Tsaqofah.com - Salah satu aspek dari ajaran Islam yang tidak kalah pentingnya dan wajib bagi
setiap muslim mengetahuinya dan memilikinya serta menghiasi diri dengannya
adalah akhlak dan adab, karena suatu umat apabila telah hilang akhlak dan
adabnya, maka ini merupakan tanda-tanda kehancuran suatu umat dan generasi
tersebut, demikian juga sebaliknya, ketika suatu kaum dan generasi mempunyai
akhlak dan adab maka jayalah umat tersebut. Oleh karena itu untuk mewujudkan
hal tersebut maka Insya Allah pada edisi ini akan dibahas tentang
adab-adab yang wajib diketahui oleh setiap muslim.
Diantara bentuk-bentuk adab yang yang wajib diketahui oleh setiap muslim adalah :
1. Adab kepada Allah ‘Azza wa Jalla
a. Bersyukur terhadap segala nikmat-Nya. Seorang muslim yang mempunyai adab yang benar hendaknya merenungi segala nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Kenapa seorang muslim wajib bersyukur ? Karena begitu banyaknya nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah dia terima, Allah ‘Azza wa Jalla telah menciptakannya dalam bentuk sebaik-baiknya, Dialah Allah Ta’ala yang telah memberikan pendengaran, penglihatan, hati, rizki yang tidak terhitung banyaknya. Yang tidak akan sanggup manusia menghitungnya meskipun manusia menginfakkan hartanya sebesar bukit dari emas dan perak, sebagaimana yang dipertegas dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: “Dan jika kamu kamu menghitung nikmat Allah, niscaya engkau tidak bisa menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34).
Oleh karena itu kufur nikmat serta ingkar kepada nikmat Sang Pencipta ‘Azza
wa Jalla merupakan sebagai pertanda tidak beradab kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan berlawanan dengan adab Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Oleh
karena itu, ingatlah kepada-Ku niscaya aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah
kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS. al-Baqarah: 152)
b. Malu dan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala ada keinginan atau kecenderungan untuk melakukan dosa dan maksiyat. Bukan termasuk adab kalau tidak ada rasa malu dan takut seorang hamba dalam melakukan kedurhakaan kepada Rabb-Nya dan menentang-Nya dengan melakukan dosa dan maksiyat kepada-Nya, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui, mengawasi apa yang dilakukan hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Ia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan”. (QS. at-Taghabun: 4)
b. Malu dan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala ada keinginan atau kecenderungan untuk melakukan dosa dan maksiyat. Bukan termasuk adab kalau tidak ada rasa malu dan takut seorang hamba dalam melakukan kedurhakaan kepada Rabb-Nya dan menentang-Nya dengan melakukan dosa dan maksiyat kepada-Nya, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui, mengawasi apa yang dilakukan hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Ia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan”. (QS. at-Taghabun: 4)
c. Berserah diri dan menggantungkan segala perkara dan urusan kepada-Nya
Maka tidaklah dikatakan seseorang beradab jika dia lari Allah Subhanahu wa
Ta’ala, yang ia tidak dapat menghindar dari-Nya, dan menyandarkan diri kepada
sesuatu yang tidak mempunyai daya dan upaya sedikitpun, dalam hal ini Allah
‘Azza wa Jalla berfirman: “Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan
Dialah yang memegang ubun-ubunnya”. (QS. Hud: 56). Didalam surat yang lain
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan hanya kepada Allahlah hendaknya
kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. al-Maidah:
23).
