Tsaqofah.com - Dalam
era kebebasan yang di dalamnya terselip tradisi yang kuat di masyarakat ibukota
Jakarta, pelaksanaan Islam tetap kental oleh selipan-selipan tradisi dan ibadah
tambahan yang pada hakekatnya tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.
Adalah
Drs. Syamsuddin Ahmad, MM atau Syamsuddin bin Ahmad Tahamim , pria kelahiran
Bima 14 November 1960, seorang pengajar dan ustadz yang teguh mendakwahkan ajaran
Islam yang bersih dari berbagai ajaran-ajaran penambahan di padatnya masyarakat
ibukota Indonesia.
Berguru di perantauan
Pendidikan
putera kedua dari pasangan Ahmad Tahamim dan Siti Raf’a ini dimulai dari
Madrasah Ibtidaiyah (MI). Ayahnya adalah Guru Agama dan Kepala MI.
Lulus
dari MI, Syamsuddin Ahmad masuk ke Tsanawiyah Negeri di kota Raba, Bima,
sekitar 45 km dari tempat tinggal.
Di
jenjang setingkat SLTP ini, Syamsuddin sudah disebut merantau, karena tidak
tinggal lagi di rumah orang tuanya, melainkan di rumah kerabat di Raba. Pada
masa itu, transportasi masih sangat jarang, mobil hanya ada dua kali dalam
sehari.
Di
masa tiga tahun pendidikan Tsanawiyah, Syamsuddin terpengaruh oleh cita-cita
temannya yang ingin menjadi guru, tapi tinggi yang dibawah 150 cm membuat
Syamsuddin tidak diterima di SPG Negeri.
Namun
pada kelulusan saat itu, ada teman yang mengajak mendaftar ke Sekolah Menengah
Persiapan Pembangunan Negeri (SMPPN), sebuah sekolah SMA unggulan dengan dasar
pendidikan umum. Kabarnya, sekolah tersebut bonafit, di mana kebanyakan anak
pejabat-pejabat Bima sekolah di SMPPN. Syamsuddin pun bersekolah di sana.
SMPPN
berlokasi di kota Raba juga, jadi Syamsuddin masih tinggal di rumah
keluarganya, tepatnya di rumah adik nenek dari jalur ibu.
Seharusnya
Syamsuddin tamat di SMPPN 1978, tapi karena perpanjangan tahun, jadi mundur
setahun lagi.
Lulus
dari SMPPN, Syamsuddin pergi ke Malang, Jawa Timur. Temannya sesama jebolan
SMPPN yang pulang ke Malang mengajaknya mendaftar ke IKIP Malang (sekarang
Universitas Negeri Malang).
Setelah
mendaftar di IKIP, sang Ayah yang saat itu mengantar Syamsuddin ke Malang, menyarankan
puteranya agar mendaftar juga di IAIN Malang.
“Ternyata,
setelah pengumuman, saya tidak lulus di IKIP, tapi justeru diterima di IAIN,”
kata Syamsuddin kepada Tsaqafah.
Syamsuddin
pun mengambil Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam. Saat itu hanya
ada dua jurusan, yang lainnya adalah jurusan Bahasa Arab.
Usai
menamatkan Sarjana Muda pada 1983, Syamsuddin kembali ke Bima. Setelah beberapa
bulan, barulah ia merantau ke Jakarta bersama kakaknya yang memang tinggal di
Jakarta. Syamsuddin memiliki tujuh saudara kandung.
Alasan
ekonomi keluarga yang berjuang keras dalam membiayai kuliahnya, membuat
Syamsuddin memutuskan untuk bisa segera bekerja. Syamsuddin mengungkapkan,
sejak masa di SMPPN, dirinya sudah mulai merasakan kesulitan dalam hal
pembiayaan, seperti menunggu kiriman dari orang tua dan lain sebagainya. Sama
halnya ketika ketika kuliah di Malang.
“Tapa
pada intinya, semuanya kesulitan ekonomi tersebut bisa teratasi pada akhirnya,”
kata Syamsuddin.
Menjadi Guru di Jakarta
Di
Jakarta, untuk sementara Syamsuddin tinggal di rumah Kakak. Takdir baik segera
menyambut Syamsuddin.
