By. Admin
“Orang
boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di
dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya
Ananta Toer)
Jurnalistik lebih dikenal sebagai sebuah keterampilan dan
seni. Jurnalistik sebagai keterampilan karena seseorang wartawan atau reporter
membutuhkan kelincahan tenaga dan pikiran untuk melaksanakan tugasnya, mulai
pada menemukan berita hingga menyebarkannya di media massa. Jurnalistik sebagai
seni karena pelaku jurnalistik mesti kreatif mencari ide iuntuk membuat
editorial, pojok, dan karikatur yang sesuai dengan nada hati dan jiwanya.
Jurnalistik Islam merupakan
salah satu jawaban terhadap berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam. Kita
harus berupaya menjadikan jurnalistik Islami sebagai “ideologi” para jurnalis
Muslim. “Ideologi” jurnalistik Islam akan mendorong munculnya ghirah, semangat,
membela kepentingan Islam dan umatnya, juga menyosialisasikan nilai-nilai
Islam, sekaligus meng-counter dan mem-filter derasnya arus informasi jahili
dari kaum anti-Islam.
Dapat juga jurnalistik
Islam dimaknakan sebagai “proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai
hal yang sarat dengan muatan dan sosialisasi nilai- nilai Islam”.
Jurnalistik Islam bisa
dikatakan sebagai crusade journalism, yaitu jurnalistik yang
memperjuangkan nilai-nilai tertentu, yakni nilai-nilai Islam. Jurnalistik
Islami mengemban misi ‘amar ma’ruf nahi munkar (QS. 3:104).
Jurnalistik Islam
menghindari pornografi ataupun ungkapan-ungkapan pornografis, menjauhkan
promosi kemaksiatan, atau hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam,
seperti fitnah, pemutarbalikkan fakta, berita bohong, mendukung kemunkaran.
Jurnalistik Islam harus
mampu mempengaruhi khalayak agar menjauhi kemaksiatan, perilaku destruktif, dan
menawarkan solusi Islami atas setiap masalah.
Karena jurnalistik Islam
adalah jurnalistik dakwah, setiap jurnalis (wartawan) Muslim berkewajiban
menjadikan jurnalistik Islam sebagai “ideologi” dalam profesinya. Baik jurnalis
Muslim yang bekerja pada media massa umum maupun –apalagi– pada media massa
Islam. Karena dakwah memang merupakan kewajiban melekat dalam diri setiap
Muslim.
Jurnalis Muslim memang akan
sulit mengemban misinya atau mematuhi “ideologi jurnalistik Islam”-nya, jika ia
bekerja pada media massa non-Islam, atau media yang jauh dari misi Islam,
karena ia kemungkinan terbawa arus dan terkena kebijakan redaksional yang tidak
committed akan nilai-nilai Islam.
Jurnalis Muslim adalah
sosok jurudakwah (da’i) di bidang pers, yakni mengemban da’wah bil qolam
(dakwah melalui tulisan). Ia adalah jurnalis yang terikat dengan nilai-nilai,
norma, dan etika Islam. Karena juru dakwah menebarkan kebenaran Ilahi, maka
jurnalis Muslim laksana “penyambung lidah” para nabi dan ulama. Karena itu, ia
pun dituntut memiliki sifat-sifat kenabian, seperti Shidiq, Amanah, Tabligh,
dan Fathonah.
Shidiq artinya benar, yakni
menginformasikan yang benar saja dan membela serta menegakkan kebenaran itu.
Standar kebenarannya tentu saja kesesuaian dengan ajaran Islam (al-Quran dan
as-Sunnah). Amanah artinya terpercaya, dapat dipercaya, karenanya tidak boleh
berdusta, memanipulasi atau mendistorsi fakta, dan sebagainya.
Tabligh artinya
menyampaikan, yakni menginformasikan kebenaran, tidak menyembunyikannya.
Sedangkan fathonah artinya cerdas dan berwawasan luas. Jurnalis Muslim dituntut
mampu menganalisis dan membaca situasi, termasuk membaca apa yang diperlukan
umat.
Peran Jurnalis Muslim
Dalam
skala yang lebih luas jurnalis muslim bukan saja berarti para wartawan yang
beragama Islam dan commited dengan ajaran agamanya, melainkan juga
cendekiawan muslim, ulama, mubalig yang cakap bekerja di media massa dan
memiliki setidaknya lima peranan (Romli, 2003: 39-41):
Ø
Pertama, SEBAGAI PENDIDIK (muaddib), yaitu
melaksanakan fungsi edukasi yang Islami. Ia harus lebih menguasai ajaran agama
Islam dari rata-rata khalayak pembaca. Lewat media massa, ia berperan mendidik
umat Islam agar melaksanakan perintah-Nya dan menajuhi larangan-Nya. Ia memikul
tugas untuk mencegah umat Islam melenceng dari syariat Islam, juga melindungi
umat dari pengaruh buruk media massa nonIslami yang anti Islam.
Ø
Kedua,
SEBAGAI PELURUS INFORMASI (musaddid). Setidaknya ada tiga hal yang harus
diluruskan oleh para wartawan muslim. (1) informasi tentang ajaran dan umat
Islam, (2) informasi tentang karya-karya atau prestasi umat Islam, (3) jurnalis
muslim hendaknya mampu menggali (dengan investigative reporting) tentang
kondisi umat Islam di berbagai penjuru dunia. Peran musaddid terasa
relevan dan penting mengingat informasi tentang Islam dan umatnya yang datang
dari pers Barat biasanya bias (menyimpang dan berat sebelah),
distorsif, manipulatif, penuh rekayasa untuk memojokkan Islam yang notabene
tidak disukainya. Di sini, jurnalis muslim dituntut berusaha mengikis fobi
Islam (Islamophobia) dari propaganda pers barat yang anti-Islam.
Ø
Ketiga, SEBAGAI PEMBAHARU (mujaddid), yakni penyebar
paham pembaharuan akan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam (reformisme
Islam). Wartawan muslim hendaknya menjadi juru bicara para pembaharu, yang
menyerukan umat Islam memegang teguh Al-Quran dan As-Sunnah, memurnikan
pemahaman tentang Islam dan pengamalannya (membersihkannya dari bid’ah,
khurafat, tahayul, dan isme-isme yang tidak sesuai ajaran Islam), dan
menerapkannya dalam segala aspek kehidupan umat.
Ø
Keempat, SEBAGAI PEMERSATU (muwahid), yaitu menjadi
jembatan yang mempersatukan umat Islam. Oleh karena itu, kode etik
jurnalistik yang berupa impartiality (tidak memihak pada golongan
tertentu dan menyajikan dua sisi dari setiap informasi) harus ditegakkan.
Wartawan muslim harus membuang jauh-jauh sikap sektarian (berpihak sebelah pada
golongan tertentu).
Ø
Kelima, SEBAGAI PEJUANG (mujahid), yaitu
pejuang-pejuang pembela Islam. Melalui media massa, wartawan muslim berusaha
keras mendorong penegakan nilai-nilai Islam, menyemarakkan syiar Islam,
mempromosikan citra lslam sebagai rahmatan lilalamin.
Menurut Jalaluddin Rakhmat,
peran kelima ini, yaitu sebagai Mujahid, sebenarnya “menyimpulkan keempat peran
sebelumnya”.
(berbagai sumber)


0 Komentar