Elan Suherlan
Tsaqofah.com, Bogor - Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak
akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi
Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui
orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash:28: 56).
Merantau ke Tangerang
Elan Suherlan, itu nama lengkapnya. Menikah
pada Juni, 1989. Ia mengawali kehidupan rumah tangganya dengan kedangkalan ilmu agama. Sulitnya
mencari pekerjaan, membuat Elan begitu sapaannya, sering pindah kerja dari satu
tempat ke tempat kerja yang lain. Sekitar tahun 1990, layaknya kebanyakan orang di kampung yang
merantau ke kota, ia pun ingin merantau dari Cikasarung
kampongnya di
Majalengka menuju Tangerang.
Di perantauan
itu, ia berharap dapat
merubah nasib dalam mencari rezeki demi menafkahi keluarga kecilnya.
“Alhamdulillah ada paman istri di sana
(Tangerang), dan saya kerja di bandara jadi tukang potong rumput, tapi alhamdulillah
bisa menghidupi dan memenuhi kebutuhan keluarga,” ungkapnya sambil tertawa
renyah.
Saat itu, Elan baru mempunyai seorang anak berusia sekitar 3 tahun. Kemudian ia memutuskan
membawa anak dan istrinya ke tempat perantauan. Di sanalah liku-liku perjuangan
hidup mulai ia rasakan. Rupanya, ia tak bertahan lama bekerja sebagai pemotong
rumput, karena ada
pengurangan tenaga kerja, termasuk dia salah satunya. Akhirnya, Elan pindah ke tempat kerja lain di
Hanggar. Tak lama, ia pun pindah ke baikan maintenance (perbaikan). Namun
sayang, pekerjaan itu pun tak lama ia tekuni. Lewat seorang teman, ia ditawari
bekerja di pabrik sepatu Nike. Sekitar 9 tahun ia habiskan bekerja di pabrik
sepatu itu.
Menjadi Pegawai Bank
Mendapat pekerjaan mapan dengan gaji besar
adalah impian semua orang. Pada tahun 2005, Elan diterima menjadi karyawan di
salah satu perusahaan Bank di Jakarta. Tak pikir panjang dan memang belum
dibekali ilmu agama yang dalam mengenai syariat Islam, iapun bekerja di sana.
“Waktu masuk kerja di Bank, jujur waktu itu saya masih awam sekali ilmu agama, masih dangkal pemahaman tentang syariat Islam, masih gelap dengan aturan-aturan
syariat,” ungkapnya sore itu.
Selama 12 tahun bekerja di Bank. Waktu demi
waktu, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan
tahun-tahunpun berlalu.
Di dalam masa itu, bapak 4 orang anak itu merasakan suatu perasaan yang sangat
mengganggu, tidak ada ketenangan dalam hatinya. Mungkin sudah menjadi fitrah
manusia yang selalu menentang keburukan dan menerima kebaikan.
Terlebih saat ujian demi ujian menghampiri
keluarganya, seperti sakit yang tak kunjung hilang. Mulai dari istrinya, lalu anak-anaknya yang sering
sekali keluar masuk rumah sakit. Sampai-sampai salah satu rumah sakit hafal
dengan keluarganya. Sudah tak terhitung berapa kali dirawat dan berapa banyak
biaya yang dikeluarkan. Ujian terbesar adalah saat anaknya ketiganya terkena musibah tabrakan ketika akan
mengantar istrinya ke rumah sakit. Tersentak dan tersadar dengan teguran dari
Allah, mungkinkah ada yang salah dengan pola hidup yang ia jalani selama ini?
Keinginannya untuk keluar dari bankpun semakin mantap setelah mendengar tausyiah
dari para ustad tentang ribanya bekerja di Bank. Memang tak mudah perjuangan untuk keuar
dari perusahaan seperti Bank. Jika keluar begitu saja secara adsministrasi
mudah, tapi ada hal-hal lain dan banyak sekali
prosedur yang harus dilewati. Elan lalu mengajukan surat pengunduran diri pada Januari 2017
dan baru terlaksana pada Januari 2018 dengan perjuangan panjang selama setahun.
Bersama istri tercinta, Noer Aini
“Semuanya Allah yang punya kuasa jadi kita
berusaha dan jalani dulu apa adanya. Keinginan untuk keluar udah lama, tapi
karena saya merasa tidak punya keterampilan lain selain pekerjaan ini jadi ya
jalani aja dan masih berpegang dibawah pendapat ulama yang membolehkan dengan
pekerjaan ini. Tapi, lama kelamaan setelah saya sering mendengar tausyiah Imaam, para ustad dan dari siapapun yang
memberikan pengetahuan kepada saya, jadi semakin mantap keinganan untuk resign,” ungkapnya.
