Oleh Arenga Pinata*
Tsaqofah.com - Sejatinya, al Quran dan as Sunnah adalah pedoman utama
dalam kehidupan seorang muslim. Dalam kenyataannya, tidak sedikit muslim yang
secara lisan mengakui keduanya adalah pedoman hidup, tapi dalam praktek
keseharian berapakah umat Islam yang berusaha benar-benar menjadikan al Quran
dan as Sunnah sebagai pegangan menjalani kehidupan?
Islam adalah dienullah (agama Allah). Kesempurnaannya
mengalahkan agama manapun, dan itulah pengakuan langsung dari Allah Sang Maha
Pencipta. Islam adalah kumpulan syariat yang tertuang dalam sebuah kitab
bernama al Quran nan mulia. Untuk menyempurnakan syariat Islam, maka Allah
Ta’ala mengutus seorang Rasul bernama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dari Nabi yang berbudi agung itulah lahir as Sunnah yang hingga hari ini
menjadi pedoman kedua setelah al Quran.
Umat Islam ini akan kembali berjaya layaknya kejayaan di
masa para sahabat, jika senantiasa berusaha bersungguh-sungguh menggali,
mempelajari, mengamalkan dan menyebarkan ajaran dari al Quran dan as Sunnah.
Sebaliknya, umat mulia ini akan terus terpuruk, hina dan nista bila al Quran
dan as Sunnah ditinggalkan. Sementara akal dan hawa nafsunya yang dikedepankan.
Jangan pernah bermimpi Islam ini akan terus berjaya dan
terjaga, bila hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan bahkan tahun
demi tahun umat Islam ini meninggalkan sunnah satu demi satu. Sunnah seolah
asing padahal ia adalah umat Islam. Namun, ketika ada sebagian orang yang
berusaha mengamalkan sunnah-sunnah yang kini terasing itu, orang-orang yang
tidak berilmu malah mencibirnya.
Tentang Islam ini akan punah bila umat satu demi satu
meninggalkan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah disampaikan
oleh ‘Abdullah Ad-Dailamiy yang berkata,
“Sesungguhnya pertama kali hilangnya agama (Islam) adalah dengan
ditinggalkannya sunnah. Agama ini akan hilang sesunnah demi sesunnah
sebagaimana lepasnya tali seutas demi seutas.” (Al-Lalika`iy
1/93 no.127, Ad-Darimiy 1/58 no.97 dan Ibnu Wadhdhah di dalam
Al-Bida’ wan Nahyu ‘anha:73, lihat Lammud Duril Mantsuur minal Qaulil
Ma`tsuur hal.21)
Sebagai muslim yang terus berusaha memperbaiki diri
dengan menambah ilmu dan amal shalih, tentu kita tidak ingin Islam ini sirna
dari muka bumi semisal sirnanya debu yang dihempas air hujan. Karena itu sudah
menjadi kewajiban sekaligus kebutuhan bagi setiap muslim menghidupkan
sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang kini mulai dilupakan.
Mari berlomba dalam kebaikan untuk menjadi penjaga
sunnah-sunnahnya agar Islam ini tetap utuh dan terjaga hingga dunia kiamat. Mari
bersama amalkan sunnah-sunnahnya agar masyarakat luas pun ikut mengamalkan
sunnah-sunnah yang mulai terlupakan dan dilupakan itu.
Memang rasanya tidak mungkin kita bisa mengamalkan
sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam secara sempurna layaknya para sahabat.
Namun setidaknya, kita senantiasa berusaha menjaga semangat untuk terus
mengamalkan yang sudah difahami dari sumber aslinya dan terus berusaha menggali
sunnah-sunnah lainnya yang belum diamalkan.
Meskipun amalan tersebut hukumnya mustahab (tidak
wajib), tetap jangan sampai ditinggalkan. Semaksimal mungkin berusaha
mengamalkannya seraya meminta
pertolongan kepada Allah. Sebab yang namanya mustahab itu bukan berarti untuk
ditinggalkan, sebaliknya dianjurkan untuk diamalkan.
Setidaknya ada beberapa sunnah yang telah diajarkan oleh
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berupa do’a ataupun amalan lain yang mulai
dilupakan oleh sebagian kaum muslimin. Atau sengaja terlupakan karena kesibukan
yang terus-menerus tiada henti. Seperti tidak ada waktu saja untuk mempelajari
sunnah dan mengamalkannya.
Di antara sunnah berupa do’a dan dzikir yang terlupakan
dan bisa jadi dilupakan itu antara lain sebagai berikut.
