Ankara, Tsaqofah.com - Keretakan hubungan
antara negara-negara Teluk telah memukul Organisasi Negara Pengekspor Minyak
(OPEC) menyusul keputusan Qatar untuk meninggalkan kartel setelah 57 tahun.
Langkah itu bisa menjadi point-of-no-return dalam
jangka menengah untuk Qatar, mengingat hubungan yang tegang dengan
negara-negara yang dipimpin Saudi di Timur Tengah. Qatar bisa saja membakar
semua jembatannya dan membiarkannya terisolasi di dunia Arab dalam jangka
panjang.
Doha mengatakan keputusan untuk meninggalkan OPEC
pada 1 Januari berasal dari rencana jangka panjangnya untuk lebih fokus pada
produksi gas alam dan investasi. Sebagai juara dunia gas alam cair (LNG) selama
12 tahun berturut-turut, pengumuman itu lebih menunjukkan tindakan ekonomi
daripada politik.
Qatar telah menjadi eksportir LNG terbesar di dunia
setiap tahun sejak 2006, memiliki pangsa 30 persen di pasar LNG global, menurut
British Petroleum's Statistical Review of World Energy yang diterbitkan setiap
tahun.
Gas alam menyumbang lebih dari 70 persen pendapatan
pemerintah Qatar, sekitar 60 persen dari produk domestik bruto (PDB), dan
sekitar 85 persen dari pendapatannya dari ekspor, menurut data pemerintah.
Qatar memiliki penduduk 2,4 juta jiwa, yang terdiri
dari 11,6 persen penduduk asli dan 88,4 persen pekerja asing, menikmati
USD63.500 PDB per kapita pada 2017 ketika total PDB tercatat sebesar USD167,6
miliar, menurut data Bank Dunia.
Memiliki cadangan gas terbesar ketiga di dunia,
setelah Rusia dan Iran, Qatar berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi
LNG per tahun dari 77 juta ton menjadi 110 juta ton, Menteri Energi Qatar Saad
Sherida Al Kaabi mengatakan pada 26 September.
Setelah blokade oleh negara-negara yang dipimpin
Saudi pada Juni 2017, Qatar telah menginvestasikan USD200 miliar untuk
infrastruktur guna membuka rute perdagangan baru, dan menginvestasikan USD50
miliar di sektor perbankan untuk membuat ekonominya tetap stabil, menurut
laporan media global.
The Qatar Investment Authority, dana kekayaan
nasional negara itu, diperkirakan memiliki USD330 miliar dalam aset, investasi
domestik dan internasional dari perbankan, sektor jasa hingga energi dan
industri olahraga.
Negara ini juga telah mendiversifikasi ekonomi yang
bergantung pada gas dengan merek internasional lainnya, seperti Qatar Airways,
jaringan televisi Al Jazeera, dan melalui pembelian klub sepakbola Prancis
Paris Saint-Germain pada tahun 2011.
Pangsa minyak kecil di OPEC
Hengkangnya Qatar dari OPEC kemungkinan tidak akan
banyak berdampak pada produksi kartel, mengingat bahwa hanya memiliki kontribusi
kecil dalam organisasi tersebut.
Produksi minyak negara itu adalah 609.000 barel per
hari pada bulan Oktober, menurut laporan Pasar Minyak Bulanan OPEC pada bulan
November. Ini merupakan 1,8 persen dari total produksi OPEC pada Oktober, yang
mencapai 32,9 juta barel per hari (bpd), kata laporan tersebut.
Sebagai perbandingan, eksportir minyak mentah
terbesar di dunia Arab Saudi mencapai rekor 11,2 juta bpd produksi minyak
mentah baru-baru ini.
Keputusan Qatar, bagaimanapun, datang pada saat
kritis ketika produsen minyak OPEC dan non-OPEC, seperti Rusia, Kazakhstan dan
Meksiko, bertemu di Wina pada Kamis, 6 Desember untuk membahas pasar minyak
global.
Grup, yang dijuluki sebagai OPEC +, akan mencari cara
untuk menyeimbangkan pasar, dan mungkin akan memangkas produksi setidaknya 1
juta bpd untuk menaikkan harga minyak.
Keretakan di dalam kartel
Namun, keputusan Qatar meninggalkan OPEC merupakan
keputusan simbolis yang membuat keretakan di dalam negara-negara eksportir
minyak Teluk lebih terlihat.
