Tsaqofah.com - Aku meminta kepada Allah untuk menyingkirkan penderitaanku.
Allah menjawab, “Tidak. Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau
mengalahkannya.”
Aku meminta kepada Allah untuk menyempurnakan (menghilangkan) kecacatanku.
Allah menjawab, “Tidak. Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.”
Aku meminta kepada Allah untuk menghadiahkanku kesabaran.
Allah menjawab, “Tidak. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak
dihadiahkan, itu harus dipelajari.”
Aku meminta kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan.
Allah menjawab, “Tidak. Aku memberimu berkah. Kebahagiaan sangat tergantung
padamu.”
Aku meminta kepada Allah untuk menjauhkan penderitaanku.
Allah menjawab, “Tidak. Karena penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi
dan membawamu mendekat kepadaKu.”
Aku meminta kepada Allah untuk menumbuhkan ruhku.
Allah menjawab, “Tidak. Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan
memangkas untuk membuatmu berbuah.”
Aku meminta kepada Allah segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.
Allah menjawab, “Tidak. Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat
menikmati segala hal.”
Aku meminta kepada Allah membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia
mengasihiku.
Allah menjawab, “Ahhh, akhirnya kau mengerti juga.”
Saudaraku... Allah mencintai setiap hambaNya, bahkan seluruh makhluk hidup
yang ada di muka bumi ini. Allah tahu mana yang terbaik bagi hambaNya. Tapi
mengapa kita kadang terlalu bebal untuk menyingkap tabir dibalik
kemahabesaranNya... Dia menjadikan segala sesuatu atas rasa cinta dan kasih
sayangNya bukan atas kebencian dan kemurkaan, sebab Allah lebih mendahulukan
rahmatNya dari pada murkaNya. Tapi mengapa kadang kita memaksakan diri untuk
membenci sesuatu yang Dia perintahkan dan menyenangi sesuatu yang Dia larang.
Karena Allah begitu sayang kepada setiap hambaNya, maka mestinya rasa kasih
dan sayang itu menjadi pakaian kita dalam kehidupan fana ini. Sebab kasih
sayang adalah wujud dari ukhuwah di antara sesama muslim. Dari kasih sayang itu
akan lahir kekuatan ukhuwah yang tak akan goyah meski diterpa badai fitnah.
Sebaliknya, tanpa kasih sayang, bencana ruhani berupa penyakit-penyakit hati
akan mudah bersarang didalam hati kita.
Saudaraku... Kasih sayang Allah itu tak selamanya mewujud dalam kesenangan
hidup, melimpahnya harta, banyaknya keturunan, tingginya jabatan, besarnya
pengaruh, berderetnya titel akademik atau tubuh yang gagah, tampan, cantik
rupawan.
Bisa jadi, orang yang senantiasa mendapat curahan kasih sayang Allah
itu secara fisik ia penuh kekurangan, tak berpunya, bahkan berpenyakit. Tapi
tahukah kita dengan fisik yang serba kekurangan, miskin dan berpenyakit itulah
justeru jika ia sabar dan tawakal, maka Allah akan menjaganya dari api neraka
kelak dan memasukkannya ke dalam surga yang kekal lagi abadi.
Saudaraku... Sucikan hati ini dengan meningkatkan takwa kepada Allah.
Ingatlah akhirat dengan memperbanyak amalan-amalan yang disenangiNya. Kelak,
bila masanya tiba, setiap kita pasti akan berdiri di hadapan Allah
sendiri-sendiri untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan dan ucapan lisan.
Terkait dengan doa dan bekal akhirat ini, Imam Asy-Syafi’iy pernah memberikan
satu nasihat kepada muridnya, Imam Al-Muzany. Sebuah nasihat yang menyentak
hati setiap kaum beriman agar memperbanyak taubat atas kotoran jiwa yang hampa.
Berikut adalah nasihat Imam Syafi’iy, “Pagi ini aku akan melakukan
perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk
gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan
amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku
memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur
kesedihannya.”
Bertakwalah kepada Allah. Permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah
kematian antara kedua matamu, dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di
hadapan Allah. Takutlah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah segalah hal
yang Dia haramkan, laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, dan
hendaknya engkau bersama Allah di manapun engkau berada. Janganlah sekali-kali
engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu -walaupun nikmat itu sedikit- dan
balaslah dengan bersyukur.
Jadikanlah diammu sebagai tafakur, pembicaraanmu sebagai dzikir, dan
pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang menzalimimu, sambunglah
(silaturrahim dari) orang yang memutus silaturahim terhadapmu, berbuat baiklah
kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala
musibah, dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.
Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu,
rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharahmu, kebenaran sebagai
perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya
tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, ridha sebagai amanahmu,
pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut
sebagai pakaianmu, shadaqah sebagai pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu.
Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu,
tawakal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu, dan kefakiran sebagai
pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai
tujuanmu, Al Quran sebagai juru bicaramu dengan kejelasan, serta jadikanlah
Allah sebagai Penyejukmu. Siapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat
tinggalnya.”
Kemudian, Asy-Syafi’iy mengangkat pandangannya ke arah langit seraya
menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir,
“Kepada-Mu -wahai Ilah segenap makhluk, wahai Pemilik anugerah dan kebaikan-kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa
Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku, kujadikan harapan
pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku
Kurasa dosaku teramatlah besar, tetapi tatkala dosa-dosa itu kubandingkan dengan
maafMu -wahai Rabbku-, ternyata maafMu lebihlah besar
Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus Engkau memberi
derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan
Andaikata bukan karenaMu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis.
Bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu, Adam
Kalaulah Engkau memaafkan aku, Engkau telah memaafkan seorang yang congkak, zalim lagi sewenang-wenang yang masih terus berbuat
dosa
Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa, walaupun diriku
telah engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku
Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang, namun maafMu -wahai Maha Pemaaf-
lebih tinggi dan lebih besar
(Tarikh Ibnu Asakir Juz 51 hal. 430-431)
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menerima amal ibadah kita, memudahkan setiap
urusan kita, menyatukan jiwa-jiwa kita dalam balutan kasih sayangNya serta
berkenan memasukkan kita ke dalam surgaNya yang penuh kenikmatan, aamiin. Wallahua’lam. (Bahron Ans.)


0 Komentar