d. Merenungi rahmat Allah yang telah dilimpahkannya dan kepada seluruh makhluk. Maka tatkala ia menginginkan rahmat yang lebih besar dari sebelumnya, ia tunduk merendah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berdo’a dengan penuh ketulusan dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan kata-kata yang baik dan melakukan amal shalih. Dan bukan termasuk adab kalau seseorang berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah”. (QS. Yusuf: 87)
d. Merenungi rahmat Allah yang telah dilimpahkannya dan kepada seluruh makhluk. Maka tatkala ia menginginkan rahmat yang lebih besar dari sebelumnya, ia tunduk merendah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berdo’a dengan penuh ketulusan dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan kata-kata yang baik dan melakukan amal shalih. Dan bukan termasuk adab kalau seseorang berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah”. (QS. Yusuf: 87)
e. Memikirkan betapa kerasnya adzab Allah dan betapa kuat balasannya. Dengan melakukan yang demikian ia bisa menjaga dirinya, yaitu dengan mentaati segala perintah-Nya dan berusaha untuk tidak mendurhakakan-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan beradab kepada Allah ‘Azza wa Jalla jika seorang hamba yang lemah dan tidak memiliki kekuatan sedikitpun, melakukan kedurhakaan dan kezholiman di hadapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.
f. Berhusnuzhan kepada Allah terhadap janji yang pasti akan ditepati dan ancaman yang pasti dipenuhi. Karena tidaklah beradab jika seseorang berburuk sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla lalu ia melakukan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya, lalu ia mengira bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihatnya dan tidak akan memberi balasan terhadap dosa-dosanya.
Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim untuk
berbaik sangka kepada Allah karena janji Allah Subhanahu wa Ta’ala itu benar
dan sekali-kali Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mengingkari janji-Nya. Allah
Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan
takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya maka mereka adalah orang-orang yang
mendapatkan kemenangan”. (QS. an-Nur: 52)
2. Adab Kepada Al-Qur'an
- Membacanya
dalam keadaan suci, menghadap kiblat dan duduk dengan penuh kesopanan dan
ketenangan.
- Membacanya
dengan tartil dan tidak terburu-buru.
- Membaca
dengan penuh kekhusu’an.
- Membaguskan
suaranya, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Hiasilah
Al-Qur’an dengan suaramu”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Daud)
- Mensirkan
(merendahkan) bacaannya jika ia takut riya’ atau mengganggu kekhusyu’an
orang sedang shalat.
- Membacanya
dengan penuh perhatian, serta berusaha merenungi dan memahami maknanya dan
hikmah-hikmah yang terkandung didalamnya.
- Ketika
membaca Al-Qur’an hendaknya ia tidak termasuk orang yang lalai dan
menyimpang dari aturan-aturannya, karena hal tersebut dapat menyebabkan
laknat terhadap diri sendiri, seperti ia membaca ayat: “Maka kita minta
supaya laknat Allah ditimpakan pada orang-orang yang dusta”. (QS. Ali
Imran: 61) Dalam surat lain Allah Ta’ala berfirman: “Ingatlah laknat
Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dzalim”. (QS. Hud: 18)
- Berusaha dengan sungguh-sungguh supaya menjadi ahlul-Qur’an yang merupakan Ahlullah dan orang-orang yang mendapatkan keistimewaan.
3. Adab Kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
- Mentaati
dan mengikuti jalan kehidupan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik
dalam urusan dunia ataupun agamanya.
- Mendahulukan
cinta kepadanya dari mencintai yang lain. Dalam hal ini
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah sempurna
keimanan salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dia cintai dari
anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia” (Muttafaqun ‘alaihi)
- Mencintai
orang yang beliau cintai, memusuhi orang yang beliau musuhi, dan meridhai
apa yang beliau ridhai, serta marah terhadap sesuatu yang beliau murkai.
- Memuliakannya
ketika menyebut nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bershalawat
beserta salam kepadanya.
- Membenarkan
apa yang beliau khabarkan, baik tentang urusan agama, permasalahan dunia
maupun hal ghaib tentang kehidupan dunia maupun akhirat.
- Menghidupkan sunnah-sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memperjuangkan syari’atnya, dan menyampaikan dakwah beliau serta menjadikan beliau sebagai khudwah uswatun hasanah.
