Oleh Fatimah SF*
Seorang
pemuda masih sangat belia mendatangi Abu
Qudamah yang pada saat itu tengah mempersiapkan diri untuk berperang.
"Paman
bolehkah aku ikut bersamamu? Aku ingin juga berperang fi sabilillah dan
mendapatkan syahid," kata pemuda itu.
"Apakah
ibumu masih hidup?" tanya Abu
Qudamah.
"Ya ibuku
masih ada," jawab pemuda itu.
"Kalau begitu pulanglah,, surgamu ada di telapak kakinya," ujar Abu Qudamah.
"Tapi paman, justeru ibuku yang telah memerintahkanku pergi berperang bersamamu," jelas pemuda itu.
“Mengapa ibumu tidak menginginkan kau pulang?"
tanya Abu Qudamah. “Sebab ibuku telah
menghadiahkan aku kepada Allah, dan beliau tidak memberiku pilihan kecuali
syahid. Aku juga menginginkan hal itu
(syahid)
paman," ungkap pemuda itu.
Abu Qudamah tertegun sejenak, lalu bertanya, "Dimana ayahmu?"
“Ayahku telah syahid tahun lalu," jawab pemuda
itu.
"Apakah
kau tidak mempunyai paman untuk mendampingimu sekarang?" tanya Abu Qudamah.
"Pamanku
pun telah
syahid," jelas pemuda itu.
“Namun kau masih terlalu muda," kata Abu Qudamah. Qudamah masih berusaha menahan pemuda yang
masih terbilang bocah itu.
"Jangan
remehkan aku paman. Aku mahir menggunakan
pedang dan panah. Aku juga mahir berkuda,"
pemuda itu meyakinkan Qudamah.
Setelah ia melihat bocah itu memperagakan kemahirannya, akhirnya Abu Qudamah mengabulkan keinginan bocah itu.
Ketika
perang hampir terjadi Abu Qudamah mencari pemuda itu di barisan paling
belakang, tapi ia tidak menjumpainya. Ia merasa
bertanggung jawab atas anak itu karena usianya baru 17 tahun. Ia terus mencari. Tanpa diduga, bocah itu terlihat
ada di
barisan paling depan.
"Apakah
kau pernah berperang?"
tanya Abu Qudamah.
"Belum pernah paman, ini yang
pertama kali," jawabnya polos.
"Pergilah
kau ke barisan belakang, di sini sangat berbahaya untukmu, jika menang kau akan
aman dan jika kalah kau bukan yang pertama harus menjadi korban," pinta Abu
Qudamah.
"Tidak
paman, aku ingin membahagiakan ibuku dengan syahidku. Jika aku mundur ke
belakang, bagaimana mungkin aku bisa meraih syahid?" jelas pemuda itu.
Namun, Abu Qudamah tetap berusaha
menyeret bocah itu ke belakang dengan sekuat tenaga pemuda itu melakukan perlawanan untuk tetap bertahan di tempatnya. Tiba-tiba perang pun dimulai. Sehingga Abu Qudamah
dipisahkan oleh gerakan pasukan berkuda.
Setelah
perang usai, dengan izin Allah
pasukan muslim mendapatkan kemenangan. Segera saja Abu
Qudamah mencari keberadaan pemuda itu. Ketika ia tidak temukan dalam barisan sisa pasukan yang masih hidup. Dengan berdebar Abu
Qudamah memperhatikn satu per satu jasad para syahid dari pasukan kaum muslimin.
"Tolong
panggilkan pamanku Abu Qudamah... Tolong panggilkan pamanku Abu Qudamah." Setelah beberapa lama ia mencari, tiba-tiba terdengar
suara lirih yang menyebut namanya. Nampaklah olehnya tubuh yang tertutup pasir
penuh darah dan di tubuhnya tertancap banyak tombak. Di bersihkannya wajah anak yang tertutup pasir dan darah dengan ujung bajunya."
“Paman, jangan bersihkan darahku
dengan bajumu. Aku ingin menghadap Allah dengan darah itu," cegah pemuda itu
lirih.
“Paman, tolong lepaskan bajuku ini dan berikan pada ibuku agar ibuku percaya bahwa aku tidak pernah mundur ke
belakang," jelas pemuda
itu sambil terengah-engah menahan sakit.
“Sampaikan juga pada ibuku jika Allah
menerimaku sebagai syuhada, aku akan sampaikn
salamnya untuk
ayah," jelasnya. Dan itulah kata-kata terakhirnya, dengan bercucuran air mata Abu Qudamah memeluk jasad syahid itu.
Ketika ia
menemui ibu pemuda itu ternyata benar apa yang dikatakannya; ibu itu begitu
bahagia ketika diberitakan tentang putranya yang telah syahid.
Ibroh
Kataatan pemuda itu tidak serta merta trjadi saat
perintah dahsyat itu ia dengar, tapi hal itu lahir dari proses panjang seluruh
detak jantung dan derap rasa ibunya yang menakjubkan.
Sejak ia masih di dalam
kandungan, darah kerinduan syahid sang ibu
mengalir membentuk setiap organ dan syaraf serta perkembangan tumbuhnya. Kerinduan syahid mengalir membentuk segala inderanya
kemudian di sepanjang perjalanan hidupnya tidak pernah sunyi dari kisah-kisah
kepahlawanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para ashabiyah,
sehingga tanpa di perintahpun ia semangat berlatih mempersiapkan dirinya untuk
menjadi syuhada berikutnya.
Maka ibu adalah pembentuk karakter dan pribadi satu
bangsa yang sejati. Goresan kelembutan
keibuannya lebih dalam bekasnya di bandingkan goresan ayah. Bagaimana seorang
manusia itu nampak atau terwujud paket kepribadiannya itu tergantung dari warna
asli sang ibu.
Kataatan pemuda itu atas perintah dahsyat itu tidak serta
merta trjadi saat perintah dahsyat itu ia dengar, tapi hal itu dari sebuah
perjalanan panjang seluruh detak jantung dan derap rasa ibunya.
Ketika ia masih di dalam kandungan, darah kerinduan
syahid mengalir membentuk segala organ dan syaraf serta perkembangan tumbuhnya. Lalu saat ia terlahir ke dunia ini. Kerinduan
akan syahid terus mengalir, membentuk
seluruh inderanya bahkan disepanjang perjalanan tumbuh kembangnya tidak pernah
sunyi dari kisah-kisah
kepahlawanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat dari bibir
ibunya. Bersama
ibunya pula ia
selalu membangun impian untuk
meraih syahid seperti yang telah diraih oleh ayahnya. Hampir
setiap hari pemuda itu terus berlatih mempersiapkan diri.
Sehingga tanpa dimintapun ia setiap hari berlatih
mempersiapkan dirinya untuk menjadi syuhada' berikutnya dan mewujudkan impian
nya itu. (Tsqaqofah.com)
*Mahasiswa
KPI Kampus Jihad STAI Al Fatah Cileungsi Bogor


0 Komentar