Pertama, do’a
memakai baju/pakaian. Inilah salah satu sunnah yang sering kali terlupakan.
Yakni berdoa untuk memakai baju dengan doa,
الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا (الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ
مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang telah
memakaikan kepadaku pakaian ini dan yang telah memberikan rizki pakaian ini
kepadaku tanpa ada daya dan kekuatan dariku.” (HR. Abu Dawud,
At-Tirmidziy dan Ibnu Majah, lihat Irwaa`ul Ghaliil 7/47).
Kedua, do’a memakai baju
baru. Ketika memakai baju/pakaian yang baru maka disunnahkan untuk membaca,
اللَّهُمَّ
لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا
صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ
“Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu.
Engkau telah memakaikan pakaian ini kepadaku. Aku meminta kepada-Mu akan
kebaikannya dan kebaikan yang dibuat untuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu
dari kejelekannya dan kejelekan yang dibuat untuknya.”
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidziy dan Al-Baghawiy, lihat Mukhtashar Syamaa`il
At-Tirmidziy karya Asy-Syaikh Al-Albaniy hal.47)
Ketiga, mendo’akan orang
yang Memakai Baju Baru. Apabila kita melihat orang lain, saudara ataupun teman
kita memakai baju baru, maka disunnahkan bagi kita untuk mendo’akannya. Adapun
do’anya adalah:
تُبْلِي
وَيُخْلِفُ اللهُ تَعَالَى
“Semoga berumur panjang, dipakai sampai
usang dan diganti dengan yang lebih baik oleh Allah Ta’ala.”
(HR. Abu Dawud 4/41, lihat Shahih Abu Dawud 2/760)
Atau membaca,
اِلْبَسْ
جَدِيْدًا، وَعِشْ حَمِيْدًا، وَمُتْ شَهِيْدًا
“Pakailah (pakaian) yang baru, hiduplah
dengan terpuji, dan matilah sebagai orang yang syahid.”
(HR. Ibnu Majah 2/1178 dan Al-Baghawiy 12/41, lihat Shahih Ibnu Majah 2/275)
Keempat,
do’a ketika melepas baju. Bila kita melepas baju/pakaian, hendaklah kita
membaca,
بِسْمِ
اللهِ
“Dengan nama Allah.”
(HR. At-Tirmidziy 2/505 dan lainnya, lihat Irwaa`ul Ghaliil no.49 dan
Shahiihul Jaami’ 3/203)
Kelima, do’a masuk WC. Do’a
masuk WC atau kamar mandi dan tempat-tempat sejenisnya dibaca sebelum masuk.
Karena kita dilarang membaca Al-Qur`an, berdzikir, berdo’a atau membaca Asma`ul
Husna di tempat yang kotor dan najis seperti WC.
Bila kita akan masuk WC atau kamar mandi, maka
ucapkanlah:
بِسْمِ
اللهِ اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya
aku berlindung kepada-Mu dari (gangguan) syaithan laki-laki dan syaithan
perempuan.” (HR. Al-Bukhariy 1/45 dan Muslim 1/283, dan
tambahan basmalah di awalnya, itu diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, lihat
Fathul Baari 1/244)
Keenam, do’a keluar dari
WC. Bila kita telah keluar dari WC atau kamar mandi, maka disunnahkan untuk
membaca:
غُفْرَانَكَ
“(Aku memohon) ampunan-Mu.” (HR.
Abu Dawud, At-Tirmidziy dan Ibnu Majah, An-Nasa`iy di dalam ‘Amalul Yaum wal
Lailah, lihat takhrij Zaadul Ma’aad 2/387)
Ketujuh, dzikir
sebelum wudhu`. Bila kita mau berwudhu` maka bacalah,
بِسْمِ
اللهِ
“Dengan nama Allah.”
(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad, lihat Irwaa`ul Ghaliil 1/122)
Kedelapan, dzikir
setelah selesai wudhu`. Bila selesai dari wudhu`, maka disunnahkan untuk
membaca:
أَشْهَدُ
أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan
yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
(HR. Muslim 1/209)
Atau ditambah dengan membaca:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ،
وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang
bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang selalu bersuci.” (HR.
At-Tirmidziy 1/78, lihat Shahih At-Tirmidziy 1/18)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan
keutamaannya, “Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu` lalu menyempurnakan
wudhu`nya kemudian mengucapkan, “Aku bersaksi … .” kecuali akan dibukakan
untuknya delapan pintu surga, dia akan masuk dari pintu manapun yang dia
sukai.” (HR. Muslim 1/209). (tsaqofah.com)
*Penulis lepas di beberapa media


0 Komentar