Oleh Abu Najma Afifah M*
Tsaqofah.com - MANUSIA mana yang tidak menginginkan menjadi baik?
Apalagi jika bisa dikatakan menjadi sebaik-baik manusia. Masya Allah, ingin
rasanya kita bisa menjadi sebaik-baik manusia bukan hanya di mata manusia, tapi
lebih dari itu menjadi sebaik-baik manusia di mata Allah dan Nabi-Nya.
Andai label ‘Sebaik-baik Manusia’ itu bisa dibeli, maka
tentu saja orang-orang berharta akan lebih dulu memborongnya. Tapi,
bersyukurlah kita terlahir sebagai seorang muslim yang mukmin. Karena rupanya,
untuk mendapatkan titel ‘Sebaik-baik Manusia’ itu tak perlu merogoh kocek yang
banyak, tapi perlu perjuangan yang besar dan keimanan yang kuat.
Menurut manusia termulia, Nabi Muhammad SAW, untuk bisa
menjadi ‘Sebaik-baik Manusia’ maka bisa memperhatikan beberapa sabdanya berikut
ini.
Pertama, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah
orang yang mempelajari al Quran dan mengajarkannya. Hal ini seperti disebut
dalam hadis Nabi SAW, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang
mempelajari al Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari
no. 5027).
Tidak
ada satupun bacaan terbaik di dunia ini kecuali bacaan al Quran. Tidak ada
kandungan kitab yang penuh inspirasi selain dari kitab suci al Quran. Al Quran
bukan korang. Sebab kandungan informasi di dalam al Quran selamanya tidak akan
pernah basi. Sangat berbeda dengan Koran yang jika informasi hari ini dibaca
keesokan harinya, maka pasti menjadi basi.
Sebaik-baik
manusia bukanlah orang yang hafal novel-novel legendarisnya JK Rowling ‘Harry
Potter’ atau Ayat Ayat Cintanya Kang Abik. Namun orang terbaik menurut Nabi SAW
adalah orang yang senantiasa mempelajari al Quran dan mengajarkannya. Jadi,
siapapun yang selalu membaca al Quran untuk fasih membacanya, faham isinya lalu
mengamalkan dan mengajarkan kepada yang belum bisa membacanya, maka ia insya
Allah disebut oleh Nabi SAW sebagai sebaik-baik manusia.
Kedua, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah
orang yang baik akhlaknya. Rasulullah SAW
bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang
paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari no. 6035).
Tak
ada nilai yang lebih tinggi di dunia ini selain akhlak yang mulia. Nabi SAW
saja diutus ke muka bumi ini tujuannya hanya satu; menyempurnakan akhlak umat
manusia. Betapa agungnya orang yang berakhlak mulia. Sampai-sampai tujuan Nabi
SAW diutus saja tujuannya untuk menyempurnakan akhlak, bukan yang lain.
Ketiga, ‘Sebaik-baik
Manusia’ adalah orang yang paling diharapkan kebaikannya dan orang lain pun
merasa aman dari kejelekannya. Nabi SAW
bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan
(orang lain) merasa aman dari kejelekannya.” (HR. At-Tirmidziy no. 2263).
Tidaklah
disebut sebaik-baik manusia jika keberadaannya membuat risih banyak orang. Tidaklah
disebut sebaik-baik manusia jika orang disekitarnya tidak pernah merasa nyaman
dari gangguan lisan, tangan dan perangainya. Orang yang membuat orang nyaman,
aman dan damai ketika ada didekatnya adalah ciri orang yang bisa menjadi
sebaik-baik manusia.
Keempat, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah
orang yang paling baik kepada keluarganya. Hal ini seperti disabdakan oleh
baginda Nabi SAW, “Sebaik-baik
kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya.” (HR.
At-Tirmidziy no. 3895).
Tak
sedikit saat belum menikah, seorang lelaki begitu menggebunya mencintai seorang
wanita. Tak jarang untuk memantapkan hati si wanita, seorang lelaki berani
bersumpah bahwa jika kelak ia menjadi suaminya, maka ia akan berbuat sebaik
mungkin kepada istrinya.
Namun,
sayang sekali, setelah menikah. Usia pernikahan juga baru seumur jagung, istri
mengajukan gugatan cerai karena tidak tahan dengan akhlak buruk suaminya. Siapakah
wanita yang mampu bertahan bila selalu ada dalam tekanan dan amarah suami
sepanjang hari? Wanita mana yang sanggup kecuali wanita-wanita yang menjadikan
sabar sebagai pakaiannya.
Kelima, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah
orang yang faqih (faham) dalam
masalah syariat Isalm. Ini seperti sabda Nabi SAW, “Maka
sebaik-baik orang di antara kalian di masa Jahiliyyah adalah yang paling di
masa Islamnya apabia mereka memahami (ajaran Islam).” (HR. Bukhari no. 3374).
