Berjama'ah itu ibarat kumpulan sapu yang diikat menjadi satu. Ia akan kuat dan bisa menyapu banyak sampah jika berkumpul menjadi satu dalam satu ikatan
Oleh Ahmad Zubaidi Ardani*
Tsaqofah.com - Bisa jadi ada muslim
yang sudah mengamalkan sebagian syariat Islam, tapi belum atau bahkan tidak
merasakan hikmahnya. Misalnya, ada orang yang sudah melaksanakan umroh, ketika
ditanya, “Apa hikmah yang dirasakan?”
Jawabnya, “Tak ada
hikmah apa-apa yang dirasakan.“
Begitu pula, ada
yang sudah melaksanakan sholat sedari kecil, tapi karena sholatnya hanya
sebatas menggugurkan kewajiban, maka dia pun belum atau bahkan tidak bisa
merasakan hikmah dibalik sholat yang sudah dilakukannya itu. Miris.
Sebagian lagi ada
yang sudah mengamalkan kehidupan berjama’ah, berimamah, tapi sayang, semakin
lama ia menetapi kehidupan berjama’ah itu semakin lemah pula ketaatannya kepada
ulil amri yang telah bertanggung jawab padanya. Lalu, bagaimana dia akan
merasakan hikmah dibalik indahnya hidup berjama’ah? Aneh. Jangan-jangan selama
ini ia menetapi jama’ah bukan dengan landasan ilmu.
Sejatinya, semua
syariat Islam jika diamalkan dengan iman dan sesuai panduan dari al Quran dan
as Sunnah, pasti akan melahirkan hikmah yang bisa dirasakan oleh si pelakunya,
dan tentu akan membuahkan kebahagiaan dari dunia hingga akhirat. Jadi
sebenarnya, bukan syariatnya yang salah, tapi pelaksanaan syariat itulah yang
diamalkan tanpa ilmu (pemahaman yang keliru).
Satu di antara
sekian banyak syariat yang bisa dirasakan hikmah jika diamalkan misalnya
tentang wudhu. Selain membuat pelaksananya menjadi bersih dari hadats kecil,
ternyata wudhu mempunyai manfaat atau hikmah yang jauh lebih besar dari sisi
kedokteran. Bukan hanya itu, wudhu yang sempurna kelak akan membawa pelakunya
sehat secara rohani.
Dalam sebuah hadis, dari
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bila seorang hamba muslim atau
mukmin berwudhu, kemudian dia membasuh wajahnya maka akan keluar dari wajahnya
bersama air itu -atau bersama tetesan air yang terakhir- segala kesalahan yang
dia lakukan dengan pandangan kedua matanya. Apabila dia membasuh kedua
tangannya maka akan keluar dari kedua tangannya bersama air itu -atau bersama
tetesan air yang terakhir- segala kesalahan yang dia lakukan dengan kedua
tangannya. Apabila dia membasuh kedua kakinya maka akan keluar bersama air
-atau bersama tetesan air yang terakhir- segala kesalahan yang dia lakukan
dengan kedua kakinya, sampai akhirnya dia akan keluar dalam keadaan bersih dari
dosa-dosa.” (HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah).
Itu baru dari wudhu.
Tentus saja lebih banyak lagi ibadah-ibadah lain dalam Islam ini yang mempunyai
hikmah. Masalahnya, apakah setiap muslim mampu memetik hikmah dibalik semua
syariat ibadah baik yang bersifat selama
ini sudah dilakukannya? Semua sangat tergantung sejauhmana ia memahami makna
dari disyariatkannya ibadah-ibadah tersebut. Jika permahamannya benar tentang
satu konsep syariat ibadah, maka dengan mudah ia akan melihat betapa besar
hikmah yang tersimpan.
Hikmah Berjama’ah
Umar bin Khattab radhiallahu
‘anhu pernah berkata tentang pentingnya hidup berjama’ah bagi seorang muslim.
