Oleh Abu Labib Abdullah*
Disadari atau tidak, seringkali
seorang suami merasa lebih baik dalam semua hal dibanding isterinya. Egoisme suami terkadang lebih dominan menguasai isterinya. Hal itu bisa dilihat dari
ketidaksiapan suami saat menerima masukan atau pendapat dari isterinya.
Padahal, diawal si suami yang meminta agar isterinya berpendapat atau memberi
masukan atas suatu permasalahan.
Tapi saat isterinya memberi
masukan, tak sedikit suami yang tetap kekeuh mempertahankan pendapatnya
sendiri. Padahal bisa jadi, pendapat isteri jauh lebih baik. Perilaku suami
seperti diatas adalah bagian dari akhlak yang semestinya tidak terjadi. Tak
jarang, isteri merasa kecewa karena pendapatnya
ditolak oleh suami tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu.
Isteri adalah wanita yang lemah
fisiknya, lembut hati dan jiwanya serta tak senang mendengar kata-kata kasar
dari suaminya. Isteri adalah seorang wanita yang kesabarannya jauh lebih besar
dibanding suami. Fakta itu bisa dilihat dengan ketulusannya melayani suami dan
anak-anaknya diatas kepentingan pribadinya. Karena itu, Allah sangat memuji
setiap suami yang mampu memperlakukan isterinya dengan lemah lembut dan penuh
kasih sayang.
Tentang perintah mempergauli
isteri dengan baik ini, bisa dilihat dari firman Allah Ta’ala yang artinya, "Dan pergaulilah
isteri-isteri kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka,
(maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah
menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Qs. an-Nisaa’: 19).
Betapa mulianya seorang suami yang mampu menggembirakan
hati isteri walau tidak selamanya dengan materi. Dalam sebuah hadis disebutkan,
para suami yang senang menghibur dan membuat gembira isteri-isterinya, maka ia
mendapat pahala menangis karena takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa menggembirakan hati isteri, (maka) seakan-akan ia menangis takut kepada Allah. Siapa yang
menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan
tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami isteri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan
penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan isteri (meremas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-isteri itu dari sela-sela jarinya.” [HR. Maisarah
bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Al-Khudzri].
Subhanallah…betapa besar pahala dari Allah kepada setiap
suami yang memperlakukan isterinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Sungguh, betapa besar rahmat Allah
Ta’ala yang akan dilimpahkan kepada setiap pasangan suami isteri yang menikah
karena mengharap ridha dan rahmat Allah semata. Karena itu, mendamba suami
shalih, berilmu dan berakhlak mulia adalah idaman setiap muslimah di muka bumi
ini. Sebab hanya suami yang shalih, berilmu dan berakhlak mulia saja yang
dengan izin Allah mampu menempatkan isterinya pada tempat yang mulia.
7 Kesalahan Suami
Bila ada seorang isteri yang melakukan kemaksiatan
kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan langsung memvonisnya. Bisa jadi, kemaksiatan
yang dilakukan isteri sebagai akibat kelalaian
suami dalam membekali isterinya ilmu agama. Isteri adalah cerminan
suami. Artinya, jika isterinya melakukan kesalahan, bisa jadi karena isteri
tidak mendapatkan pengarahan dan nasihat kebaikan dari suaminya.
Paling tidak, ada 7 kesalahan suami kepada isterinya
yang sering tak disadari. Kesalahan-kesalahan itu, antara lain sebagai berikut.
Pertama, Tidak Mengajarkan Ilmu Agama pada Isteri
Salah satu bentuk ketidakpedulian seorang suami kepada
isterinya adalah tidak mengajarkan ilmu syariat (agama) kepada isterinya.
Padahal Allah Ta’ala jauh hari telah mengingatkan agar seorang suami yang nota
bene adalah pemimpin dalam rumah tangganya agar tidak hanya memelihara dirinya
dari api neraka, tapi juga keluarga (anak dan isteri).
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang–orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat–malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yg di perintahkan-Nya kepada mereka
& selalu mengerjakan apa yang diperintakan.” [Qs.
At-Tahrim: 6]
Banyak suami yang hanya
membekali isteri dengan uang bulanan, tapi tidak mengisi kekosongan ilmu dan ruhiyahnya.
Padahal di zaman ini, penting untuk membekali diri dan keluarga dengan
pemahaman Islam yang menyeluruh. Jangang mengira ketika sudah membekali
isteri dengan materi berupa uang belanja dikira sudah cukup untuk menjadi suami
yang baik dan bertanggung jawab.
Kedua, Tidak Mau Membantu Pekerjaan Rumah
Banyak juga suami yang
enggan dan gengsi jika harus membantu mencuci piring, menyapu, mencuci baju,
menjemur pakaian sekedar membantu isterinya. Padahal jika ditanya
siapakah idolanya, maka dengan mantap si suami akan menjawab idonya adalah
baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Tapi
kenyataannya, sekedar membantu menyenangkan hati isteri dengan meringankan beban kerjanya didapur saja sulit dilakukan.
Alasannya itu adalah pekerjaan seorang isteri.
