Kesembilan,
Alternatif Islami
Pada dekade limapuluhan, berbagai gerakan dakwah sibuk
membuktikan (kepada masyarakat) kecocokan Islam (dengan kehidupan). Setelah itu
mengarah kepada meyakinkan (masyarakat) akan keunggulan Islam terhadap berbagai
ideologi lainnya. Namun pergerakannya masih seputar penjelasan global dan belum
sampai kepada kematangan aktivitas dan keluar dari tataran teori. Sebagai
contoh sederhana, gerakan dakwah belum mampu melahirkan alternatif dalam bidang
penyusunan silabus pendidikan tingkat universitas berdasarkan pandangan Islam,
padahal kebutuhan kita sangat mendesak dalam semua bidang, khususnya dalam
studi bidang sosial.
Untuk mewujudkan alternatif tersebut bukanlah pekerjaan
sosial (charity) yang boleh dikerjakan pada waktu-waktu luang/sisa oleh
sebagian pribadi yang hanya memiliki semangat. Akan tetapi menjadi kewajiban
bagi sebagian ulama yang spesialis dengan full time. Gerakan dakwah
sudah saatnya melahirkan beberapa institusi pendidikan/akademis yang berkualitas
tinggi untuk melakukan berbagai ijtihad dalam berbagai lapangan.
Pekerjaan tersebut juga tidak mungkin didelegasikan kepada
beberapa ulama yang menonjol saja. Harus menjadi konsentrasi/upaya jama’i
(team). Pekerjaan spesialisasi, dengan biaya yang memadai dan meletihkan serta
memerlukan waktu. Sebuah pekerjaan yang terus menerus di mana tidak cukup
dengan bersandar kepada para simpatisan yang respek secara spontan.
Inilah syarat untuk memulai sebuah kebangkitan peradaban
raksasa umat ini. Tanpa hal tersebut, maka keunggulan sistem Islam hanya
sebatas kepuasan emosional… Kita membutuhkan percontohan Islami (dalam dunia
nyata) yang hidup dan memberikan cahaya yang akan menarik Barat dan di Timur ke
arah peradaban Islam.
Kegairahan para insinyur, doketr dan ilmuan di bidang ilmu
pengetahuan alam (eksakta) lainnya untuk berharokah melebihi ulama ilmu sosial
menafsirkan hal tersebut, karena pengetahuan yang bersifat global yang menarik
cukup membuat mereka (ilmuan dalam bidang eksakta) puas dan diterima dengan
logika dan ketinggian, keluasan dan akhlak Islam. Sementara para Imuan sosial
yang spesialis itu memerlukan detail untuk sampai kepada kepuasan.
Sebab itu, pola penyampaian Islam secara global (apalagi
tidak ada contoh prakteknya), tidak cukup untuk menarik mereka ke pangkuan
Islam. Ini bukanlah kondisi normal atau sehat. Kita tidak akan mampu melakukan take
off peradaban manusia ini kembali sehingga kita melihat mayoritas pemimpin
gerakan dakwah itu dari kalangan para ilmuan sosial yang sangat spesialis.
Kesepuluh,
Krisis Intelektualitas dan Berfikir
Semua pemikir dan para ahli sepakat adanya kaitan yang kuat
antara metode/cara berfikir dengan pola prilaku dan metode/cara menyelesaikan
masalah. Berfikir/intelektulitas yang sehat dan benar adalah landasan utama
dalam setiap kebangkitan peradaban. Ini adalah kosa kata pokok yang harus
dihidupkan oleh gerakan dakwah.
Kalau kita mencermati realitas masa kini, kita akan
menemukan bahwa gerakan dakwah belum mendapat taufik – secara umum – dalam
merealisasikan keselarasan dan kesatuan pemikiran di antara anggotanya. Melihat
gerakan dakwah lebih banyak berpegang kepada hal-hal yang bersifat
umum/general, maka muncul berbagai perbedaan pemikiran di internal gerakan
dakwah dalam hal-hal yang memerlukan rincian.
Sebagaimana gerakan dakwah juga habis kebanyakan potensinya
untuk beramal dan lebih concern kepada kerja ketimbang meningkatkan kualitas
berfikir dan intelektualitas anggotanya (seperti yang kita rasakan hampir 30
tahun tergabung dalam gerakan dakwah.
Ironisnya, setiap ada usulan yang mengarah kepada
peningkatan kualitas berifikir dan intelektualitas internal, selalu kandas dan
tidak banyak mendapat dukungan. Akhirnya yang terjadi ialah tradisi taqlid
tumbuh dengan subur sehingga gerakan dakwah setiap hari berhasil melahirkan dan
mencetak muqallidun/ kaum taqlid).
