berbantah-bantahan dan debat kusir, maka ilmunya justru akan
melemparkannya kepada kedudukan yang rendah dan pengetahuan yang dimilikinya
tidak akan membuahkan hasil yang baik, sehingga keberkahan ilmu tidak tampak
sama sekali.
Kedua, SOMBONG KARENA AMAL IBADAH
Kesombongan ahli
ibadah dari segi keduniaan adalah ia menghendaki, atau paling tidak membuat
kesan, agar orang lain menganggapnya sebagai orang yang zuhud, wara’, taqwa dan
paling mulia di hadapan manusia. Sedangkan dari segi agama adalah ia memandang,
bahwa orang lain akan masuk neraka, sedang dia selamat darinya.
Sebagian ahli
ibadah bila ada orang lain yang membuatnya jengkel atau merendahkannya, maka
kadang dia mengeluarkan ucapan, “Allah tidak akan mengampunimu atau, “Kamu
pasti masuk neraka” dan yang sejenisnya. Padahal ucapan sumpah serapah semacam itu
sangat dimurkai Allah, bahkan bisa jadi malah justru dapat menjerumuskannya ke
dalam neraka, nauzubillah min dzalik.
Ketiga, SOMBONG KARENA KETURUNAN (Nasab)
Siapa yang
mendapati kesombongan dalam hati karena nasabnya, maka hendaknya ia segera
mengobati hatinya itu. Jika seseorang akan mencari nasabnya, maka perhatikan
firman Allah ini, “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya
dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan
keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” (QS. 32:7-8)
Inilah nasab
manusia yang sebenarnya, kakeknya yang terjauh adalah tanah, dan nasabnya yang
terdekat adalahnuthfah alias air mani. Jika
demikian keadaannya, laku bagaimana mungkin manusia merasa sombong dan tinggi
dengan nasabnya? Bukankah nasabnya yang terjauh diciptakan dari tanah?
Sementara nasabnya yang terdekat diciptakan dari air mani yang hina dina?
Sungguh tak tahu diri bila masih ada orang yang sombong dengan keturunannya.
Keempat, SOMBONG KARENA KECANTIKAN/KETAMPANAN
Ada juga
orang yang sombong karena merasa cantik/tampan. Kesombongan seperti ini banyak
terjadi di kalangan para wanita, yaitu dengan menyebut-nyebut kekurangan orang
lain, menggunjing dan membicarakan aib sesama. Seharusnya orang yang sombong
dengan kecantikannya ini banyak melihat ke dalam hatinya. Untuk apa anggota
tubuh yang indah, namun hati dan perangainya buruk, padahal tubuh secantik apa
pun pasti akan binasa, hancur dan hilang tak berbekas.
Belum lagi kalau
orang mau merenungi, selagi masih hidup, maka mungkin saja Allah berkehendak
mengubah kecantikan atau ketampanannya, misalnya ia mengalami kecelakaan, sakit
kulit, kebakaran dan lain sebagainya, yang bisa menjadikan rupa yang cantik
menjadi buruk. Maka dengan kesadaran seperti ini, insya Allah rasa sombong yang
ada dalam hati akan terkikis dan bahkan tercabut hingga ke akar-akarnya.
Kelima, SOMBONG KARENA HARTA
Sebagaimana diketahui, orang
yang sombong karena hartanya sebenarnya dia adalah orang yang bodoh, dungu dan
tak berakal. Ia tak sadar setiap manusia yang terlahir ke dunia ini tak membawa
benang sehelai pun. Lalu, karena kemahabesaran Allah semata dia diberi pakaian
dan akal yang sehat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Orang yang sombong
karena merasa banyak harta biasanya senang memandang rendah orang fakir dan
sering membenci mereka. Ini disebabkan harta yang dimilikinya,
perusahaan-perusahaan yang banyak, tanah dan bangunan, kendaraan mewah,
perhiasan dan lain sebagainya. Kesombongan karena harta termasuk kesombongan
karena faktor luar, dalam arti bukan merupakan potensi pribadi orang yang
bersangkutan. Berbeda dengan ilmu, amal, kecantikan atau nasab, sehingga bila
harta itu hilang, maka ia akan menjadi hina sehina-hinanya.
Keenam, SOMBONG KARENA KEKUATAN DAN KEGAGAHAN
Orang yang
mendapatkan karunia seperti ini hendaknya menyadari, bahwa kekuatan adalah
milik Allah seluruhnya. Hendaknya selalu ingat, bahwa dengan sedikit sakit saja
akan membuat badan tidak enak, istirahat tidak tenang. Kalau Allah menghendaki,
seekor nyamuk pun dapat membuat seseorang sakit dan bahkan hingga menemui
ajalnya.
