Oleh Bahron
Ansori (Pemerhati sosial agama)
Tsaqofah.com - Bekerja adalah ibadah. Bekerja adalah
bagian dari kewajiban seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Karena bekerja adalah
ibadah, maka ada aturan syariat yang menaunginya. Bekerja bukan asal bekerja.
Bekerja bukan sekedar mendapatkan dunia saja tapi bagaimana agar pahala juga
diperoleh.
Allah Ta’ala memerintahkan bekerja
kepada setiap hamba-hambaNya (QS. Attaubah: 105) yang artinya, “Dan katakanlah: "Bekerjalah
kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat
pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikem-balikan kepada (Allah) Yang
Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa
yang telah kamu kerjakan."
Seorang muslim minimal sekali
diharuskan untuk dapat memberikan nafkah kepada dirinya sendiri, dan juga
kepada keluarganya.
Keutamaan Bekerja
Pertama,
orang yang ikhlas
bekerja akan mendapatkan ampunan dosa dari Allah Ta’ala. Dalam sebuah hadis
diriwayatkan :
رواه الطبراني. مَنْ أَمْسَى كَالاًّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُوْرًا
لَهُ
“Siapa yang sore hari duduk kelelahan
lantaran pekerjaan yang telah dilakukannya, maka ia dapatkan sore hari tersebut
dosa-dosanya diampuni oleh Allah Ta’ala.” (HR. Thabrani).
Kedua, akan diampuninya suatu dosa yang tidak
dapat diampuni dengan shalat, puasa, zakat, haji dan umrah. Dalam sebuah riwayat
dikatakan
إِنَّ مِنَ الذُّنُوْبِ لَذُنُوْبًا، لاَ تُكَفِّرُهَا الصَّلاةُ وَلاَ
الصِّياَمُ وَلاَ الْحَجُ وَلاَ الْعُمْرَةُ، قَالَ وَمَا تُكَفِّرُهَا يَا
رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ الْهُمُوْمُ فِيْ طَلَبِ الْمَعِيْشَةِ (رواه الطبراني
“Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, terdapat satu
dosa yang tidak dapat dihapuskan dengan shalat, puasa, haji dan umrah.’ Sahabat bertanya, ‘Apa yang dapat menghapuskannya
wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Semangat dalam mencari rizki.’ (HR.
Thabrani).
Ketiga,
mendapatkan cinta Allah Ta’la. Dalam sebuah
riwayat digambarkan :
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ (رواه الطبراني
“Sesungguhnya
Allah SWT mencintai seorang mu’min yang giat bekerja.” (HR. Thabrani).
Keempat,
terhindar dari azab neraka. Dalam sebuah riwayat dikemukakan, "Pada suatu
saat, Saad bin Muadz Al-Anshari berkisah bahwa ketika Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wasallam baru kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa'ad
yang melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari.
Rasulullah
bertanya, 'Kenapa tanganmu?' Saad menjawab, 'Karena aku mengolah
tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi
tanggunganku." Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
mengambil tangan Saad dan menciumnya seraya berkata, 'Inilah tangan yang
tidak akan pernah disentuh oleh api neraka.'" (HR. Tabrani).
Bekerja
yang Berbuah Surga
Jika
pekerjaan seorang muslim itu benar (tidak menyalahi syariat), dilakukan dengan
benar (tidak menipu dan hal buruk lainnya), maka surga kelak di akhirat akan
menjadi buah dari kerjanya selama di dunia ini. Pertanyaannya, kerja yang
dikerjakan seperti apakah yang mampu membuahkan surge? Setidaknya ada beberapa hal yang
harus diperhatikan seorang muslim agar kerja-kerjanya berbuah surga antara lain
sebagai berikut.
Pertama,
Niat Ikhlas Karena Allah SWT
Ketika
bekerja, niatan utamanya adalah karena Allah SWT sebagai kewajiban dari Allah
yang harus dilakukan oleh setiap hamba. Dan konsekwensinya adalah ia selalu
memulai aktivitas pekerjaannya dengan dzikir kepada Allah. Ketika berangkat
dari rumah, lisannya basah dengan do’a bismillahi tawakkaltu alallah.. la
haula wala quwwata illa billah.. Dan ketika pulang ke rumah pun, kalimat
tahmid menggema dalam dirinya yang keluar melalui lisannya.
