Oleh: Kurnia Muhamad Hudzaifah
Wartawan Media Online
(Tsaqofah.com) Abdurrahman bin Auf merupakan salah
seorang dari sahabat Nabi Muhammad yang terkenal. Ia adalah salah seorang dari
delapan orang pertama yang menerima agama Islam, yaitu dua hari setelah Abu
Bakar. Dan juga mendapat rekomendasi masuk
surga karena kedermawanannya.
Abdurrahmân bin Auf bin Abdi Auf bin Abdil Hârits Bin Zahrah bin
Kilâb bin al-Qurasyi az-Zuhri Abu Muhammad. Dia juga salah seorang dari enam
orang Sahabat Radhiyallahu anhum yang ahli syura.
Dia dilahirkan kira-kira sepuluh tahun setelah tahun Gajah dan
termasuk orang yang terdahulu masuk Islam. Dia hijrah sebanyak dua kali dan
ikut serta dalam perang Badar dan peperangan lainnya.
Saat masih jahilillah, ia
bernama `Abdul Ka`bah atau `Abdu `Amr; kemudian diberi nama `Abdurrahmân oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunya bernama Shafiyah. Sedangkan
ayahnya bernama `Auf bin `Abdu `Auf bin `Abdul Hârits bin Zahrah.
Abdurrahmân bin Auf adalah seorang Sahabat Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam yang sangat dermawan dan yang sangat memperhatikan dakwah
Islam.
`Abdurrahman bin Auf pernah menjual
tanahnya seharga 40 ribu dinar, kemudian membagi-bagikan uang tersebut kepada
para fakir miskin bani Zuhrah, orang-orang yang membutuhkan dan kepada
Ummahâtul Mukminin (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Al-Miswar
berkata, “Aku mengantarkan sebagian dari dinar-dinar itu kepada Aisyah
Radhiyallahu anhuma. Aisyah Radhiyallahu anhuma dengan sebagian dinar-dinar
itu.”
Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata. “Siapa yang telah mengirim
ini?” Aku menjawab, “`Abdurrahmân bin Auf”. Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata
lagi, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
bersabda, “Tidak ada yang menaruh simpati kepada kalian kecuali dia termasuk
orang-orang yang sabar. Semoga Allah Azza wa Jalla memberi minum kepada
`Abdurrahmân bin Auf dengan minuman surga.
Dalam hadits lain disebutkan suatu ketika Rasulullah memberikan sesuatu
kepada sekelompok sahabat Radhiyallahu anhum yang di sana terdapat `Abdurrahmân
bin Auf Radhiyallahu anhu.
Namun Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan apa pun
kepadanya.
Kemudian `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu keluar dengan menangis dan
bertemu Umar Radhiyallahu anhu . Umar Radhiyallahu anhu bertanya, “Apa yang
membuatmu menangis?” Ia menjawab: “Rasulullah memberikan sesuatu kepada
sekelompok sahabat, tetapi tidak memberiku apa-apa. Aku khawatir hal itu akibat
ada suatu keburukan padaku”.
Kemudian Umar Radhiyallahu anhu masuk menemui Rasulullah dan
menceritakan keluhan `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu itu. Rasulullah pun
menjawab, ‘Aku tidak marah kepadanya, tetapi cukup bagiku untuk mempercayai
imannya.
Keutamaan Abdurrahmân bin Auf
Abdurrahmân bin `Auf walaupun memiliki harta yang banyak dan
menginfakkanya di jalan Allah, namun dia selalu mengintrospeksi dirinya.
`Abdurrahmân Radhiyallahu anhu pernah mengatakan, “kami bersama Rasulullah diuji
dengan kesempitan, namun kami pun bisa bersabar, kemudian kami juga diuji
dengan kelapangan setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami pun
tidak bisa sabar”.
Suatu hari `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu diberi makanan, padahal
dia sedang berpuasa. Ia mengatakan, “Mush`ab bin Umair telah terbunuh, padahal
dia lebih baik dariku. Akan tetapi ketika dia meninggal tidak ada kafan yang
menutupinya selain burdah (apabila kain itu ditutupkan di kepala, kakinya
menjadi terlihat dan apabila kakinya ditutup dengan kain itu, kepalanya menjadi
terlihat).
Demikian pula dengan Hamzah, dia juga terbunuh, padahal dia lebih
baik dariku. Ketika meninggal, tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah.
Aku khawatir balasan kebaikan-kebaikanku diberikan di dunia ini. Kemudian dia
menangis lalu meninggalkan makanan tersebut.
Senada dengan kisah di atas, Naufal bin al-Hudzali berkata, “
Dahulu Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu teman bergaul kami. Beliau adalah
sebaik-baik teman. Suatu hari dia pulang ke rumahnya dan mandi. Setelah itu dia
keluar, ia datang kepada kami dengan membawa wadah makanan berisi roti dan
daging, dan kemudian dia menangis.
