Oleh Abu Tsaqib Abdurrahman Ash Shahafy*
Tsaqofah.com - Tak jarang, kita terperosok dalam prasangka keliru. Bahkan,
kita sering kali menilai orang lain dari apa yang terlihat saja oleh mata. Jika
mata ini melihatnya A, maka itulah penilaian kita. Pun sebaliknya, jika mata
ini melihat orang itu punya nilai D, maka nilai itulah seolah yang melekat pada
seseorang itu. Bisa jadi, orang yang terlihat tidak pernah terlihat rajin
menjalankan ibadah, ternyata jauh lebih bijak dalam menilai sesuatu dibanding
orang yang rajin beribadah.
Bukan berarti saya mengeneralisir bahwa setiap orang yang
tidak terlihat ibadahnya adalah orang yang buruk, atau sebaliknya? Pada intinya,
menilai orang lain sering kali membuat kita terlihat bodoh karena yang tampak
hanyalah realitas semata. Belum tentu orang yang terlihat awam dalam satu
bidang ilmu adalah orang yang tak bisa memberi banyak manfaat.
Mari belajar dari kisah
berikut, agar setiap kita sadar dan faham benar; andai, jika ada orang dihadapan
kita terlihat bermuka masam, maka jangan tergesa menilainya angkuh. Tafsirkanlah
dengan prasangka baik. Sadari, bisa jadi ia hari itu bermuka masam sebab mungkin
dia sedang dirundung musibah dan lainnya yang serupa.
Inilah kisah itu. Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan
al-Basri seorang Sufi besar melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan
seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak.
Kemudian Hasan berbisik dalam hati, “Alangkah buruk
akhlak orang itu dan baiknya kalau dia seperti aku..! ”.
Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang
sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi terus terjun untuk
menolong penumpang perahu yang hampir lemas. Enam dari tujuh penumpang itu
berhasil diselamatkan.
Kemudian dia berpaling ke arah Hasan al-Basri dan
berkata, “Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah
selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan
satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang.”
Bagaimanapun Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang
seorang itu. Maka lelaki itu berkata padanya, “Tuan, sebenarnya perempuan yang
duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya
berisi air biasa, bukan anggur atau arak.”
Hasan al-Basri tertegun lalu berkata, “Kalau begitu,
sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke
dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan.”
Lelaki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan
permohonan tuan.”
Semenjak itu, Hasan al-Basri semakin dan selalu
merendahkan hati bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih
daripada orang lain.
Jika Allah membukakan pintu sholat Tahajud untuk kita,
janganlah lantas kita memandang rendah saudara seiman yang sedang tertidur
nyenyak. Jika Allah membukakan pintu Puasa Sunat, janganlah lantas kita
memandang rendah saudara seiman yang tidak ikut berpuasa sunat.
Boleh jadi orang yang gemar tidur tahajud, dan jarang
melakukan puasa sunat itu lebih dekat dengan Allah, daripada diri kita. Sebab kita
tidak tahu bagaimana amalan dia yang tersembunyi. Lalu kita hanya melihat apa
yang sekilas terlihat saja darinya. Boleh jadi, ia lebih mulia dan baik
dibanding kita.
Ilmu Allah sangat amatlah luas. Jangan pernah kagum atau
takjub dan sombong pada amalan sendiri. Sebab bukan karena amal seseorang itu
mendapatkan surganya Allah. Jangan sampai amal membuat kita tertipu. Amal itu
akan sirna jika menyebabkan kita merasa bangga di hadapan manusia. Banggalah dihadapan
Allah atas segala amal yang kita lakukan.
Ingat bagaimana kisah seoran rahib bernama Barshishah
yang selama 70 tahun beribadah? Ya, rahib itu tertipu oleh amalnya. Lalu iblis
menjebaknya. Jadilah dalam sekejap ia seorang pemuja hawa nafsu. Lalu jadi pula
ia seorang peminum khamr. Bahkan kemaksiatannya kian menjadi yakni menjadi
pembunuh. Di akhir kisah, matilah Barshishah dalam keadaan kafir, nauzubillah. Itu
kisah si rahib yang sudah 70 tahun lamanya beribadah.
Bandingkan dengan kisah si pelacur yang selama hidupnya
hanya berkubang maksiat, dosa dan kehinaan. Hari-harinya dilalui dengan
memuaskan syahwat para lelaki hidung belang. Tak sedetikpun ia ingat kepada
Rabbnya lalu tobat dan kembali ke jalan yang benar lagi diridhai. Namun, tidak
ada yang tidak mungkin bila Allah telah berkehendak.
Suatu hari, saat wanita itu sedang menyusuri sebuah
jalan, tak disangka ada seekor anjing yang terlihat olehnya begitu haus. Tanpa pikir
panjang, si wanita berprofesi pelacur itu lalu melepas sepatunya dan mendekati
sebuah sumur. Dari sumur itu ia menangguk air dengan sepatunya, lalu ia segera
memberi minum anjing yang kehausan tadi.
Singkat cerita, Allah Tabaraka wa ta’ala ridha atas
perbuatan wanita pelacur itu. Allah tidak lagi melihat apa profesinya saat ia
mau berbuat baik untuk seekor anjing. Bayangkan, betapa Allah menjadi ridha
kepadanya ‘hanya’ karena ia menolong binatang tersebut. Lalu bagaimana jika
yang ia tolong itu adalah hamba Allah juga (manusia)? Tentu bisa jadi Allah
lebih ridha lagi kepadanya.
Kisah si wanita pelacur dan seekor anjing di atas
mengajarkan kepada kita tentang beberapa hal. Satu di antaranya adalah berbuat
baik, kepada siapa pun bahkan walau harus kepada seekor anjing. Selama masih
ada rasa di hati untuk selalu mewujudkan perbuatan baik, maka Allah akan ridha.
Jangan tertipu dengan amal; amal orang lain, terlebih
lagi amal kita sendiri. Jangan merasa bangga dengan ibadah yang selama ini
dilakukan. Sebab bisa jadi tipuan amal itu efeknya bisa lebih menyakitkan bagi
seorang hamba di akhirat kelak. Tertipu dengan amal ibadah akan melahirkan
kesyirikan disadari atau tidak.
Syirik kecil karena rasa bangga atas amal yang selama ini
sudah dilakukan itulah yang harus diwaspadai oleh setiap muslim. Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang bahayanya syirik kecil yang
sangat halus ini. Katanya, “Maukah aku kabarkan kepada kalian
sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Mereka
berkata, ”Kami mau.” Maka Rasulullah berkata, “Yaitu syirkul khafi;
yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada
orang yang memperhatikan shalatnya.” (HR Ibnu Majah, no. 4204, dari hadits
Abu Sa’id al Khudri. Hadis ini hasan-Shahih at Targhib wat Tarhib, no. 30).
Karena itu pula, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
mengajarkan satu doa kepada umatnya agar terhindar dari syirik kecil ini dengan
doa, “Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lam wa
astaghfiruka lima laa a’lam (“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan
syirik yang aku sadari. Dan aku memohon ampun
kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui”).” (HR. Ahmad).
Semoga
Allah Ta’ala menjaga kita dari segala rasa bangga atas amal ibadah yang sudah
dilakukan. Cukuplah rasa bangga itu dibalut dengan rasa syukur agar cukuplah Dia
yang tahu. Dengan begitu, insya Allah kita tidak termasuk kelompok orang-orang
yang tertipu dengan amalnya sendiri, wallahua’lam. (minanews.net)




0 Komentar