Jika hanya berfikir mengejar dunia, baginya pekerjaannya
sangat enak. Kerja santai, gaji lumayan besar per bulannya, belum lagi bonus-bonus lain,
THR 2 x dalam setahun, dan sering terbang keluar
kota gratis. Bahkan ia mau dipromosikan jabatannya dan diimingi gaji yang jauh lebih besar. Begitupun atasan dan teman-teman
kerjanya sangat menyayangkan jika ia keluar. Namun, kekuatan hati dan tekadnya
sudah bulat ingin hijrah ke jalan yang lebih baik, mencari rezeki halal dengan
meninggalkan pekerjaannya di Bank.
“Bismillah, saat ini saya husnudzon aja
sama Allah, minta yang terbaik walaupun belum kepikiran mau usaha apa, tapi
alhamdulillah bersyukur bisa keluar. Ada sih bisnis di kampung yang
mengelola adik, mudah-mudahan lancar,” katanya.
Tujuan utamanya adalah benar-benar ingin
merubah pola hidup dari hal-hal yang tidak halal. Demi keluarga tercintanya ia
ingin memulai semuanya dari poin nol, dimudahkan dalam mencari rezeki yang
lebih baik.
“Kalau kita tidak ada tekad dan keinginan untuk
merubah diri sendiri ya sampai kapanpun tidak akan
bisa berubah,” lanjutnya.
Awal Hidayah Itu Menyapa
Hidayah hanyalah milik Allah, tidak ada
seorangpun yang mampu mendapat hidayah tanpa kehendakNya. Begitu pula yang
dirasakan oleh Elan dan keluarganya. Berawal dari kehidupan yang belum menentu. Mulai
saat di Tangerang tinggal di beberapa tempat, kemudian di Serang pun pindah-pindah di beberapa tempat.
Akhirnya menemukan tempat yang cocok dimana semuanya bertemu dan berkumpul di
Pesantren Al-Fatah Cileungsi.
Semua bermula saat anak-anaknya mulai sekolah
di pesantren Al-Fatah Cileungsi, demi menuntut ilmu. Saat itu Putri, anak keduanya
yang pertama kali sekolah di Al-Fatah Cileungsi yang waktu itu dibawa oleh
saudaranya bernama teh Iim Mardhiyah. Selain itu juga karena banyak
saudara-saudara lain yang tinggal di pesantren tersebut. Di antaranya teh Neneng Syamsyiah, Lukman, Ali
(alm), dan lainnya. Dari Putri, kemudian disusul adiknya yang bernama Gendis.
Tak lama, istrinya
bernama Noer ‘Aininya pun ikut hijrah ke pesantren bersama anak ke 4 yaitu Gibran pada awal 2013.
Bersama keluarga tersayang, saat umroh
“Saya belum ikut ke pesantren waktu itu, karena
harus menyelesaikan urusan yang belum selesai. Baru akhir
2013 saya menyusul
pindah juga ke Pesantren Al-Fatah. Pada saat itu juga saya belum langsung menetapi Jama’ah Muslimin
(Hizbullah), sebab masih terus mempelajari, melihat, dan cari tau apa sih
Jama’ah itu sebenarnya? Kemudian saya juga dikasih buku-buku tentang Jama’ah
oleh ust. Qomar,” paparnya.
Selama tiga tahun tinggal di pesantren, baru ia
merasakan perbedaan lingkungan hidup
sebelumnya. Seolah perlahan-lahan ia diperlihatkan bagaimana kehidupan
masyarakat pesantren. Dari mulai sholat berjamaah di masjid, bermasyarakat
dengan baik, semua mencerminkan kehidupan islami seperti di jaman Rasulullah
SAW.
Selain merasakan sendiri, istri dan anak-anak Elan yang terlebih
dahulu mengenal Jama’ah dan menetapinya selalu mendoakan sang bapak tercinta agar
dibukakan mata dan pintu hatinya dalam melihat kebenaran. Akhirnya pada Juli
2016, dengan kemantapan hati lelaki kelahiran Majalengka ini menyerahkan diri
kepada Allah sepenuhnya dengan menetapi Al Jama’ah.
“Alhamdulillah setelah menetapi Jama’ah saya merasa begitu tercerahkan, begitu jelas jalan dan tujuan hidup mana yang
seharusnya saya tempuh. Karena pada dasarnya namanya hidayah, Allah selalu memberikan
dengan berbagai macam cara, dalam hal ini juga saya diperlihatkan secara
pelan-pelan,” ungkapnya penuh rasa syukur.
“Selain diiperkenalkan oleh ust. Qomarudin, saya
juga banyak berinteraksi dengan ust. Wahyudi, ust. Zubaidi, ust. Syaiful, dan lainnya. Sebelumnya, saya belum mengerti apa dan
siapa itu Imaam. Ketika Imaam Muhyidin meninggal dan melihat
fotonya, dari situ saya baru tahu kalau beliau itu Imaam yang kemudian diganti
oleh Imaam Yakhsyaallah Mansur,” lanjutnya.