Di
Ibukota, Syamsuddin langsung diajak oleh tetangga kakaknya yang bekerja sebagai
sipir penjara, tapi juga mengajar di Pesantren Al-Wathoniyah, di Klender,
Jakarta.
“Dengan
izin Allah, setibanya di Jakarta saya tidak menganggur, tapi bisa langsung
menjadi guru di pesantren, meski honorer. Saat itu saya mengajar Sejarah Islam.”
Tidak
berapa lama, adik kandung Syamsuddin mengajaknya mengajar di sebuah SMEA di
Cijantung. Dan Syamsuddin pun mengajar di dua tempat.
Menikahi Cucu Tuan Guru dengan honor Rp.
50.000
Pada
akhir tahun 1984, dengan gaji honorer saat itu masih Rp 50.000 sebulan, Syamsuddin
muda memberanikan diri menikah. Maka pulanglah ia ke Bima untuk menikah dengan
Nurhasanah yang dahulunya adalah adik kelasnya di tingkat Tsanawiyah.
Nurhasanah
adalah cucu seorang Kiai yang disebut Tuan Guru di Bima. Tuan Guru dahulunya
adalah mufti di Makkah, Arab Saudi.
Ketika
awal mau pergi ke Malang, Nurhasanah telah dilamar oleh keluarga Syamsuddin.
Hal itu dilakkan sebagai bentuk pengikatan, agar Nurhasanah tidak dilamar orang
lain di masa-masa yang akan datang, sebelum pernikahan terjadi.
Saat
memboyong isteri tersayang ke Jakarta, Syamsuddin akhirnya memutuskan tidak
tinggal lagi di rumah kakaknya, tetapi memilih tinggal di daerah Cengkareng, Jakarta
Barat. Di sana, pasangan baru itu mengontrak rumah, tapi dekat dengan
lingkungan keluarga isteri yang ada di daerah Cengkareng.
Di
masa itulah (1985), Syamsuddin melamar sebagai guru di SMP IP Yakin, sekolah
swasta. Selain itu ia juga melamar di SMEA PGRI 6 Roxy. Dua jabatan guru
sebelumnya dilepas. Setelah itu, ia juga mengajar di beberapa sekolah lainnya.
Tahun
1991, ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Beberapa tahun kemudian kuliah
dilanjutkan hingga memperoleh S1.
“Golongan
saya juga mulai naik dan naik,” kata Syamsuddin.
Pada
2009, Syamsuddin melanjutkan kuliahnya untuk mengambil Magister Management
(MM).
Menyentuh Dakwah dan Boikot Masjid
Syamsuddin
mulai menekuni dunia dakwah ketika tinggal di Cengkareng. Dahulu, meskipun
masih kuliah, namun ketika pulang ke Bima, ia suka diminta ceramah.
“Saya
mulai intens berceramah, berkhutbah, mengisi taklim, saat keluarga besar suku
Bima di Cengkareng membangun sebuah masjid. Saat itu usia saya masih 25 tahun,
tapi saya sudah diamanahi Seksi Dakwah di kepengurusan masjid tersebut,” ujar
Syamsuddin.
Lima
tahun lamanya, Syamsuddin dan isteri mengontrak rumah. Barulah pada 1992 sudah
memiliki rumah sendiri dengan lima orang anak.
Setelah
menetapi kembali pemahaman jamaah imamah yang kembali kepada sistem
kepemimpinan Islam di bawah satu pemimpin umat, Syamsuddin semakin semangat
mendakwahkan syariat bersatu dalam sistem jamaah imamah.
Syariat
jamaah imamah yang tidak populer dan dianggap paham baru serta aliran
keras, membuat beberapa masjid sekitar lingkungan rumah, tidak lagi berkenan
menerima Syamsuddin. Terlebih ketika ia semakin gencar tidak mentolerir
hal-hal yang bersifat di luar sunnah (sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallan).
