Dalam
keseharian, seringkali kita jumpai sekelompok orang yang enggan memberikan
nasehatnya kepada orang yang berbuat maksiat. Alasannya sangat klise, “Ah, iman
dan akhlak saya kan belum sempurna. Ah, saya kan tidak lebih baik dari
mereka,” dan sederet alasan klasik
lainnya. Orang-orang ini tidak hendak bergerak untuk beamar makruf dengan
alasan pada dirinya sendiri masih banyak kekurangan di sana sini.
Kedengarannya
alasan kelompok di atas sederhana.
Namun, andai setiap orang atau kelompok punya alasan yang sama tidak mau memberi nasehat kepada orang lain karena dirinya belum sebaik orang yang melakukan kemaksiatan itu, maka tentu saja sudah tidak akan pernah ada para pendakwah di muka bumi ini.
Namun, andai setiap orang atau kelompok punya alasan yang sama tidak mau memberi nasehat kepada orang lain karena dirinya belum sebaik orang yang melakukan kemaksiatan itu, maka tentu saja sudah tidak akan pernah ada para pendakwah di muka bumi ini.
Menasehati
bukan berarti sudah lebih baik dari yang diberi nasehat. Menasehati bukan
berarti sudah sempurna iman dan akhlak. Menasehati bukan berarti tidak
mempunyai salah dan dosa. Menasehati sejatinya adalah kewajiban setiap muslim
kepada saudara muslimnya yang lain. Menasehati bukan berarti diri harus lebih baik terlebih dulu, tapi tentu
saja menjadikan diri lebih baik itu adalah sebuah keharusan.
Apalagi,
saling menasehati sesama itu sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan, para nabi
pun diutus keseluruh penjuru dunia semata-mata untuk memberi nasehat kepada
umat manusia. Tak jarang, di antara para nabi itu pun di caci maki, dikatakan
lebih buruk dari mereka yang dinasehati. Namun, apakah kewajiban para nabi
untuk menyampaikan nasehat itu jadi berhenti? Tentu saja tidak.
Setiap kali
mereka menasehati manusia agar berjalan di atas aturan Allah, maka mereka para
nabi itu pun senantiasa memohon ampun kepada Allah, sebab takut apa yang
disampaikan sebagai nasehat mereka sendiri belum bisa mengamalkannya. Artinya,
nabi pun menuju kesempurnaan sebagai seorang nabi, tapi selama berproses menuju
kesempurnaan itu, mereka tidak pernah berhenti memberi nasehat.
Andai
setiap muslim tidak memberi nasehat kepada saudara muslim lainnya, maka tentu
saja
Nasehat
yang indah dari Hasan Al-Bashri
rahimahullah, beliau berkata, “Wahai manusia,
sesungguhnya aku tengah menasehati kalian, dan bukan berarti aku orang yang
terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian.
Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku sendiri. Akupun
tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan
kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi
nasehat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna,
niscaya tidak akan ada para pemberi nasehat. Akan menjadi sedikit jumlah orang
yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di
jalan Allah subhanahu wataala, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya,
tidak pula melarang dari memaksiati-Nya. Namun dengan berkumpulnya Ilmu para
ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain,
niscaya hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari
kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan.. Maka terus-meneruslah berada
pada majelis-mejelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah mengampuni kalian.
Bisa jadi ada satu kata yang terdengar di sana dan kata itu merendahkan diri
kita namun sangat bermanfaat (bagi kita). Bertakwalah kalian semua kepada Allah
dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan
muslim.”. [Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 185].


0 Komentar