Tsaqofah.com, Amman - Kekhawatiran tanpa
akhir menyelimuti lebih dari 50 ribu warga dari kamp pengungsi Gaza, di wilayah
Yordania utara. Laporan apapun tentangan penderitaan mereka akan medzalimi
mereka, karena tidak akan mampu menyampaikan tangisan rasa sakit mereka. Setiap
hari mereka hidup dalam Nakba (prahara). Mereka hidup tanpa pekerjaan, tanpa
pendidikan, tidak bisa bepergian dan tidak ada kepemilikan.
Koresponden Pusat Informasi Palestina
menceritakan, “Kami menghabiskan beberapa jam di gang-gang kamp Gaza. Kami
marasakan penderitaan dan rasa sakit di mata para pengungsi. Para pemuda di
puncak produktivitasnya tiduran di tanah tanpa bekerja, tetapi mereka ingin
hidup. Mereka mencari tanah air. Mereka mengalami banyak penindasan, tetapi
mereka teguh, karena masalahnya berkaitan dengan Palestina.”
Itu adalah hak yang dijamin oleh semua konvensi internasional dan
hukum kemanusiaan, (kesehatan, pendidikan, dan kepemilikan), tetapi semua itu
dilarang untuk anak-anak Jalur Gaza di Yordania. Pembuat aturan Yordania
memandang remeh hak-hak mereka tersebut. Sementara mereka menganggap itu tugas
untuk meningkatkan ketabahan mereka dan hidup dengan bermartabat.
Nomor Nasional
Keterkaitan warga Gaza dengan Kerajaan Yordania ini terjadi sejak
tahun 1967. Sejarah Naksah (tragedi tahun 1967) adalah sejarah pembeda dalam
hidup mereka. Demikian ungkap aktivis Ahmed Abu Amra kepada Pusat
Informasi Palestina.
Abu Amra mengatakan, masalah yang dialami rakyat Gaza di Yordania
bermuara pada sebab utama yang menjadi inti semua masalah. Yaitu, mereka tidak
mendapatkan nomor nasional (yakni paspor). Ini yang menghalangi mereka
mendapatkan hak-hak sipil mereka untuk memiliki properti, hak pendidikan, hak
pengobatan dan hak perjalanan (bepergian).
Hal ini, menurut Abu Amra, yang memaksa pengungsi Palestina untuk
mendaftarkan hartanya atas nama teman atau kerabat. Hal ini yang menimbulkan
dan perampasan hak-hak mereka dalam banyak kejadian.
Menurut Abu Amra, warga Gaza di Yordania juga dilarang melakukan
80 profensi. Selain tidak mendapatkan asuransi kesehatan dan pendidikan di kampus
pemerintah, kecuali sangat sedikit dari mereka. Karena pengungsi Gaza di
Yordania diperlakukan sebagai orang asing di Yordania.
Abu Amra menjelaskan, akibat terampasnya hak warga Gaza untuk
mendapatkan pendidikan universitas dan tidak bisa mendapatkan kursi kompetitif,
mereka meninggalkan bangku sekolah setelah menyelesaikan pendidikan dasar,
selanjutnya mereka belajar ketrampilan. Tapi masalahnya tidak berakhir di sini,
karena ternyata profesi yang dapat dijalani membutuhkan izin yang biayanya mencapai
250 dolar, biaya pembuatan paspor 350 dolar dan pembuatan SIM 200 dolar.
Dilema pengobatan
Seorang pemuda Palestina di kamp Gaza, Mahmud, begitu dia ingin
disebut namanya, menderita sakit parah di perut sudah bertahun-tahun. Dia
membutuhkan tindakan kolonoskopi untuk mendiagnosa kondisi. Tahun-tahun berlalu
dia menahan rasa sakit yang tidak berhenti hanya dengan obat anti nyeri. Rumah
Sakit Pemerintah di Yordania enggan mengobati orang yang tidak memiliki nomor
nasional. Sementara dia tidak punya uang untuk berobat ke rumah sakit swasta.
Mahmud tidak terlalu banyak mengeluhkan sakit di perutnya karena
sudah beradaptasi dengan itu. Namun yang membuatnya hampir gila adalah karena
dia tidak mampu mengobati anak-anaknya dari penyakit kulit kronis yang merusak
tubuh mereka. Mengingat hal itu, dia sedih. Tidak mampu berbicara lagi. Dia
hanya menutupkan kedua tangannya di wajahnya, membiarkan air matanya mengalir
di antara jari-jarinya.
Setelah mengambil napas dan menahan tangisnya, kepada
koresponden Pusat Informasi Palestina dia mengatakan,
“Pekerjaan membutuhkan izin mahal secara finansial. Saya tidak bisa mendapatkan
izin itu. Selain juga kurangnya kesempatan kerja.”
Mengapa dilarang?
Menurut anggota parlemen Yordania, Ibrahim Abu Sayed, dalam
wawancaranya denganPusat Informasi Palestina, tujuan larangan bagi
orang-orang Gaza di Yordania mendapatkan hak-hak mereka adalah untuk memisahkan
mereka dari tubuh Palestina untuk mewujudkan tujuan "deal of
century".
Dia menjelaskan, "Warga Gaza diperlakukan seperti orang
asing. Meskipun faktanya mereka telah tinggal di Yordania sejak kecil.” Dia
menyerukan pemerintah Yordania untuk memberikan hak-hak sipil sehingga warga
Gaza bisa hidup secara normal.
Abu Sayed menjelaskan, "Ada janji dari pemerintah Yordania
untuk memberi kepemilikan bagi warga Gaza di Yordania. Akibat dari masalah
perampasan hak mereka (karena mereka terpaksa mendaftarkan hak miliknya atas
nama teman atau kerabat, termasuk hak milik istri mereka). (sumber: pip)


0 Komentar