Oleh Abu Habiburrahman Ansori*
Tsaqofah.com - Sungguh merugi
bagi siapa saja yang mengerjakan sholat tapi ketaatannya tidak bertambah. Rugi
pula bagi siapa saja yang mendirikan sholat tapi akhlaknya tidak juga menjadi
lebih baik. Sia-sialah bagi siapa saja yang menjalankan sholat tapi kemaksiatan
masih pula dilakukannya, hatinya tetap keras, kata-katanya kasar, dan jiwanya
kotor. Apa artinya, jika sholat terus dikerjakan tapi maksiat juga jalan.
Mari periksa
sholat kita, sebelum Allah Ta’ala memeriksanya kelak. Bagi orang-orang yang
visioner (melihat jauh ke akhirat), maka sholat adalah hal pertama yang
diyakininya kelak akan Allah nilai. Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani
rahimahullahu dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ
سَائِرُ عَمَلِهِ
“Amalan hamba
yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat nanti adalah sholat. Apabila
sholatnya baik tentu seluruh amalannya yang lain pun baik. Tetapi bila
sholatnya jelek maka seluruh amalannya pun tentu jelek.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam
Ash-Shahihah 3/343).
Sholat adalah
kekuatan bagi seorang muslim, dan ia (sholat) adalah cerminan pribadi seseorang.
Bila sholatnya baik, maka baik pula perilakunya. Sholat, bisa menjadi prisai
yang mampu mencegah seseorang dari perbuatan munkar. Seperti dalam firman Allah
Ta’ala yang artinya, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu
daripada al-Kitab dan dirikanlah shalat; sesungguhnya shalat itu mencegah dari
yang keji dan yang munkar. Dan sesungguhnya ingat akan Allah itu adalah lebih
besar. Dan Allah Mengetahui apa pun yang kamu perbuat.” (Qs.
Al-Ankabut : 45)
Sholat itu
mengandung dua hikmah, yaitu dapat menjadi pencegah diri dari perbuatan keji
dan perbuatan munkar. Maksudnya dapat menjadi pengekang diri dari kebiasaan
melakukan kedua perbuatan tersebut dan mendorong pelakunya dapat
menghindarinya. Di dalam sebuah hadis melalui riwayat Imran dan Ibnu Abbas
secara marfu’ telah disebutkan,“Siapa yang sholatnya masih belum dapat
mencegah dirinya dari mengerjakan perbuatan keji dan munkar, maka tiada lain ia
makin bertambah jauh dari Allah.”
Keutamaan
Sholat
Sholat adalah
perintah yang sangat banyak keutamaannya. Berikut ini sebagian dari hadis
tentang keutamaan sholat. Semoga bisa menambah semangat kita dalam meningkatkan
mutu sholat itu sendiri.
Pertama, Abdullah bin Umar ra. Berkata,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Islam dibangun atas lima
pondasi: Yaitu persaksian bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah)
melainkan Allah, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa ramadhan.” (HR.
Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16).
Kedua, dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, “Aku diperintahkan untuk
memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sembahan (yang berhak
disembah) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah,
menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka
mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam
dan perhitungan mereka ada pada Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 25 dan
Muslim no. 21)
Ketiga, dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu-
dia berkata: Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda, “Sesungguhnya yang
pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah
sholatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal
Dia lebih mengetahui-, “Periksalah sholat hamba-Ku, sempurnakah atau justru
kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan
jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku
memiliki amalan sholat sunnah?” Jikalau terdapat sholat sunnahnya, Allah
berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada sholat wajib hamba-Ku itu
dengan sholat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan
cara demikian.” (HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413, An-Nasai
no. 461-463, dan Ibnu Majah no. 1425. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam
Shahih Al-Jami’ no. 2571).
Amalan yang
berhubungan antara hamba dengan Allah, maka yang pertama kali dihisab darinya
adalah sholat, bukan hajinya, puasanya, sedekahnya, zakatnya. Sementara amalan
berhubungan antara makhluk dengan makhluk lainnya, maka yang pertama kali
dihisab adalah dalam masalah darah.
Hadis Abu
Hurairah di atas juga menunjukkan keutamaan sholat sunnah secara khusus, bahwa
sholat sunnah itu kelak akan dijadikan sebagai penyempurna dari kekurangan yang
terjadi dalam sholat wajib, baik kekurangan dari sisi pelaksanaannya secara
zhahir maupun kekurangan dari sisi batin dan roh sholat tersebut, yaitu
kekhusyuan.
