Oleh Bahron Ansori
“Aku tidak pedulikan atas keadaan susah atau senangku,
karena aku tidak tahu manakah di antara keduanya yang lebih baik dariku,” Khalifah
Umar bin Khattab
Tsaqofah.com - Jika mau merenung
saja sejenak, maka kita ini bukan siapa-siapa. Kita bukan pula pejabat sekaliber Nabi Sulaiman AS. Kita bukan juga ulama mulia sebesar Hasan Al Bashri. Bahkan, kita bukan manusia teragung laiknya
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam. Namun, mengapa saat ada orang
menegur, menasihati dan meluruskan, hati kita menjadi tinggi, angkuh dan tidak terima? Kita bukan
siapa-siapa kecuali hanya sekelompok manusia lemah yang masih bernafas di akhir
jaman.
Jika hari ini Anda adalah seorang
pemimpin, maka sesungguhnya kepemimpinan Anda hanyalah bentuk ujian dari Allah
semata. Karena kepemimpinan itu ujian, maka tidak perlu merasa bangga
dengannya. Karena kekuasaan itu manis, maka setelah rasa manis kekuasaan itu
habis, rasa hampa dan hambar akan datang menyelimuti.
Jika mau berkaca pada sejarah,
tentu seorang pemimpin akan bijak, berlapang dadata, lalu menerima
masukan itu saat ditegur. Sebab bisa saja,
seorang pemimpin yang ditegur karena bukti rasa cinta dan wujud peduli
orang-orang yang dipimpinnya agar sang pemimpin menjadi lebih baik lagi. Ditegur
(dinasehati) bagi sebagian pemimpin memang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, dianggap
rivalnya, dan sebagainya. Terlebih jika yang menasihati itu orang yang tidak faham
adab bagaimana seharusnya menasihati pemimpin.
Namun, yang tak kalah penting
dari semua itu adalah bagaimana menjadi pemimpin yang bijak. Pemimpin yang
bijak, jika ada orang awam menasihatinya, selama itu adalah kebaikan, mau
beradab atau tidak, cara menyampaikannya, maka ia akan tetap merasa legowo
dan bersyukur sebab ada yang menariknya dari jurang kesalahan. Pemimpin yang
bijak, akan melihat setiap nasihat adalah kebaikan untuk meningkatkan kualitas
dirinya dalam memimpin.
Pemimpin yang bijak adalah
pemimpin yang berjiwa besar. Bukan sekedar isi kepalanya saja yang cerdas karena
aneka ragam ilmu pengetahuan yang dimiliki. Namun, jauh tak kalah penting ia juga mempunyai isi hati (iman) yang juga cerdas, emosionalnya cerdas, tidak mudah terpancing
untuk marah. Dengan begitu, dia akan dicintai oleh setiap orang yang dipimpinnya.
Ia akan dicintai rakyatnya.
Kisah yang Indah
Sebelum cahaya Allah terpatri
kuat di sanubarinya, Umar bin Khattab adalah orang yang berperangai kasar,
bengis dan kejam. Bahkan, suatu hari dalam sebuah riwayat disebut ia tega mengubur
hidup-hidup seorang anak perempuannya karena merasa malu memiliki anak
perempuan. Tak heran, setelah masuk Islam, salah satu dosanya di masa jahiliyah
yang seringkali menghantuinya sehingga membuatnya mengucurkan air mata adalah
dosa mengubur anaknya hidup-hidup.
Biidznillah, setelah mendapatkan hidayah, dalam perjalanan ‘karir’
hidupnya, Umar menjadi satu di antara empat khalifah mulia menggantikan Abu
Bakar Ash Shiddiq. Setelah di baiat, Khalifah Umar bin Khattab semakin tegas
dan keras terhadap siapapun dari umatnya yang melakukan kemaksiatan dan dosa. Tidak
perduli apakah yang berbuat kesalahan itu anak pejabat, rakyat jelata atauh
bahkan darah dagingnya sendiri. Selama ia melanggar tatanan syariat yang telah
digariskan Allah dan Nabi-Nya, maka ia
akan mendapat hukuman yang setimpal.