Katanya, “Laa Islam illa bil jama’ah…”
(Tidaklah Islam akan sempurna pengamalannya kecuali dengan
berjama’ah). Setidaknya, bagi yang sudah mengamalkan syariat berjama’ah akan
memberikan merasakan hikmah besar dibalik syariat berjama’ah itu. Bila dirinci, di antara hikmah hidup
berjama’ah itu antara lain sebagai berikut.
Pertama, bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Memang
tidak semua orang bisa dengan mudah memahami syariat berjama’h ini. Ketaatan kepada Allah Subhanahu
wa ta’ala lebih terbukti karena berjama’ah adalah perintah Allah dan Rasulnya,
mengabaikan atau meninggalkan berarti melanggar perintah Allah.
Hal ini sering tidak disadari oleh sebagian muslimin.
Mereka mempunyai persepsi yang kurang benar tentang perintah Allah ini,
sehingga menganggap cukup menyamakan berjamaah
dan bergabung dengan kelompok/organisasi bahkan partai Islam yang ada.
Padahal perintah berjamaah dengan menaati ulil amir adalah perintah yang ada
dalilnya dari al Qur’an dan as Sunnah.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul-Nya, dan
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs. An Nisa: 59)
Kedua, mindset mulia. Bagaimana tidak, semula sebelum menetapi hidup
berjama’ah, bisa jadi sifat individualistis (mementingkan diri sendiri), jauh lebih tinggi. Namun, setelah berada
dalam Al Jama’ah, maka pola pikir (mindset) pun berubah. Yang diperjuangkan
dalam hidup ini bukan hanya memikirkan kepentingan pribadi, kelompok atau
golongan, tapi jauh lebih besar dari itu yang dipikirkan adalah kepentingan
umat (berjamaah).
Mulanya hidup ini berfikir dan berkiprah sebatas negeri
tercinta saja, lalu perantara jama’ah, Allah angkat kiprah (lapangan beramal)
jauh lebih luas. Karena objek dakwah bukan lagi bersifat lokal tapi global.
Maka terasalah Islam ini rahmatan lil alamin.
Bisa jadi semula hidup ini
seolah tugasnya hanya mencari dunia tanpa henti; siang malam dipakai untuk
mendapatkan sesuap nasi, meraih tahta (kedudukan) demi memenuhi hasrat duniawi
semata. Namun, setelah menetapi hidup berjama’ah fokus hidup berubah. Fokus
utamanya bukan lagi duniawi semata tapi dunia akhirat.
Semula amar makruf
nahi mungkar seakan tugas para ustad, guru ngaji dan juga aparat keamanan saja.
Namun kini, setiap orang punya tanggung jawab untuk hal tersebut demi
tercurahnya rahmat dari Allah. Semula zakat, infaq dan shodaqoh
dilaksanakan sesuai selera dengan ikhlas
(orang Jawa mengatakan sak iklase), kini menjadi terprograms, teratur
secara syari’at, maksimal dan harus ikhlas. Bahkan semua harta kita yang
terindah dan terbaik serta terpenting untuk membiayai dinamika dakwah dan jihad
fi sbilillah, maka akan dikeluarkan. Semua sudah dijual kepada Allah dan Allah
telah membelinya dengan surga.
Allah Ta’ala
berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah
telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan
surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh
atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat,
Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada
Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan
itulah kemenangan yang besar.” (Qs. At Taubah: 111)
Ketiga, kesadaran beragama. Kesadaran untuk taat
beragama sangat meningkat karena terus mendapat arahan, bimbingan dan pembinaan
dari imam dan para pembantunya .Hidup lebih tertib, sholat wajib selalu
berusaha awal waktu, di masjid,
berjamaah dan di shaf paling depan, dengan cara melakukan ribat (persiapan
sebelum adzan). Sudah menunggu waktu di masjid jika sedang mukim, begitu pula
ketika sedang safar, selalu bawa sarung /mukena, meskipun sudah memakai celana panjang dan jilbab, tetapi
sadar dalam perjalanan belum tentu terpelihara kesuciannya.