Terkhusus untuk
setiap orang tua, takutlah kelak jika kita meninggalkan generasi-generasi yang
lemah; yang mereka meninggalkan sholat. Jika sholat saja sudah mereka
tinggalkan, maka bukan Allah dan Rasulnya yang ia jadikan pemimpin. Jika sholat
sudah ditinggalkan, maka hawa nafsulah yang akan menjadi pemimpinnya, yang akan
membimbingnya menuju kesesatan yang lebih besar lagi.
Allah Ta’ala
berfirman yang artinya, “Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti
yang mengabaikan sholat dan mengikuti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan
tersesat.” (Qs. Maryam: 59)
Para ulama
berbeda pendapat tentang yang dimaksud dengan menyia-nyiakan sholat dalam ayat
di atas. Sebagian ulama berpendapat, yang dimaksud dengan menyia-nyiakannya
adalah meninggalkannya secara total. Pendapat ini dikemukakan oleh Muhammad bin
Ka’ab al-Qurazhi, Ibnu Zaid bin Aslam, as-Suddi dan dipilih oleh Ibnu Jarir.
Ini pula yang didukung oleh para ulama Salaf, Khalaf dan para Imam serta
pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad dan salah satu pendapat dari Imam asy-Syafi’i,
yaitu mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat berdasarkan hadis:
“Di antara
hamba dan kesyirikan adalah meninggalkan sholat.”
Dan hadis
lain, “Perjanjian yang ada di antara kita dan di antara mereka adalah
sholat. Barang-siapa yang meninggalkannya, maka berarti ia kafir.” (HR.
Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i. At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.” Diriwayatkan
juga oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan al-Hakim, is berkata: “Shahih.”)
Al-Auza’i
berkata dari Musa bin Sulaiman, dari al-Qasim bin Mukhai marah, tentang firman
Allah: Fakhalafa mim ba’diHim khalfun adlaa’ush shalaata (“Akan
datang sesudah mereka satu generasi yang menyia-nyiakan sholat,”) ia berkata:
“Mereka menyia-nyiakan waktu sholat yang jika ia tinggalkan, niscaya ia kafir.”
Al-Auza’i
berkata dari Ibrahim bin Yazid, bahwa `Umar bin `Abdul `Aziz membaca: Fakhalafa
mim ba’diHim khalfun adlaa’ush shalaata (“Akan datang sesudah mereka
satu generasi yang menyia-nyiakan sholat,”) kemudian dia berkata,
menyia-nyiakannya itu bukan meninggalkan sholat, akan tetapi menyia-nyiakan
waktu-waktunya.”
Sementara itu,
Ibnu Jarir berkata dari Mujahid, ia berkata: “Mereka adalah umat ini yang
saling mengendarai kendaraan binatang dan himar di jalan-jalan, di mana mereka
tidak merasa takut kepada Allah yang ada di langit dan tidak merasa malu kepada
manusia yang ada di bumi.”
Ka’ab al-Ahbar
berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku mendapatkan sifat orang-orang munafik di
dalam Kitab Allah adalah mereka banyak minum kopi, meninggalkan sholat, banyak
bermain, banyak tidur di waktu malam, lalai di waktu siang dan banyak
meninggalkan jama’ah dalam sholat. Kemudian dia membaca ayat ini: Fakhalafa
mim ba’diHim khalfun adlaa’ush shalaata wattaba’usy syaHawaati fasaufa yalqauna
ghayyan. Al-Hasan al-Bashri berkata: “Mereka meninggalkan masjid dan selalu
mengunjungi tempat-tempat hiburan.”
Inti dari semua
pendapat para ulama di atas adalah sama, bahwa siapa pun yang meninggalkan
sholat berarti dia telah melanggar dan menentang perintah Allah Subhanahu Wa
Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jika perintah Allah dan
Nabinya saja sudah berani diabaikannya, lalu apa yang bisa diharapkan dari
orang yang sudah berani meninggalkan perintah Allah dan Nabi-Nya?
Sejatinya,
sholat yang kita lakukan waktu demi waktu, hari demi hari, minggu demi minggu,
bulan demi bulan bahkan tahun ke tahun, harus menjadi lebih baik dan penuh
bobot. Paradigma kita tentang sholat itu harus dirubah. Jika selama ini kita
menjadikan sholat hanya menggugurkan kewajiban, maka rubahlah mindset itu. Jadikan
sholat itu sebagai kebutuhan ruhiyah kita. Ibarat raga yang selalu perlu asupan
makanan, begitu juga seharusnya penghayatan kita tentang sholat. Wallahua’lam. (tsaqofah.com)
*Pemerhati masalah keluarga, sosial dan agama, menetap di Majalengka


0 Komentar