Kedua, Itqan,
sungguh-sungguh dan profesional dalam bekerja
Syarat
kedua agar pekerjaan dijadikan sarana mendapatkan surga dari Allah SWT adalah
profesional, sungguh-sungguh dan tekun dalam bekerja. Di antara
bentuknya adalah, tuntas melaksanakan pekerjaan yang diamanahkan kepadanya,
memiliki keahlian di bidangnya dsb.
Dalam
sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia
menyempurnakan pekerjaannya.” (HR. Tabrani).
Ketiga, Bersikap
Jujur dan Amanah
Karena
pada hakekatnya pekerjaan yang dilakukannya tersebut merupakan amanah, baik
secara duniawi dari atasannya atau pemilik usaha, maupun secara duniawi dari
Allah Ta’ala yang akan dimintai pertanggung jawaban atas pekerjaan yang
dilakukannya.
Implementasi
jujur dan amanah dalam bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil
sesuatu yang bukan menjadi haknya, tidak curang, obyektif dalam menilai, dan
sebagainya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Seorang pebisnis
yang jujur lagi dapat dipercaya, (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi,
shiddiqin dan syuhada’. (HR. Turmudzi).
Keempat, Menjaga Etika Sebagai
Seorang Muslim
Bekerja
juga harus memperhati-kan adab dan etika sebagai seroang muslim, seperti etika
dalam berbicara, menegur, berpakaian, bergaul, makan, minum, berhadapan dengan pelanggan,
rapat, dan sebagainya. Bahkan akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan
iman seorang mu'min.
Dalam
sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesempurna-sempurnanya keimanan
seorang mu’min adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Turmudzi)
Kelima, Tidak Melanggar Prinsip-Prinsip
Syariah
Aspek lain dalam etika bekerja
dalam Islam adalah tidak boleh melanggar prinsip-prinsip syariah dalam pekerjaan
yang dilaku-kannya. Tidak melanggar prinsip syariah ini dapat dibagi menjadi
beberapa hal;
Pertama, dari
sisi dzat atau substansi dari pekerjaannya, seperti memporduksi tidak boleh
barang yang haram, menyebarluaskan kefasadan (seperti pornografi), mengandung
unsur riba, maysir, gharar dsb.
Kedua dari
sisi penunjang yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan, seperti risywah, membuat fitnah
dalam persaingan, tidak
menutup aurat, ikhtilat antara laki-laki dengan perempuan, dsb.
Allah Ta’ala berfirman yang
artinya, “Hai
orang-orang yang beriman, ta`atlah kepada Allah dan ta`atlah kepada rasul dan
janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (Qs. Muhammad: 33).
Keenam, Menghindari Syubhat
Dalam bekerja terkadang seseorang
dihadapkan dengan adanya syubhat atau sesuatu yang meragukan dan samar antara
kehalalan dengan keharamannya. Seperti unsur-unsur pemberian dari pihak luar,
yang terdapat indikasi adanya satu kepentingan terntentu.
Atau seperti bekerja sama dengan
pihak-pihak yang secara umum diketahui kedzliman atau pelanggarannya terhadap
syariah. Dan syubhat semacam ini dapat berasal dari internal maupun eksternal.
Oleh karena itulah, kita diminta
hati-hati dalam kesyubhatan ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda, "Halal itu jelas dan haram itu jelas, dan
diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. Maka barang siapa yang
terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka ia terjerumus pada yang diharamkan..."
(HR. Muslim).
Ketujuh, Menjaga Ukhuwah
Islamiyah
Aspek lain yang juga sangat penting
diperhatikan adalah masalah ukhuwah islamiyah antara sesama muslim. Jangan
sampai dalam bekerja atau berusaha melahirkan perpecahan di tengah-tengah kaum
muslimin.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam sendiri mengemukakan tentang hal yang bersifat prefentif agar tidak
merusak ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam mengemukakan, "Dan janganlah kalian membeli barang yang sudah
dibeli saudara kalian" karena jika terjadi kontradiktif dari hadits di
atas, tentu akan merenggangkan juga ukhuwah Islamiyah di antara mereka; saling
curiga dsb.
Agar
kerja kita benilai pahala surga, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Ada proses panjang yang harus dilakukan seperti dijelaskan dalam
tahapan-tahapan di atas. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk bekerja
bukan sekedar bekerja, tapi bagaimana setiap pekerjaan bisa bernilai pahala dan
berbuah surge kelak, wallahua’lam. (minanews.net)


0 Komentar