Dan ketika hampir waktu sholat tiba, sadar
untuk berusaha mendapatkan masjid.
Sehingga sholat sunah rawatib selalu dapat dilakukan dengan maksimal. Kebutuhan untuk sholat tahajud terpelihara bak sholat
wajib saja. Karena selalu terkawal dengan adzan awal, kurang lebih satu jam
sebelum subuh. Kesadaran beragama ini bisa terlihat
dari berhati-hatinya ia dalam menjaga dan memanfaatkan waktu, (Qs. Al ‘Ashr).
Keempat, ketaatan kepada imam. Kewajiban untuk taat
kepada imam/amir selalu dapat dilakukan (selama tidak maksiat), karena
mempunyai imam dan amir pembantu imam yang hadir untuk didengar dan ditaati,
walau dalam posisi suka atau tidak suka, sempit atau lapang. Itulah konsekuensi
dalam hidup berjama’ah.
Sungguh, menjadi bagian dari nikmat
Allah adalah hidup terpimpin oleh
Allah, Rasulullah dan ulil amri. Bandingkan jika kita tak punya imam atau tidak hidup berjamaah. Uman Nashrani saja mempunyai seorang pimpinan
tertinggi di Vatikan, apatah lagi kita yang terlahir sebagai muslim, mempunyai
imam dan hidup berjama’ah seharusnya menjadi hal yang bisa diamalkan.
Jelas perintah Allah dan Rasulnya untuk hidup
berjama’ah bagi setiap muslim dan menaati imam dan amir-amir sebagai
pembantunya. Taatnya benar-benar karena faham, bukan taklid buta. Bukan pula taatnya hanya menurut seleranya sendiri. Bahkan, taat kepada pimpinan yang
bukan imam, sebatas hanya pada aspek duniawi semata. Kalau suka taat, jika tidak suka ngeloyor
saja tanpa ada sanksi syar’iyah.
Kelima, potensi maksimal. Semua potensi yang kita miliki
dapat maksimal digunakan untuk mengamalkan Islam secara kontinue, terprogram dengan program yang menyeluruh, terkontrol,
terevaluasi, sesuai keputusan imam
setelah mendengar dan menganalisa permaslahan dengan seksama.
Potensi yang Allah berikan tidak akan
pernah maksiaml jika tidak diamalkan dalam kehidupan berjama’ah. Dengan berjama’ah
itulah potensi-potensi akan tersalurkan untuk membantu kehidupan berjama’ah. Bukankah
menjadi contoh nyata bagi kita bahwa usaha-usaha untuk membangun Rumah Sakit
Indonesia (RSI) di Gaza Palestina adalah buah dan contoh nyata dari
pemaksimalan potensi dalam kehidupan berjama’ah.
Keenam, solusi persatuan. Menjadi solusi persatuan
muslimin, karena berjamaah terhindar dari ashobiyyah sebab daerah, darah, madzhab, kepentingan politik,
dll. Dalam mengamalkan Islam ada prinsip “innamal mukminuna ikhwatun” semua mukmin itu saudara”, juga terbebas dari kepentingan duniawi. Mengingat mengamalkan Islam termasuk berjamaah harus muhlishina lahudin ikhlas hanya
mengharap ridlo Allah. Ada ungkapan yang menyatakan, ‘berjuang menyatukan umat Islam dengan cara di luar Islam (bukan
dengan berjamaah), bak tupai lari dalam sangkar’, tentu saja tak akan terwujud .
Ketujuh, lintas batas. Dapat melintasi
batas-batas territorial, dalam mengamalkan
Islam termasuk berjamaah tak dibatasi batas-batas territorial.
Batas-batasnya hanyalah iman atau tidak . “Faman Syaa falyukmin wa man syaa
falyakfur, barang siapa menghendaki beriman , berimanlah, dan barang siapa
menghendaki kufur kufurlah’ , demikian
firman Allah dalam Alquran. Dan dengan dasar ayat itu pula non muslim tak akan
terancam oleh tirani mayoritas Muslim.
