Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Penghafal al Qur'an akan datang pada hari kiamat, kemudian al Qur'an akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), al Qur'an kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian al Qur'an memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan {2916}, Ibnu Khuzaimah, Al Hakim, ia menilainya hadits shahih).
(Para santri sedang berswafoto bersama salah satu donatur)
Tsaqofah.com - Sore itu selepas shalat Ashar berjama’ah, terlihat
seorang anak laki-laki kecil begitu
semangat mengulang-ulang
ayat al Qur’an. Anak laki-laki itu sengaja memilih tempat duduk di beranda
masjid untuk menghafal Qalam Allah
itu. Tentu bisa ditebak, sebab duduk di beranda masjid membuatnya merasakan sejuknya udara sore. Sesekali
matanya memandang lepas jauh ke depan yang terbentang pemandangan alam begitu
asri sambil
mulutnya tak henti-henti mengulang-ulang bacaan al Qur’an.
Anak lelaki itu bernama Labib
‘Abdullah. Meski usianya baru 9 tahun dan duduk di kelas 4 MI Kukulu Mekarwangi
Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka, tapi ia sudah mempunyai hafalan 4
juz Qur’an. Anak laki-laki itu adalah
santri tahfidz Qur’an Nurul Bayan Majalengka. Labib sapaan akrabnya, bukan
satu-satunya yang menjadi santri penghafal al Qur’an di pesantren itu. Masih ada
beberapa anak seusianya yang juga ikut menghafal al Qur’an di Nurul Bayan.
“Sebenarnya, Nurul Bayan ini khusus untuk anak
perempuan. Tapi karena dia (Labib) anak yang tinggal dilingkungan pesantren Nurul Bayan ini, maka
sehari-harinya ia juga ikut menghafal
al Qur’an. Meski tidak secara khusus menghafal al Qur’an (karena nyambi
sekolah), tapi alhamdulillah dia mampu menghafal,” ujar Ummu Tsaqib pengelola
dan pengajar sehari-hari santri tahfidz Qur’an Nurul Bayan.
Bila Anda singgah dan melihat-lihat pemandangan
dari beranda masjid di pesantren
Nurul Bayan, tempat di mana pesantren penghafal al Qur’an itu berdiri, tentu saja Anda akan merasa
betah berlama-lama disana. Mengapa? Selain karena indahnya bacaan-bacaan al Qur’an
para santri, juga sudah tentu yang tak kalah menariknya adalah terbentangnya
ayat-ayat kauniyah Sang Maha Pencipta, pemandangan alamnya yang begitu indah. Di lokasi pesantren Nurul Bayan itu,
Anda bisa melihat mulai dari luasnya sawah-sawah yang terbentang,
hingga puncak Gunung Ciremai yang terlihat jelas di pagi hari.
Pesantren Tahfidz Qur’an Nurul Bayan Majalengka
bisa dibilang baru berjalan sekitar 4 tahun. Namun, siapa sangka tahfidz Qur’an
yang mayoritas santrinya adalah anak-anak perempuan mulai usia SD/MI hingga ada
yang lulusan SMA/MA hingga kini sudah melahirkan 4 orang hafidzah. Di antara
mereka adalah Sumayah (18), akhwat asal Jambi itu sejak dua tahun lalu sudah
menyelesaikan hafalan al Qur’annya. Kini ia sedang melakukan pengabdian sebagai
bukti amal shalih di Nurul Bayan.
(Sebagian dari santri Nurul Bayan Majalengka)
Hafidzah
Bermunculan
Selain terus mengulang-ulang hafalannya, Maya
sapaan akrabnya juga ikut aktif membantu mengajar adik-adik tingkatnya. Menurutnya,
seorang penghafal Qur’an itu harus senantiasa bersungguh-sungguh, banyak berdoa
dan menjaga Allah dimana dan kapan pun berada. Tanpa kesungguhan, menurutnya
akan sulit menghafal al Qur’an.
“Kendala pasti ada. Tapi, semua itu akan teratasi
jika kita mempunyai kesungguhan dalam menghafalnya. Selain itu, selalulah jaga
Allah dimana dan kapan pun berada. Jangan sekali-kali memaksiati Allah,”
ujarnya.
Selain Maya, ada juga Rita Aulia Nur Hasanah (19).
Ustadzah Rita, sapaan akrabnya adalah salah satu ustazah yang kini juga sudah
menyelesaikan hafalan al Qur’annya. Akhwat asal Sumedang Jawa Barat itu kini
mendapat amanah untuk membantu mengajarkan al Qur’an dan menerima setoran
santri-santri lainnya. Selain menerima setoran, ia juga menjadi Amiroh bagi
para Musyrifah untuk mengontrol dan memotivasi para santri lainnya.
“Saya bersyukur sekali kepada Allah karena telah
dimudahkan menyelesaikan hafalan al Qur’an ini. Namun, tugas saya tentu semakin
luas dan berat. Sekarang saya sedang terus berusaha untuk memahami setiap makna
yang sudah saya hafal, dan berusaha untuk mengamalkan setiap kandungan al Qur’an
setahap demi setahap. Disamping itu tentu saja saya harus terus muraja’ah
hafalan-hafalan saya agar tidak hilang,” katanya.
