Oleh Bahron Ansori (Pemerhati masalah sosial agama)
Tsaqofah.com - Alkisah, ada sebuah negeri yang para pemimpin banyak bergelar Master, Doktor bahkan Profesor. Mereka
begitu piawai memainkan perannya sebagai pejabat di negara itu. Bertahun-tahun
mereka memimpin negeri itu, tanpa ada keberanian dari rakyatnya walau hanya
sekedar memberi kritik dan saran membangun. Sebab tak ada satu saran dan masukan pun yang benar dari para tokoh
agama dan masyarakat di negeri itu
kecuali pejabat negara. Semua pendapat salah, kecuali pendapat para pejabat
tinggi.
Bagaimana dengan
kekayaan para pejabat di negeri itu? Jangan tanya bagaimana kekayaan para pemimpin
di negeri itu, sebab semua pemimpinnya mempunyai kendaraan mewah lebih dari satu di garasi rumahnya. Assetnya di mana-mana. Bahkan mungkin kekayaannya yang tersimpan di luar
negeri jauh lebih banyak. Namun sayang, para pemimpin negeri antah barantah itu
hanya mampu menyuplai intelektualnya saja dengan ilmu
dunia, tapi tidak dengan
spiritual dan emosionalnya.
Menurut para pengamat, negeri itu terancam punah beberapa tahun mendatang. Sebab para pemimpinnya yang bergelar master, doktor dan profesor
itu tidak bijak dalam memimpin rakyatnya. Korupsi merajalela. Narkoba merebak di mana-mana. Bahkan, ada saja satu dua pemimpin
negeri itu yang terjerat kasus narkotika. Saling hujat satu sama lain bukan hal asing. Plesiran ke daerah-daerah dan luar negeri dengan alasan study
banding, dan dana puluhan bahkan ratusan milyar pun tak masalah.
Entahlah. Selain beberapa krisis moral di atas, pemimpin negeri itu juga begitu ambisi berebut
kekuasaan. Satu sama lain saling hujat. Terbentuklah kelompok-kelompok
kecil dalam masyarakat untuk membela pemimpinnya masing-masing. Negara mulai
tertatih, persis seperti lelaki tua berumur 60 tahun yang dipaksa naik gunung. Saat para pemimpin negara itu
saling baku hantam, sementara rakyat kecil makin terpuruk. Banyak rakyat
kelaparan. Anak-anak yang kurang gizi, sebab orang tua mereka tak lagi mampu mencari
uang karena situasi ekonomi yang tak menentu.
Puncaknya, negara itu benar-benar kacau. Keributan terjadi di mana-mana.
Bukan hanya itu, untuk melengkapi situasi negara yang kian terpuruk, Tuhan
kirimkan para rakyat di negeri itu bencana yang datangnya bertubi-tubi. Gempat di
mana-mana. Tsunami pun tak mau kalah. Bahkan likuifaksi (bumi tenggelam ke bawah)
pun terjadi di negeri itu. Padahal seumur-umur belum pernah terjadi likuifaksi.
Bisa jadi, Tuhan mulai bosan melihat prilaku para pemimpin negeri itu yang angkuh
para aturan Yang Kuasa.
Pentingnya Akhlak (Moral)
Akhlak (moral), dikatakan oleh Sayid Mujtaba Lari merupakan faktor
terpenting yang memengaruhi perkembangan masyarakat, apakah akan menuju
kemajuan atau malah tersungkur kepada lembah kehancuran (Musawi Lari. Ethic
and Spiritual Growth. 2005, hal. 11). Karena itu, empat belas abad yang
lalu, seorang manusia sempurna Muhammad SAW di utus dengan tujuan utama
menyempurnakan akhlak manusia. “Sesungguhnya aku di utus untuk
meneyempurnakan akhlak manusia,” sabda Nabi Muhammad SAW.
Krisis akhlak tentu lebih parah dibanding sekedar krisis ekonomi. Akhlak
adalah sumber dari sukses tidaknya seseorang, apalagi jika ia adalah seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang mulia
akhlaknya, tentu dimanapun ia berada akan memberikan rasa aman bagi rakyatnya. Bukan sebaliknya
membuat rakyatnya resah dan galau.
Akhlak mulia yang dimiliki seorang pemimpin adalah gambaran nyata dari dalamnya pemahaman yang dimiliki seorang pemimpin. Dengan akhlak mulia itu juga Rasulullah SAW mampu merubah akhlak buruk bangsa Quraisy kala itu. Kemuliaan akhlak tidak bisa diukur dari tinggi rendahnya pendidikan formal seseorang, tapi akhlak mulia itu bisa tumbuh dan subur karena pemahaman terhadap syariat Islam yang benar dan baik.