Banyak sekali perbedaan dalam kehidupan Elan sebelum
dan sesudah hijrah. Sebelumnya, meski ia sudah menetap di lingkungan pesantren, ia jarang sekali sholat
berjamaah di masjid. Padahal pulang kerja jam 7 malam, masih ada waktu untuk sholat Isya, tapi tidak pernah terbesit dalam hatinya
untuk sholat berjamaah ke masjid, capek pikirnya.
Namun, setelah semakin dekat mengenal kehidupan berjama’ah
imamah, ia
merasakan dalam bermasyarakat di pesantren yang paling terkesan adalah setiap
hari Ahad ada amal sholeh, itulah salah satu cara baginya berinteraksi dan bersosial dengan
sesama tetangga serta teman-teman. Yang tak kalah berkesan, di pesantren
Al-Fatah semua lelaki dewasa yang sehat mendapatkan giliran untuk ribath (jaga malam/ronda). Elan mendapat jadwal ribath setiap malam Sabtu.
Mengunjungi orang yang sakit, ta’lim jiron (mengaji sesama tetangga) dan masih banyak hal
lain yang membuat ia nyaman berada di lingkungan pesantren.
“Di pesantren ini, saya baru merasakan betul-betul hidup, merasakan
inilah hidup yang saya cari, yang selama ini kosong dan gak pernah tahu selama ini hidup yang saya jalani seperti itu. Ternyata, setelah nyampe disini, inilah tujuan
hidup saya dan keluarga
yang sebenarnya. Mata saya
benar-benar baru terbuka dan merasakan praktek kehidupan layaknya pada masa Rasulullah,” ujarnya penuh haru.
Jika dulu Elan adalah orang yang keras hati,
temperamen dan tidak takut dengan siapa pun, sekalipun dengan polisi. Bahkan
menurutnya, dulu sebelum baiat pernah mengklakson ust. Abul Hidayat
Saerodjie (AHI) karena kesal menghalangi jalannya.
“Dalam hati saya kesel (bliau) jalan di depan saya, ini orang lama banget.
Tapi setelah tahu itu adalah ust. AHI itu siapa, saya langsung datang ke rumahnya dan minta maaf,” ungkapnya menyesal.
Bapak enam bersaudara itu, benar-benar bersyukur atas apa yang
Allah berikan dan tunjukkan jalan hidup yang benar. Baginya ini merupakan
hadiah yang luarbiasa tak ternilai. Setelah baiat iapun mengajak serta ibunya
dan saudara-saudara yang lain, termasuk anak pertamanya yang tinggal di Serang.
Meskipun awalnya sang ibu tidak mau karena beranggapan semua ibadah sama saja,
untuk apa baiat. Tapi akhirnya mau dan merasaka perubhan yang luarbiasa.
Apalagi sang adik ketika sudah menetapi Al Jama’ah tidak ingin tinggal dima-mana kecuali di
pesantren.
Bersama istri di Jabal Rahmah
“Istri saya sudah lebih dulu menetapi Al Jama’ah bersama anak-anak dan saya juga sudah diajak sama istri untuk segera mengikuti. Tapi saya belum mau, apaan itu? Kan harus jelas. Didoain juga sama
istri dan anak-anak. Alhamdulillah mengapa saya bilang ini adalah hidayah dari
Allah, karena ternyata diluar sana banyak orang-orang pintar agama, para ustad
terkenal tapi mengapa mereka belum mengenal dan menetapi Al Jama’h ini, ya
sekali lagi karena belum dapet hidayah. Kalau saya ngobrol-ngobrol dengan para asatid disini (Pesantren
Al-Fatah), ya karena
mereka belum diberi hidayah, jadi saya sangat bersyukur,” ungkapnya.
Menurutnya, hidayah hanyalah milik Allah, tidak
semua orang mendapatkan tanpa kehendakNya. Jika mengambil pelajaran dari kisah
orang-orang yang dulunya jadi preman bertato kemudian berhijrah, jadi ustadz
dan kisah-kisah lainnya orang yang mendapat hidayah, sulit untuk dibayangkan
kekuatannya karena memang hanya Allah yang punya.
“Kadang-kadang terbesit dalam hati bahwa
kehidapan kami yang dulu melampaui batas, seperti orang-orang diluar sana
banyak yang beribadah, tapi tidak sesuai sunnah atau tuntunan Rasul dan disini
terlihat banget bedanya,” ujarnya.