Hafidzah ketiga adalah Dini Awaliyah (18). Dini adalah
akhwat asli dari Majalengka tepatnya tinggal disekitar lokasi pesantren Nurul
Bayan. Kini, ia juga mendapat amanah untuk membantu mengajar al Qur’an dan
ulumul syar’i lainnya di Nurul Bayan. Selain menerima setoran dari para santri
lain, ia juga terlibat aktif mengajar TPA Nurul Bayan dimana pesertanya adalah
anak-anak usia TK dan PAUD. Menurutnya, di Nurul Bayan ini anak-anak di bawah
usia SD/MI sudah ada yang memulai menghafal al Qur’an.
“Alhamdulillah, para orang tua di kampung ini
(Blok Pangauban) desa Mekarwangi kesadaran untuk mengajarkan anak-anaknya
menghafal al Qur’an sejak usia belia mulai tumbuh. Hari ini, di pondok
setidaknya sudah terdaftar sekitar 20 santri penghafal al Qur’an usia MI, TK
dan PAUD,” ujarnya.
Selain ketiga
hafidzah itu, ada dua akhwat lagi yang kini sudah menyelesaikan
hafalannya; Ina dan Iqlima. Sementara sekitar 7 orang lainnya beberapa bulan ke
depan akan menyelesaikan hafalan al Qur’annya. Menurut Ustadzah Rita, saat ini
beberapa santri usia pendidikan SLTP/MTs dan SMA/MA rata-rata sudah hafal di
atas 25 juz al Qur’an.
“Insya Allah dua tiga pekan ke depan akan selesai
30 juz al Qur’an dari sekitar 7 sampai 8 santri Nurul Bayan. Tentu ini adalah
karunia yang sangat besar dari Allah Ta’ala,” ujarnya penuh haru.
(Para santri sedang ikut panen padi di sawah wakaf produktif tahfidz; foto: Ba)
Dari Luar Majalengka
Sejak awal berdiri sekitar 4 tahun lalu, Pesantren
Tahfidz Qur’an Nurul Bayan sudah banyak menerima santri dari luar Majalengka. Di
antara mereka ada yang dari Kalimantan Timur, Lampung, Jambi, Bekasi, Sumedang,
Garut, Tasikmalaya dan tentu saja Majalengka sendiri. Meski banyak peminat dari
luar daerah, namun para pengelola masih harus mempertimbangkan karena dari segi
fasilitas pesantren Nurul Bayan jangan dikira sudah mempunyai gedung yang
mentereng.
“Kami masih membatasi jumlah santri hingga kini. Jika
tidak dibatasi, maka jumlah pendaftar per tahun bisa lebih dari 30 orang. Jadi hingga
kini kami masih terus berjuang untuk bisa membangun asrama yang layak dan lebih
luas lagi,” jelas Abu Hanif Ketua Yayasan Nurul Bayan Amanatul Ummah, yayasan
yang menaungi berdirinya Pesantren Nurul Bayan.
Memang, secara fisik Pesantren Tahfidz Qur’an
Nurul Bayan masih sangat sederhana. Namun, Abu Hanif merasa bersyukur sekali
kepada Allah sebab walaupun kondisi asrama para santri masih sangat sederhana
tapi justeru Allah mudahkan mereka untuk menyelesaikan hafalan-hafalan Qur’annya.
Dibalik semua ujian itu menurutnya ada hikmah besar yang terkadang tidak semua
bisa ditebak oleh manusia.
(Santri usia Paud, TK dan MI/SD)
Belajar al Qur’an Sejak
Usia Dini
Menurut Ummu Tsaqib,
Pesantren Nurul Bayan sejak awal berdiri sudah membuka tahfidz khusus untuk
anak-anak usia SD, TK hingga PAUD. Ia mengatakan, sejatinya anak-anak kaum
muslimin sudah dikenalkan dengan al Qur’an sejak usia dini. Sehingga saat
mereka dewasa sudah terbiasa hidup bersama al Qur’an.
“Tantangan zaman
semakin besar dan tak terkendali. Seharusnyalah para orang tua muslim menyadari
bahwa satu-satunya bekal untuk menyelamatkan anak dari segala fitnah akhir
zaman adalah dengan mengenalkan dan mengajarkan mereka al Qur’an. Al Qur’an
adalah bekal terbaik, sebelum mereka mendapatkan bekal-bekal yang lain,”
jelasnya.
Memang, al Qur’an adalah bekal yang kelak dengan izin
Allah akan menyelamatkan para penghfalnya. Allah Ta’ala akan selalu menjagai
para keluarga-Nya (Ahlullah) yang selalu berusaha menghafal dan menjaga Qalam
suci-Nya. Allah juga akan menyelamatkan para penghafal al Qur’an dari segala
bentuk fitnah dan keburukan-keburukan lainnya.
Karena itu, Nurul Bayan sejak awal sudah memulai untuk
membuka tahfidz Qur’an bagi anak-anak usia dini, TK dan SD. Harapannya tentu
saja anak-anak itu sudah bisa minimal mengenal kitab sucinya sejak usia dini. Lebih
dari itu, menurut Ummu Tsaqib Pesantren Nurul Bayan ingin ikut berkontribusi
dalam perjuangan melahirkan para hafidz/ah.
“Bismillah, semoga Allah mencatat usaha kita sebagai
amal shalih untuk ikut andil menghidupsuburkan al Qur’an di tengah-tengah umat
di akhir zaman ini,” tegasnya.(Arenga pinata)




0 Komentar