Kami bertanya, “ Wahai Abu Muhammad (panggilan `Abdurrahmân), apa
yang menyebabkan kamu menangis?” Ia menjawab, “Dahulu Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam meninggal dunia dalam keadaan beliau dan keluarganya belum
kenyang dengan roti syair. Aku tidak melihat kebaikan kita diakhirkan.
Abdullâh bin Abbâs Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Umar bin
Kaththâb Radhiyallahu anhu pergi ke Syam. Ketika sampai Sarghin (nama sebuah
desa di batas Syam setelah Hijâz), ia berjumpa dengan penduduk al-Ajnad yaitu
Abu Ubâdah dan para sahabatnya. Mereka memberitahu bahwa wabah penyakit telah
berjangkit di Syam.
Umar Radhiyallahu anhu berkata, ‘Panggilkan aku para Muhajirin yang
awal (berhijrah)!’ Aku (`Abdullâh bin Abbâs-red) pun memanggil mereka. Umar
Radhiyallahu anhu memberitahu dan meminta pendapat mereka tentang wabah
tersebut.
Kemudian mereka berselisih, sebagian mengatakan, “Engkau telah keluar
untuk suatu tujuan. Menurut pendapat kami, engkau jangan mundur.” Sedangkan
sebagian lain mengatakan, “Engkau bersama banyak orang dan bersama para Sahabat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka kami berpendapat agar tidak
membiarkan mereka terkena wabah.”
Umar Radhiyallahu anhu berkata lagi : “Panggilkan para Anshar
untukku”. Akupun memanggil mereka. Kemudian Umar Radhiyallahu anhu meminta
pendapat kepada mereka dan mereka sama dengan pendapat para kaum Muhajirin
yaitu mereka juga berbeda pendapat. Lalu Umar Radhiyallahu anhu berkata:
“Panggilkan orang-orang tua Quraisy dari orang yang hijrah ketika fathu Mekah,
yang berada di sini.”
Akupun memanggil mereka dan tidak ada seorangpun yang berselisih.
Mereka mengatakan, “Pendapat kami, sebaiknya kamu membawa kembali orang-orang
dan tidak membiarkan mereka terkena wabah.”
Kemudian Umar Radhiyallahu anhu
berkata kepada orang-orang, “Sebaiknya kita kembali.” Dan merekapun setuju
dengannya. Abu Ubaidah bin Jarrâh Radhiyallahu anhu mengatakan, “Apa kita
berusaha berlari dari takdir Allah Azza wa Jalla ?” Umar Radhiyallahu anhu
menjawab, “Seandainya selainmu mengucapkan hal itu, wahai Abu Ubaidah.
Ya, kami berlari dari takdir Allah Azza wa Jalla menuju takdir
Allah Azza wa Jalla yang lain. Kemudian datanglah `Abdurrahmân bin Auf
Radhiyallahu anhu dan mengatakan: “Dalam hal ini, aku memiliki ilmunya. Aku
mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِذَا
سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ
بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ
Jika kalian mendengar (ada wabah) di suatu negeri, maka janganlah
kalian mendatanginya. Dan apabila wabah terjadi di suatu negeri dan kalian
berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar/lari darinya. (HR. Bukhâri no. 5398).
Pada zaman Nabi, `Abdurrahmân bin `Auf Radhiyallahu anhu pernah
menyedekahkan separuh hartanya. Setelah itu dia bersedekah lagi sebanqak 40.000
dinar. Kebanyakan harta bendanya diperoleh dari hasil perdagangan.
Ja`far bin Burqan mengatakan, “ Telah sampai kabar kepadaku bahwa
`Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu telah memerdekakan 3000 orang.
Imam Bukhâri menyebutkan dalam kitab tarikhnya bahwa `Abdurrahmân
pernah memberikan wasiat kepada semua Sahabat yang mengikuti perang badar dengan
400 dinar. Dan jumlah mereka ketika itu 100 orang.
Dia meninggal dunia pada tahun 32 H. Dia berumur (72) tahun dan dia
dikubur di pemakaman baqi` dan `Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu ikut
menyalatkannya.
Demikian selintas kisah tentang seorang Sahabat Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam yang sangat kaya, seorang konglomerat pada jamannya, namun
amat sangat dermawan. Semoga menjadi tauladan bagi kita semua. Wallâhu a`lam
Sumber:
1. Ash-Shahâbah, Syaikh Shâlih bin Thaha `Abdul Wâhid, Maktabah
al-Ghurabâ`, Dâr al-Atsariyah, cet. Ke-1 tahun 1427H
2. Al-Ishâbah fî Tamyîz ash-Shahâbah, Ibnu Hajar al-Asqalâni,
tahqîq: Khalîl Makmûn Syîha, Dârul Makrifah, Beirut
3. Fadhâilush Shahâbah Lil Imâm Ahmad, Dâr Ibnul Jauzi cet. ke-2
tahun 1420 M


0 Komentar