Seperti diketahui, Umar bin Al Khathab, adalah salah satu
sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkapasitas sebagai mujtahid
ini suatu ketika berpidato di atas mimbar. Setelah memuji Allah, ia berkata, “Ketahuilah, janganlah kalian mempermahal mahar wanita,
sebab seandainya hal itu merupakan suatu kehormatan di dunia atau ketaqwaan di
sisi Allah, niscaya orang yang paling pertama melakukannya adalah Rasululullah,
namun beliau tidak pernah memberikan mahar kepada seorang istrinya dan tidak
juga seorang putrinya diberi mahar lebih dari dua belas uqiyyah.”
Tak
selang berapa lama Umar turun dari mimbarnya. Arahan kalifah yang singkat, padat dan lugas. Namun, setelah itu, tiba-tiba datang seorang perempuan dari Quraisy. Tanpa basa basi wanita itu
berkata, “Wahai pemimpin orang Mukmin. Apakah Kitab Allah yang
lebih berhak kami ikuti ataukah ucapanmu?”
Spontan Umar pun menjawab, “Tentu al
Quranlah yang lebih berhak dikuti.”
“Apa yang kamu
maksudkan?” lanjut Umar.
Wanita itu berkata, “Engkau baru saja melarang untuk memberi mahar yang
lebih banyak dari mas kawin Rasulullah. Padahal Allah Ta’ala berfirman,
وءاتيتم إحداهن
قنطارا فلا تأخذوا منه شيئا {٢٠} سورة النساء
“Dan kalian telah memberikan
pada salah satu wanita harta yang banyak sebagai mas kawin……….”
Khalifah
Umar langsung menerima nasehat dari wanita Quraisy tersebut. Atas
saran atau bahkan bisa dikatakan sanggahan dari seorang perempuan itu, Khalifah
Umar bin Khattab tidak merasa canggung, tidak malu, tidak gengsi menerimanya,
bahkan Umar berkata:
كل أحد أفقه من عمر
“Setiap orang lebih paham agama daripada Umar,” kata
Umar.
Ucapan itu dilontarkan
Umar dan diulang-ulang dua tiga kali. Ia kembali naik ke atas mimbar lalu berkata, “Hadirin
sekalian, aku telah melarang kalian memberi mahar lebih dari mahar Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketahuilah bahwa aku cabut pernyatanku. Dan
sekarang lakukanlah apa yang maslahat bagi kalian. Aku tidak membatasi. Selama
tidak bertentangan dengan syariat.”
Sikap yang ditunjukkan
oleh Khalifah Umar bin Khattab ini adalah sikap bijak seorang pemimpin yang
berpegang teguh terhadap kebenaran. Khalifah Umar tanpa sungkan dan malu
menerima pendapat sekaligus
kritikan, masukan atau bahkan nasihat dari orang
lain di muka umum.
Kisah di atas shohih, diriwayatkan Abu Dawud 2106, Nasai
2/87, Timidzi 1/208, Ibnu Hibban 1259, ad-Darimi 2/141, al-Hakim 2/175,
al-Baihaqi 7/234, Ahmad 1/40-48, al-Humaidi 23 dari jalur Muhammad bin Sirin
dari Abu ‘Ajfa’ dari Umar. Hadits ini dishohihkan oleh Tirmidzi, al-Hakim dan
disetujui adz-Dzahabi.
Jadi, larangan Umar dari mempermahal mahar sesuai dengan
sunnah Nabi. Adapun kisah ini, kalaulah memang shohih maka hal itu tidak
bertentangan dengan ayat karena ditinjau dari dua hal:
Pertama, larangan
Umar tersebut bukan bermakna haram tetapi hanya makruh saja.
Kedua, ayat tersebut (Qs. An-Nisa’: 20) berkaitan tentang seorang wanita yang
ingin agar suaminya menceraikannya, sedangkan dia telah memberikan kepada sang
istri mahar yang banyak. Maka tidak boleh baginya untuk mengambil kembali tanpa
kerelaan istri.
Inti dari kisah di atas adalah bagaimana sikap
berjiwa besar pemimpin sekaliber Umar bin Khattab. Andai saja para pemimpin
negeri ini mau belajar dari seorang Umar
bin Khattab tentang bagaimana cara memimpin. Belajar bagaimana berjiwa besar
saat menerima nasihat. Tegas saat melihat yang dipimpin melakukan dosa dan kemaksiatan,
tentu akan lahir kedamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan ini. Namun, jika
para pemimpin sudah tidak lagi bisa menerima kritikan, masukan bahkan nasehat,
maka tunggulah perpecahan akan terjadi di mana-mana, wallahua’lam.
(minanews.com)


0 Komentar