Bersamaan dengan absennya sikap resmi jamaah gerakan dakwah
terhadap persoalan-persoalan utama yang menyangkut masyarakat banyak, (seperti
sistem pemerintahan yang zalim, sistem ekonomi ribawi kapitalis yang lalim,
persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan kebodohan.
Selain itu, adanya dominasi asing terhadap negeri-negeri
Islam, kejahatan negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat terhadap
negara-negara lain dan sebagainya), menyebabkan terbentuk/lahirnya
pemikiran-pemikiran para pengikut gerakan dakwah yang saling bertentangan yang
sekaligus berperan menambah problem pemikiran yang saling menjauh.
Akan lebih runyam lagi masalahnya jika sikap dan pendapat
sebagian partai dan kelompok sekuler dan ideology yang memusuhi Islam
menyelusup pula ke dalam benak sebagian anggota/qiyadah gerakan dakwah untuk
memenuhi kekosongan pemikiran tersebut (seperti yang terjadi di Indonesia dan
beberapa negara lainnya).
Sesungguhnya kita meyakini betul bahwa krisis
pemikiran/intelektualitas itu pada dasarnya adalah menyangkut cara
turun/menterjemahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah ke dalam realitas kehidupan. Yang
demikian itu akan dapat selesai dengan cara penelitian dan ijtihad yang
orisinil dalam lapangan ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan/humaniora lainnya.
Untuk itu, Independensi gerakan dakwah merupakan hal mutlak
diperlukan dan tidak boleh ada kekuatan manapun, termasuk pemerintahan setempat
yang dapat mempengaruhi cara/metode berfikirnya.
Jika gerakan dakwah tersebut benar-benar ingin melakukan
perubahan dari jahiliyah kepada Islam. Jika tidak, gerakan dakwah hanya tidak
lebih dari sekedar ornament jahiliyah itu sendiri.
Kesebelas,
Hilangnya Dialog
Saya melihat gerakan dakwah itu gagal membangun dialog dalam
tiga level. Internal (terhadap anggota ditanamkan sam’an wa tho’atan/dengar dan
taati, tidak ada peluang untuk dialog, apalagi debat terbuka), dengan sesama
jamaah Islam lain dan dengan kelompok-kelompok yang bukan Islam apakah yang
berlandaskan agama ataupun sekularisme. Akibat dari kegagalan tersebut lahir
pemahaman-pemahaman borjuis (sektarian) di kalangan anggotanya.
Sedangkan efek negatifnya sangat jelas, yaitu teori-teori
keislaman senantiasa jauh dari lapangan eksperimental dan realitas kehidupan
nyata (seperti ukhuwah, wala’ [loyalitas], baro’ [disloyalitas] dan
sebagainya). Akibat lain dari hilangnya dialog tersebut ialah kejumudunan
berfikir dan ketidakmampuan memperkaya pemikiran yang diperlukan untuk
mematangkan gerakan dakwah itu sendiri.
Salah paham di antara jamaah/gerakan dakwahpun tak
terhindarkan yang mengakibatkan hilangnya tsiqah (kepercayaan) dan pada
waktu yang sama muncul permusuhan, padahal mereka hidup dalam satu masyarakat.
Di samping itu, gerakan dakwah juga gagal membangun dialog
dengan para penguasa setempat yang masih mengaku Islam, kendati terkadang
sangat memusuhi dan tidak toleran terhadap Islam. Akhirnya, yang diperlihatkan
gerakan dakwah selama ini hanya dua bentuk interaksi saja : perlawanan
berdarah-darah seperti yang banyak terjadi di negeri-negeri Arab atau menjilat
dan menjual gerakan dakwah itu kepada penguasa, seperti yang terjadi di
Indonesia dan sebagainya.
Saatnya dirumuskan bentuk lain yang memungkinkan terjadinya
dialog antara gerakan dakwah dengan penguasa/pemerintah yang masih belum
menerima Islam sebagai The Way of Life. Potensi itu sangat besar jika
saja gerakan dakwah maupun penguasa/pemerintah sama-sama ingin selamat dunia
dan akhirat.
Poin lain yang harus dinyatakan dan diperlihatkan serta
dibuktikan gerakan dakwah ialah bahwa mereka sama sekali tidak menginginkan
kekuasaan apalagi haus kekuasaan. Yang mereka inginkan hanya keselamatan
mereka, umat mereka dan negeri mereka di dunia mauapun di akhirat kelak.
(bersambung...)
sumber: eramuslim.com
sumber: eramuslim.com


0 Komentar