Akhlak mulia yang dimiliki seorang pemimpin adalah gambaran nyata dari dalamnya pemahaman yang dimiliki seorang pemimpin. Dengan akhlak mulia itu juga Rasulullah SAW mampu merubah akhlak buruk bangsa Quraisy kala itu. Kemuliaan akhlak tidak bisa diukur dari tinggi rendahnya pendidikan formal seseorang, tapi akhlak mulia itu bisa tumbuh dan subur karena pemahaman terhadap syariat Islam yang benar dan baik.
Saking pentingnya seorang pemimpin mempunyai
akhlak mulia, sampai-sampai Nabi SAW banyak mengingatkan umatnya dalam beberapa
hadisnya. Antara lain sebagai berikut.
Pertama, Nabi SAW bersabda, “Paling dekat
denganku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya
dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya." (HR. Ar-Ridha).
Pemimpin yang baik akhlaknya tentu saja baik
cara berfikirnya. Baik pula visi misinya ke depan untuk membangun masyarakat
dan orang-orang yang ia pimpin agar maju dan berkembang menjadi lebih baik. Bukan
sebaliknya, menjadi pemimpin yang melahirkan konflik di mana-mana.
Kedua, Nabi SAW juga mengingatkan dalam sabdanya, "Sesungguhnya seorang Mukmin-karena kebaikan akhlaknya-menyamai derajat orang yang biasa melakukan shaum dan menunaikan shalat malam." (HR Abu Dawud)
Kedua, Nabi SAW juga mengingatkan dalam sabdanya, "Sesungguhnya seorang Mukmin-karena kebaikan akhlaknya-menyamai derajat orang yang biasa melakukan shaum dan menunaikan shalat malam." (HR Abu Dawud)
Itu artinya, seorang yang mempunyai akhlak
mulia derajatnya sama dengan orang-orang yang melakukan puasa dan melakukan
shalat malam (tahajud). Apalagi jika ia seorang pemimpin, bisa jadi pahala yang
akan diperolehnya kelak di sisi Allah jauh lebih tinggi. Selain pahala berakhlak
mulia, juga pahala karena suka dukanya menanggung beban orang-orang yang ia
pimpin.
Ketiga, dari Abu
Ad-Darda' radiyallahu 'anhu; Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada
sesuatu yang diletakkan pada timbangan hari kiamat yang lebih berat daripada
akhlak yang mulia, dan sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa mencapai
derajat orang yang berpuasa dan shalat." (Sunan Tirmidzi:
Sahih)
Kemuliaan seseorang bukan terletak seberapa
banyak harta benda yang dimilikinya. Bukan pula diukur dari seberapa banyak
gelar akademis yang disandangnya. Tidak pula tinggi rendahnya jabatan yang ia
pikul. Namun, kemuliaan seorang hamba itu sangat terletak bagaimana ketinggian moralnya.
Keempat, Nabi SAW juga bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat kedudukannya dengan majelisku pada Hari Kiamat nanti adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sebaliknya, orang yang aku benci dan paling jauh dari diriku adalah orang yang terlalu banyak bicara (yang tidak bermanfaat) dan sombong." (HR at-Tirmidzi).
Keempat, Nabi SAW juga bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat kedudukannya dengan majelisku pada Hari Kiamat nanti adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sebaliknya, orang yang aku benci dan paling jauh dari diriku adalah orang yang terlalu banyak bicara (yang tidak bermanfaat) dan sombong." (HR at-Tirmidzi).
Jangan terlalu lama menatap dunia ini, sebab
semua yang ada di dunia hanya akan membuat mata iman kita menjadi silau dengan
gemerlapnya. Akhirnya kita lupa membenahi diri untuk lebih baik saat Malaikat
Maut itu datang menjemput. Sesekali tataplah
akhirat. Sebab di sana, tidak akan pernah berguna semua tumpukan harta benda
yang dimiliki di dunia ini.
Mari belajar, tanpa lelah untuk menyontoh Nabi
SAW bagaimana berakhlak mulia. Tidak ada cara untuk menangkal semua krisis di suatu
negeri kecuali para pemimpin di negeri itu dan seluruh rakyatnya menyadari
bahwa berakhlak mulia adalah cara terbaik untuk mengundang datangnya berlimpah
kebaikan dari Allah Ta’ala.


0 Komentar