Orang yang mau
memikirkan ini semua, yaitu sakit dan kematian yang bisa datang kapan saja dan
kepada siapa saja, maka sudah sepantasanya tidak angkuh dan takabur dengan
kekuatan dan kesehatan badannya.
Ketujuh, SOMBONG KARENA BANYAKNYA KELUARGA, KERABAT ATAU PENGIKUT
Kesombongan jenis ini juga merupakan kesombongan yang disebabkan faktor luar,
bukan karena kelebihan yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Setiap orang yang
sombong karena sesuatu yang bukan dari kelebihan dan keunggulan dirinya
sendiri, maka dia adalah sebodoh-bodoh manusia. Bagaimana mungkin ia sombong
dengan sesuatu yang bukan merupakan kelebihan dirinya?
Pengaruh Sombong
Kesombongan
memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan, dan pengaruh-pengaruh
tersebut tampak dalam gerak-gerik anggota badan, cara berjalan, berdiri, duduk,
berbicara dan bahkan diamnya seseorang. Di antara pengaruh-pengaruh yang tampak
dari sikap kesombongan adalah:
Orang yang
sombong, jika ia mau berjalan bersama-sama orang lain, maka ia selalu minta
paling depandan semua orang harus ada di belakangnya. Konon Abdur
Rahman bin Aufz, kalau sedang berjalan bersama para pembantunya, maka tidak
ketahuan ada disebelah mana, ia tidak pernah menonjolkan diri harus berada
paling depan supaya semua orang melihatnya.
Orang sombong jika berada di suatu majlis, biasanya minta diistimewakan,
diperlakukan lain daripada yang lain. Kemudian ia akan sangat senang kalau
semua orang mendengarkan yang ia katakan dan sangat benci kalau ada orang lain
mengalihkan pembicaraan kepada selainnya. Maunya semua orang harus membenarkan
dan menerima apa yang ia katakan.
Termasuk pengaruh
sifat sombong adalah memalingkan muka dari sesama
muslim, atau melihat dengan pandangan sinis dan merendahkan.
Kesombongan juga berpengaruh bagi seseorang dalam ucapan, gaya bicara dan nada
intonasinya. Bahkan terkadang mencerminkan ketidaksopanan, misalnya seorang
murid atau mahasiswa menghardik gurunya, karena ia merasa anak seorang pejabat
atau tokoh.
Kesombongan juga
akan mempengaruhi gaya jalan seseorang, misalnya sambil
membusungkan dadanya, atau berjalan dengan dibuat-buat agar menarik perhatian
orang lain. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman,
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ
مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
“Dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat
menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al Isra: 37).
Kesombongan
juga berpengaruh di dalam kehidupan rumah tangga. Biasanya
orang yang dalam hatinya ada kesombongan akan enggan mengerjakan pekerjaan
rumah, walau hanya sepele. Hal ini berbeda dengan sikap tawadhu’ yang diajarkan
oleh Rasulullah Salallahu alaihi wa salam. Aisyah radiallahuanha meriwayatkan,
bahwa Rasul Allah Subhannahu wa Ta'ala biasa membantu istri beliau.
Merupakan pengaruh
kesombongan juga, bahwasanya ia membuat seseorang enggan membawakan barang atau sesuatu ke rumahnya,
meskipun bukan hal yang berat, misalnya saja barang belanjaan. Ali berkata,
“Seseorang tidak akan berkurang kesempurnaannya dengan membawakan sesuatu untuk
keluarganya.”
Kesombongan
juga mempengaruhi gaya berpakaian seseorang, yaitu ia
berpakaian dengan tujuan pamer dan supaya terkenal, atau dengan pakaian yang
melanggar ketentuan syar’i, seperti isbal (memanjangkan celana di bawah mata
kaki) bagi laki-laki.
Orang yang sombong
biasanya sangat senang apabila ia datang, lalu orang-orang berdiri untuk
menghormatnya. Padahal para shahabat bila datang Rasulullahsaw
kepada mereka, maka mereka tidak berdiri untuk beliau, hal ini dikarenakan
mereka tahu, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membenci hal itu.
Orang yang dalam
hatinya ada kesombongan tidak akan mau mengunjungi
orang lain, tidak mau mengucapkan salam lebih dahulu, minta supaya
diprioritaskan dan tidak mau mendahulukan kepentingan orang lain.
Kesombongan juga
akan mengakibatkan seseorang tidak memandang adanya hak
orang lain pada dirinya. Sementara itu ia beranggapan, bahwa ia
memiliki hak yang banyak atas selainnya. Jika demikian, apa yang harus kita
sombongkan di muka bumi ini ? Bukankah kita berasal dari setetes air yang keji
? Semoga Allah yang maha perkasa selalu menjaga hati kita dari sifat sombong. Wallahua’lam. (tsaqofah.com)
*Penulis lepas, menetap di Majalengka






0 Komentar