Organisasi yang dipimpin Saudi telah menjadi fokus
banyak kritik ketika memutuskan pada November 2014 untuk tidak memangkas
produksi guna mendukung penurunan harga minyak.
Ketika harga minyak mentah jatuh ke level terendah
dalam 12 tahun di bawah USD30 per barel pada Januari 2016, kerajaan tersebut
menerima lebih banyak kritik dari anggota OPEC yang ekonominya sangat
bergantung pada pendapatan dari penjualan minyak dan ekspor.
Arab Saudi tidak menahan diri dari keinginan anggota
OPEC lainnya dalam menghadapi persaingan dengan Iran ketika sanksi AS terhadap
negara itu dicabut dan produksi minyak mentah dan ekspor Teheran mulai
meningkat.
Qatar kehilangan sebagian besar pengaruhnya di OPEC,
setelah Arab Saudi dan tiga negara telah mengambil sikap politik terhadap Doha
pada Juni 2017.
Politik Arab pada titik didih
Isu seputar Qatar, negara Teluk kecil yang memiliki
11,58 kilometer persegi, dimulai satu setengah tahun lalu.
Arab Saudi, Mesir, Bahrain dan Uni Emirat Arab
memotong semua hubungan diplomatik mereka dengan Qatar pada 5 Juni 2017 dan
menuduh Doha mendukung terorisme.
Selain memaksakan blokade ke negara semenanjung
kecil, kelompok yang dipimpin oleh Arab Saudi juga merilis daftar 13-poin
tuntutan, yang mengharuskan Doha untuk memotong hubungannya dengan Iran dan
menutup jaringan televisi Al-Jazeera.
Qatar kemudian mengatakan keputusan untuk mengakhiri
hubungan diplomatik tidak dapat dibenarkan, yang hanya didasarkan pada klaim
palsu.
Dengan meninggalkan organisasi minyak terbesar di
dunia, Qatar telah menjadi negara Arab pertama yang melakukannya sejak
didirikan pada tahun 1960. Qatar telah bergabung dengan organisasi tersebut
satu tahun setelah didirikan.
Dapat dikatakan bahwa keluarnya Qatar dari OPEC
membuat Doha lebih terpisah dalam politik Timur Tengah, karena organisasi itu
merupakan sebuah forum di mana politik Arab dapat didiskusikan dan
negara-negara anggota dapat memperoleh dukungan dari satu sama lain.
Hubungan dengan AS
Pengumuman Qatar untuk meninggalkan OPEC datang tiga
hari sebelum pertemuan organisasi yang banyak diantisipasi pada 6 Desember,
mengangkat beberapa pertanyaan tentang waktu keputusannya.
Setelah pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi, Doha
mencoba untuk memberikan tekanan lebih pada Arab Saudi dengan menunjukkan
ke-tidak-cocokkan dalam kartel dengan cara keluar dari organisasi itu.
Keputusan Qatar juga bisa menjadi hasil dari
kebijakan Doha yang lebih dekat ke AS dengan tujuan membangun aliansi baru
dengan pemerintahan Trump.
Meskipun Presiden AS Donald Trump pertama-tama
mendukung tuduhan terhadap Qatar sebagai "sponsor terorisme" pada
tahun 2017, dia kemudian menyebut Qatari Emir Tamim Bin Hamad al-Thani sebagai
"teman baik" ketika kedua pemimpin berkumpul di Gedung Putih pada
April 2018.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo kemudian mendesak
para pemimpin Arab untuk menyelesaikan keretakan Teluk, karena Washington ingin
dunia Arab bersatu untuk mengisolasi Iran di wilayah tersebut.
Pompeo bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Qatar,
Khalid Al-Attiyah di Washington pada 14 November untuk membahas proposal
pemerintah Trump untuk membentuk aliansi keamanan Arab di Timur Tengah.
Kedua pejabat menegaskan kembali komitmen mereka
untuk hubungan bilateral yang kuat antara AS dan Qatar, dan membahas bekerja
menuju Aliansi Strategis Timur Tengah untuk memajukan keamanan dan stabilitas
di kawasan itu, menurut pernyataan Gedung Putih.
AS menginginkan negara-negara Arab untuk mengakhiri
perselisihan mereka dengan Qatar sesegera mungkin untuk membentuk front yang
bersatu melawan Iran. Namun, keputusan Doha untuk meninggalkan OPEC dapat
menunda keinginan AS itu untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.(sumber: AA)


0 Komentar