4. Adab seorang muslim terhadap dirinya sendiri
Agar seorang muslim bisa mengenal dirinya, membersihkan jiwanya maka dalam hal ini syari’at Islam telah memberikan langkah-langkah yang sangat mudah dan praktis sebagai berikut :
a. Taubat. Yang dimaksud dengan taubat adalah berlepas diri dari seluruh perbuatan dosa dan maksiat, menyesali segala dosa yang telah berlalu serta bertekad untuk tidak mengulanginya dikemudian hari. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman : “Hai orang-orang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan Tuhanmu menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai” (QS at-Tahrim: 28) Untuk lebih jelasnya keterangan tentang taubat ini baca buletin Dar el-Iman edisi No. 1 dan 2 yng berjudul Bertaubatlah Wahai Hamba Allah.
b. Muraqabah. Hendaklah setiap muslim menjaga sikap dan perbuatannya dihadapan Allah Ta’ala di setiap waktu dalam hidupnya, dan menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengawasi segala tindak-tanduk, serta mengetahui apa yang dirahasiakannya dan yang dinyatakannya itulah yang dimaksud dengan Muraqabah. Orang yang muraqabah jiwanya menjadi yakin dengan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap dirinya, merasakan dekat ketika mengingat-Nya, mendapatkan ketenangan jiwa tatkala mentaati-Nya, selalu berserah diri kepadaNya.
Dalam hal
ini Allah Ta’ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada
orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah sedang diapun mengerjakan
kebaikan”. (QS. an-Nisa’: 125). Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala
mempertegas : “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu
ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami
menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya”. (QS. Yunus: 61)
c. Muhasabah (Mengoreksi diri). Seorang muslim didalam melakukan amal kebaikannya yang akan membuahkan hasil yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala ibarat seorang saudagar yang melihat kewajiban yang disyari’atkan padanya sebagai modal perniagaannya, dan memandang semua amal-amal yang sunnah sebagai keuntungan yang lebih dari modalnya, lalu memandang dosa-dosa dan maksiat sebagai kerugian yang dideritanya.
Kemudian dalam skala waktu tertentu ia duduk seorang diri untuk
merenungi semua amal yang telah dilakukannya sehari-hari, maka jika ia
mendapatkan kekurangan didalamnya ia mencela dan menjelekkan dirinya, lalu
mengerjakan amal yang kurang tersebut, jika termasuk amal yang bisa diqhada’
(diganti/ditebus) maka ia mengqhada’nya, dan jika tidak maka untuk
menutupinya ia memperbanyak amalan sunnah, dan jika kekurangan tersebut dalam
amalan sunnah, ia segera mengganti amalan tersebut lalu mencukupinya.
Dan jika
ia melihat kerugian karena telah melakukan pekerjaan yang dilarang, ia mohon
ampun dan menyesali lalu mengerjakan amal kebaikan sebagai bentuk perbaikan
terhadap kerusakan yang ia lakukan inilah yang dimaksud dengan muhasabah diri, dalam
hal ini Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat
untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Hasyr: 18) Didalam astar
shahabat yaitu perkataan Umar radhiyallahu ‘anhu : “Evalusilah diri
kalian sebelum kalian dievaluasi”.
d. Mujahadah. Didalam melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seorang muslim dihadapkan dengan berbagai macam godaan-godaan dunia, dengan godaan tersebut banyak orang yang terlena dan jatuh ke dalam lembah keburukan, dosa, maksiat, dan memperturutkan syahwat. Oleh karena itu sangat dibutuhkan Mujahadah (kesungguhan) untuk memerangi penyakit-penyakit tersebut dengan beramal shalih, menjauhi kemungkaran. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik”. (QS. al-Ankabuut: 69)
Dengan mengenal adab-adab tersebut merupakan suatu jalan bagi seorang muslim untuk menggapai keridhaan Allah Ta’ala. Semua yang telah dijelaskan tersebut tidaklah akan bisa membuahkan hasil melainkan dengan ikhlas dan kesungguhan seorang hamba dan sabar dalam menjalankan syari’at Allah Ta’ala ini. Demikianlah tulisan ini semoga Allah Ta’ala menujuki hati kita untuk menjadi seorang muslim yang beradab dan memudahkan kita dalam mengamalkannya, menjauhkan kita dari adab yang jelek.



0 Komentar