Jika mau menghayati tarikh, mara Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam adalah tipe suami teladan yang gemar membantu isteri-isterinya
mengerjakan pekerjaan rumah. Membantu isteri di rumah adalah salah satu
dari akhlak mulia dan itu sama sekali tidak
merendahkan kedudukan suami, bahkan justru bertambah kemuliaan suami karenanya.
Ketika Aisyah r.a
ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di
rumahnya, beliau menjawab, “Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membantu
pekerjaan isterinya dan jika datang waktu solat, maka beliau pun keluar untuk
solat.” [HR. Bukhari]
Ketiga, Membenci Isteri
Entah mengapa, seringkali ada suami yang membenci
isterinya. Padahal isterinya sudah seharian bersusah payah mengurus keperluan
suami dan anak-anaknya. Bukan hanya itu, seorang isteri juga biasanya disibukkan dengan
membersihkan semua isi rumah agar terlihat
bersih dan indah. Suami yang membenci isterinya adalah suami yang tidak
menjadikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai teladan dalam hidupnya.
Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah
bersabda, “Janganlah seorang suami yang beriman membenci isterinya
yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti meridhai
akhlak lain darinya.” [HR. Muslim]
Ada pula suami yang
justru membenci isteri yang dinikahinya. Mendiamkan isteri, dan memandang semua
yang dilakukan isterinya salah. Sungguh ini adalah kesalahan fatal para suami yang tidak bisa
bersabar. Jika terus-menerus dibiarkan, akan memperburuk kondisi rumah
tangga.
Keempat, Menyebarluaskan Rahasia atau Aib Isteri
Tak sedikit suami yang
pergaulannya buruk lalu menceritaan aib isterinya sendiri dihadapan
teman-temannya
seperti membicarakan aktivitas suami-isteri sebagai sebuah mainan. Padahal
Allah Ta’ala sudah menutup mereka, tapi malah ia buka sendiri. Allah sangat
membenci seorang suami yang menceritakan aib isterinya dihadapan orang lain.
Selain itu, ia telah membuat kedudukannya rendah di
hadapan Allah.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya di antara orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah
pada hari kiamat adalah seseorang yang menggauli isterinya & isterinya menggaulinya
kemudian dia menyebarkan rahasia-rahasia isterinya.” [HR. Muslim]
Kelima, Memukul Isteri
Para suami dilarang
untuk memukul isteri, jikalau pun isteri melakukan kesalahan yang melanggar aturan Allah, tetap tidak boleh
memukulnya di wajah.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Hendaklah engkau memberinya makan jika engkau makan, memberinya pakaian
jika engkau berpakaian, tidak memukul wajah, tidak menjelek-jelekkannya…..” [HR. Ibnu Majah disahihkan oleh Syeikh Albani]
Memukul isteri adalah sebuah keburukan bagi seorang
suami shalih. Bagaimana mungkin ia tega memukul belahan jiwanya sendiri.
Bagaimana mungkin ia tak takut dihadapan Allah dan Rasulnya kelak jika di
akhirat nanti ia diminta pertanggungjawaban atas prilaku kasarnya kepada isterinya.
Keenam, Tidak Menafkahi Istri dan Anak
Tidak sedikit suami
yang sengaja mengabaikan nafkah untuk isternya. Akibat suami tidak menafkahi
isterinya ini, maka tak heran begitu banyak isteri yang memutuskan dengan
sengaja untuk keluar rumah mencari nafkah sendiri. Keluar rumah meninggalkan
fitrohnya sebagai ibu rumah tangga. Padahal kehormatan seorang suami dihadapan isterinya
adalah karena kegigihannya dalam mencari nafkah untuk isterinya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “dan kewajiban ayah ialah memberi makan dan pakaian kepada isterinya itu
menurut cara yang sepatutnya. Tidaklah diberatkan seseorang melainkan menurut
kemampuannya…” (Qs. Al Baqarah 233)
Ketujuh, Tidak Cemburu
Kesalahan lainnya yang
sering tidak diperhatikan adalah, suami tidak merasa cemburu terhadap isterinya. Bahkan di kalangan selebritis, para perempuan bersolek dan cium pipi
kanan kiri dengan pria lain (ajnabi) atau fansnya seolah
sudah biasa.
Padahal prilaku itu adalah prilaku jahiliyah.
Camkan ancaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wassalam terhadap lelaki yang tidak memiliki kecemburuan terhadap
keluarga (isteri),
“Tiga golongan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yaitu seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang
menyerupai lelaki dan ad-Dayyuts.” [HR. An-Nasa’i dinilai ‘hasan’ oleh syeikh Albani, lihat ash-Shahihah : 674]
Ada yang menanyakan apakah ad-Dayyuts
(dayus) itu? Dayus adalah lelaki atau suami yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarganya.
Jadi, mari berlomba menjadi suami yang shalih agar
menjadi teladan bagi isteri, shalih agar mampu membagi ilmu kepada isteri dan
membimbingnya menjadi bidadari-bidadari dunia yang shalihah. Bersyukurlah bagi
setiap lelaki yang memiliki isteri shalihah, sebab keberadaanya di sisimu
sebagai wasilah dari Allah untuk menjadikanmu lebih shalih lagi, wallahua’lam. (sumber: minanews.net)
x


0 Komentar