“Namun
boikot masji-masjid yang tidak menyukai saya, Allah ganti dengan masjid-masjid
dan majelis-majelis yang lebih menerima sunnah. Pada awalnya, saya masih
mengisi di beberapa masjid yang menganut paham di luar sunnah. Namun, ketika
mereka tahu saya telah berbai’at di dalam Jamaah Muslimin (Hizbullah) dengan
sistem “khilafah yang mengiktui jejak kenabian”, mereka menstop saya,” tutur
Syamsuddin.
“Tapi
setelah itu, banyak tawaran berdatangan kepada saya untuk mengisi taklim-taklim
hingga jadwal saya padat. Jadi Allah membuka dua kali lipat lapangan dakwah ini,” katanya.
Syamsuddin
juga pernah diamanahi jabatan sebagai amir di Jamaah Muslimin (Hizbullah)
Wilayah Jakarta Barat. Dan pada tahun 1997 hingga sekarang, ia mendapat amanah
sebagai Amir Dakwah Jamaah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek.
(Ust. Syamsudin bersorban merah jambu)
Orang Keras yang Menemukan Pemimpin
Sebelum
membai’at Imam Jamaah Muslimin (Hizbullah), Syamsuddin cenderung sudah
mencari-cari sentral kepemimpinan umat Islam.
“Saya
terus berusaha mencari, tapi belum menemukan konkritnya seperti apa,”
kenangnya.
Ia menceritakan,
“Suatu saat, akhir 1988, seorang amir di Jamaah Muslimin daerah Cengkareng,
Rusdi Usman, mendengar kabar bahwa ada seorang ustadz dan “orang keras” yang bernama
Syamsuddin, yang suka menyerang
pemerintah dan kebijakannya saat ia berceramah. Suatu hari, saya didatangi oleh
Pak Rusdi yang tidak saya kenal sebelumnya di sekolah Roxy tempat saya
mengajar.”
Saat
itu, Paus pemimpin umat Katholik berkunjung ke Indonesia.
Rusdi
langsung membicarakan latar belakangnya ia berdakwah.
“Coba
Ustadz lihat, Paus itu datang ke Indonesia sebagai pemimpin besar umat Kristen
sedunia. Bagaimana kita? Kita seharusnya lebih dari itu. Kita seharusnya
memiliki sentral kepemimpinan,” kata Rusdi kepada Syamsuddin saat itu.
“Ini
justeru yang saya cari, pembicaraan seperti ini,” kata Syamsuddin seperti
menemukan mutiara yang hilang.
Rusdi
pun tersenyum dan berkata, “Bagaikan gayung bersambut. Karena ini waktu yang
singkat, Ustadz berikan saja alamat Ustadz, saya akan datang.”
Maka,
keesokannya, Rusdi datang bersama wakilnya yang bernama Sutardi dengan membawa kitab
hadits dan dalil-dalil jamaah dan imamah. Kedua buku itu pun dipelajari
Syamsuddin saat itu juga. Dan Syamsuddin merasa, inilah syariat Islam yang
selama ini ia yakini, tapi tidak pernah menemukan wujudnya.
“Kapan
saya bisa dipertemukan oleh orang yang memahami sejarah tentang tegaknya
kembali dakwah khilafah ini?” tanya Ustadz Syamsuddin kepada Rusdi.
Maka
Syamsuddin dijanjikan bertemu dengan seseorang yang bernama Abdullah Halim (almarhum).
“Saat
bertemu dengan Abdullah halim, saat bersalaman dengan para keponakan Beliau,
salamannya berpelukan, membuat hati saya kian tersentuh bahwa Islam itu seperti
ini rupanya. Persaudaraan, ukhuwah, mahabbah (kecintaan). Saya hampir
menitikkan air mata saat itu. Maka di hari itu saya mantab untuk berbai’at
kepada Imam Jamaah Muslimin (Hizbullah) sebagai pemimpin umat Islam,” tutur
Syamsuddin.
Dua
minggu setelahnya akan ada taklim besar di Cileungsi Bogor, markaz Jamaah
Muslimin (Hizbullah). Itulah waktu yang tepat untuk melaksanakan syariat bai’at
kepada Imam.
Akhirnya,
ustadz yang terkenal “keras” oleh masyarakat awam Jakarta di daerahnya,
menemukan seorang pemimpin umat yang ia cari-cari selama ini.
(Ibnu Tanri)




0 Komentar