“Salah satunya dalam hal sholat, kaki harus
rapat bahkan lurus dengan mata kaki, kalau sholat di masjid lain jarang saya
temui. Saya sering singgah sholat di masjid-masjid besar seperti Darussalam, Istiqlal,
kadang-kadang kita berusaha merapatkan kaki, orang lain malah dijauhin, semakin
dikejar malah menghindar, susah... jadi hikmahnya ketika sholat harus
merapatkatkan kaki semua orang menyatu, mau dia ustad, pejabat, orang biasa
dalam sholat semuanya menyatu,” lanjutnya.
Umroh Sekeluarga
Siapa yang tak ingin ke tanah suci? Sebagai
umat Islam pasti semua ingin datang ke rumah Allah. Kesempatan itupun datang ke
keluarga Elan. Setelah memutuskan resign dari tempat kerja yang menurutnya
kurang berkah, ia berniat untuk membersihkan hati dan diri dengan melaksanakan
umroh.
“Saya mendahulukan umroh sekeluarga ketimbang
beli rumah atau kebutuhan lain. Karena inilah salah satu cara untuk
membersihkan diri saya dan keluarga. Memohon kepada Allah agar dileburkan
segala dosa supaya bisa memulai dari titik nol dengan bersih. Harusnya tanggal 22
Januari berangkat, tapi ada masalah pasport Gendis jadi ditunda dan baru
terlaksana pada 13 Februari lalu. Saya ingin semuanya, karena selama ini kita
hidup bersama, menikmati rezeki dari seorang kepala keluarga, rezeki apapun
juga dengan kebersamaan jadi mebersihkannya juga bersama itu yang saya pikirkan,”
terangnya.
Qodarullah, ketika datang kesempatan, kesehatan,
dan keleluasaan, tak ada lagi yang harus ditunda. Semua sudah atas izin Allah. Setiba
di tanah suci, Elan merasa lega. Iapun menangis di depan Ka’bah merasakan diri yang
penuh khilaf dan dosa. Begitupun saat Thawaf dan memasuki Hijr Ismail, betapa
ia merasakan kenikmatan menangis yang luar biasa. Tak pernah ia merasakan bisa
menangis senikmat itu. Rasanya ia tak ingin beranjak dari sujudnya, hingga
dibangunkan oleh anaknya.
“Alhamdulillah bisa melaksanakan umroh
sekeluarga. Sampai sekarang aja bangun tidur, mau ke masjid pikirannya kayak
mau ke masjidil Haram dan Nabawi. Masih kebayang suasana di mekah, nangis lihat ka’bah enak
banget nangis di sana rasanya nikmat. Harapan kami semoga doa-doa kami ingin
meleburkan segala dosa diampuni Allah subhana wata alla. Dan setelah dari sana
malah pengen balik hehe... betah,” tuturnya tertawa.
Sementara itu, Noer ‘Aini, sang istri tercintapun merasakan hal yang sama dan bersyukur atas semuanya. Banyak
hikmah dalam kehidupannya. Ia merasakan, setelah umroh sholat di masjid Al-Fatah
Cileungsi tak jauh berbeda dengan di Mekah dan Madinah. Dari bacaannya yang panjang, lama
gerakan sholatnya, dan lainnya hanya suasana di tanah suci lebih terasa
kenyamannya.
“Saya merasakan setelah umroh, sholat di masjid
Al-Fatah Cileungsi hampir sama seperti di Mekah dan Madinah, lamanya, bacaannya panjang,
jadi gak kaget.
Dulu, sebelum tinggal di pesantren, sholat di masjidnya cepet-cepet bacaan
dan gerakan juga cepatnya,” ungkapnya.
Menurut Putri, anak kedua Elan. Bapaknya adalah ayah yang cinta dan bertanggung jawab atas
keluarganya. Apapun yang terjadi dan rezeki darimanpun yang didapatkannya sang
bapak adalah orang yang sabar dan bekerja keras. Selain itu, sosok Elan
di mata anak-anaknya adalah penyabar. Nasehat yang selalu diingatnya adalah jangan meninggalkan sholat wajib dan
sedekah.
Semoga sepenggal kisah kehidupan Elan Suherlan
dan keluarganya bisa menjadi wasilah bagi siapa pun untuk memetik ibroh tentang
betapa berharganya hidayah dan rasa kasih sayang Allah. Ternyata, untuk menjadi
orang yang lebih baik lagi di mata Allah, terkadang harus melalui jalan
berliku, terjal bahkan banyak duri menghadang. Semoga Allah
senantiasa memberkahi Erlan Suherlan dan keluarganya, istikomah hingga kembali
kepada Allah dalam keadaan husnul khatimah, aamiin. (Ika Restya/tsaqofah)





1 Komentar
MasyaAllaah, semoga istiqomah hingga akhir hayat. Dan masuk syurga bersama sekeluarga..aamiin
BalasHapus