Islam tak mengenal batas territorial,
wilayah dan batasan-batasan dalam suatu negara. Islam adalah agama universal
yang bisa dianut oleh semua manusia, termasuk hidup berjama’ah adalah bagian
dari syariat Islam yang tak kenal batas
wilayah. Artinya, orang muslim dari belahan bumi manapun bisa
mengamalkan hidup berjama’ah selama ia
yakin bahwa dengan berjama’ah itu dia akan bahagia dunia akhirat.
Kedelapan, pengamalan syari’at. Syariat Islam akan lebih
mudah diamalkan oleh muslin tanpa menunggu datangnya kekuasaan. Karena setiap syariat Islam yang diamalkan
pasti akan membawa rahmat. Adakah muslim yang tidak ingin mengaharapkan datangnya rahmat Allah?
Dalam perjalanan
budaya masyarakat, telah terbukti ketika budaya jahiliyyah mewarnai suatu masyarakat, kemudian Islam datang dan diterima dengan penuh ikhlas. Lalu diamalkan oleh masyarakat itu, pelan tapi pasti masyarakat itu akan meninggalkan budaya jahiliyyahnya.
Misal, budaya judi,
minuman keras, merokok, (berapa ribu saja, muslim yang berhenti merokok setelah
mengamalkan hidup berjama’ah), pergaulan bebas, LGBT,
budaya syirik, berbusana non syar’i, budaya nyulut mercon
di hari Raya atau hari lain. Semua itu akan berubah
ketika Islam
diamalkan dengan kesadaran dan keimanan, bukan paksaan
dari atas sekalipun.
Kesembilan, harapan
surga. Siapa yang
tidak berharap mendapatkan surga? Rasanya tidak ada orang yang tidak
menginginkan surga; entah ia seorang muslim atau non muslim. Hidup berjama’ah
akan berpeluang besar mendapatkan surga. Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wasallam
dalam hadistnya menyatakan “man aroda buihbuhatal jannah falyalzamil jamaah“, siapa
menghendaki tengahnya surga maka laksanakan berjamaah.
Menetapi hidup berjama’ah bukan hal yang
mudah bagi sebagian muslim. Sebab hidup berjama’ah bisa menjadi wasilah mendapatkan
surga. Ada keikhlasan bagi mereka yang sudah hidup berjama’ah. Terlihat ada
semangat untuk selalu menyumbangkan amaliah terbaiknya, dan senantiasa fastabikul
khairat dalam setiap desah nafasnya. Bukan lagi sekedar bahagia dunia yang
dicari, tapi jauh lebih besar adalah kebahagiaan bisa memasuki surga-Nya.
Kesepuluh, ikatan
Islam. Lebih terpelihara ikatan
Islam dalam diri kita. Nabi bersabda “Man haraja ‘anittoah faqod khola’a
ribqotal islam min ‘unuqihi”, siapa yang keluar dari ta’at maka terlepaslah
tali ikatan Islam dari lehernya.” Bagaimana kalau tidak berjamaah? Sudah berjamaah
saja kemudian keluar tak taat akan terlepas tali ikatan Islamnya. Juga sudah
berjamaah, kemuadian karena satu dan lain hal berpecah/ bermusuhan maka
digambarkan Allah dalam Qs. Ali Imron: 103, berada di tepi jurang neraka.
Apakah sekelumit
hikmah di atas telah semua dirasakan oleh kita yang sudah berjamaah? Tentu saja
belum semua, tetapi sebagian besar telah dirasakan dan hal ini sangat
tergantung kepada tingkat keimanan, kesyukuran. masing-masing, juga intensitas
ketaatan kita. Sama halnya apakah semua diantara kita sedah merasakan hikmahnya
sholat yang kita lakukan ? sebagaian besar akan menjawah sudah…walau belum
maksimal. Bandingkan jika kita stak melakukannya. Karenanya mari saling
berlomba untuk meraih hikmah di balik pengamalan Islam secara Berjamaah. (minanews.net)
*Amir Tabiyah Jama’ah Muslimin Pusat


0 Komentar