Menjalani
kehidupan ini tentu saja diperlukan ilmu agama. Hidup seraya hampa bila ilmu
agama tak dimiliki. Hidup serasa tak bermakna bila berjalan tanpa lentera ilmu.
Gelap gulita rasanya bila hidup tanpa ilmu. Lebih dari itu, tidak akan pernah
mencapai derajat sebagai sebaik-baik manusia bila seumur hidup tak mengenal dan
faham syariat Islam.
Keenam, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah
orang yang gemar memberikan makanan kepada orang lain dan menjawab salam. Dalam
sebuah hadis, Nabi SAW pernah
bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang memberikan
makanan dan menjawab salam.” (HR. Ahmad 6/16).
Ada dua amal yang bisa dilakukan oleh seorang muslim jika
ia ingin mendapat label sebagai sebaik-baik manusia dalam hadis di atas;
pertama, orang yang memberi makanan, dan kedua, orang yang menjawab salam. Mari
kita analisa, orang yang memberi makan disebut sebagai sebaik-baik manusia,
mengapa? Bisakah kita merasakan saat sedang kelaparan? Fahamilah, ternyata
orang yang lapar apalagi kelaparan akan membuat lemah bukan hanya fisiknya saja
tapi juga imannya, akhirnya ia bisa bertindak nekad dan melanggar aturan agama.
Kedua, orang yang ringan menjawab salam. Hari ini, tak
sedikit orang yang acuh dan tak mau menjawab salam. Jika ditanya apakah mereka
yang tidak menjawab salam itu bukan orang muslim? Tentu mereka akan marah jika
disebut non muslim? Menjawab salam menjadi salah satu tanda sebaik-baik
manusia. Karena itu, segeralah menjawab salam jika ada saudara kita yang
menebar salam.
Ketujuh, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah
orang yang senang merapatkan shaff dalam shalat. Tentang hal ini, Rasulullah SAW telah bersabda, “Sebaik-baik orang di antara
kalian adalah yang mempunyai bahu paling lembut di dalam shalat.” (HR.
Abu Daawud no. 672).
Maksud hadits ini adalah bahwa salah satu katagori orang
yang paling baik adalah orang yang ketika berada di dalam shaff, kemudian ada
orang lain yang memegang bahunya untuk menyempurnakan (merapatkan dan
meluruskan) shaff, ia akan tunduk dengan hati yang ikhlash lagi lapang tanpa
ada pembangkangan [lihat selengkapnya dalam Badzlul-Majhuud 4/338 dan Ma’alimus-Sunan
1/184).
Kedelapan, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah
orang yang panjang usianya dan baik pula amalannya. Tentang hal ini, Rasulullah
SAW bersabda,
“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang paling panjang usianya dan
paling baik amalannya.” (HR. Ahmad 2/235 & 2/403).
Ada pepatah ‘Tua-tua keladi, makin tua makin jadi’ sebuah
pepatah yang menunjukkan usia seseorang yang sudah senja tapi prilakunya kian
menjadi-jadi dan membuat orang lain yang melihatnya tidak menyenanginya.
Sebaliknya, salah satu tanda keberkahan hidup seorang hamba adalah ketika dia
diberi umur panjang hingga usia lanjut, tapi dia semakin shalih dan banyak
beramal bahkan
keberadaannya disenangi manusia.
Kesembilan, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah
orang yang menepati janji. Rasulullah SAW
bersabda, “Mereka adalah para hamba pilihan di sisi Allah pada hari Kiamat,
yaitu orang-orang yang menepati janji dan berbuat baik.” (HR. Ahmad 6/268).
Berjanji
memang mudah. Namun, tidak semudah saat menunaikan janji itu. Berbuat baik juga
mudah, bagi siapa saja yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala. Karena Allah Maha
Penyayang, maka Allah akan memudahkan bagi semua hama yang dicintai-Nya untuk
menunaikan janji dan berbuat kebaikan.
Kesepuluh, ‘Sebaik-baik Manusia’ adalah
orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda,
“Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab no. 129, Ath-Thabaraaniy dalam
Al-Ausath no. 5787).
Semua adalah pilihan. Termasuk hidup ini juga pilihan.
Semua ada di tangan kita; dengan cara apa kita mau menjadi ‘Sebaik-baik
Manusia’ maka Rasulullah SAW sudah
menjelaskan dalam beberapa hadisnya di atas. Silahkan, tinggal pilih kita mau
menjadi sebaik-baik manusia dengan cara mengamalkan ibadah dan amal apa, semua
sekali lagi tergantung pada kita, wallahua’lam. (tsaqofah.com)
*Pemerhati sosial keagamaan, penulis di beberapa media. Menetap di Majalengka


0 Komentar