TSAQOFAH.COM - Dalam hidup ini, iman terkadang harus digadaikan oleh seseorang demi mencari sesuap nasi, popularitas, pengaruh dan pengikut. Tak heran, mempertahankan iman di akhir zaman ini merupakan tantangan besar sekaligus berat. Selain harus dijaga dan dirawat, iman yang kadang naik turun itu juga harus selalu di update.
Iman adalah mutiara berharga dalam diri seorang muslim.
Karena itu, iman itu harus senantiasa dijaga, dirawat dan terus ditingkatkan.
Dalam kehidupan yang serba permisif ini, iman bisa menjadi tameng kuat bagi
seorang muslim untuk menangkal berbagai ujian dunia dan segala permasalahannya.
Mempertahankan iman di era modern dan serba era digital
hari ini tentu saja memerlukan energi tersendiri, mulai dari kesungguhan dan
keseriusan termasuk kesabaran. Sedikit saja seseorang lemah, maka imannya pun
menjadi lemah. Jika sudah begitu, maka dengan mudah setan menguasai hatinya.
Tulisan ini akan membahas tentang sebab-sebab lemahnya
iman. Sebab-sebab itu antara lain sebagai berikut.
Pertama, Kurang Ikhlas.
Dalam firman-Nya, Allah Ta’ala sudah menjelaskan,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ
لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ
الْقَيِّمَةِ
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan
shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Qs. Al
Bayyinah: 5)
Ikhlas adalah pujian dan
hinaan manusia sama nilainya di sisimu, dan kesepadanan antara yang lahir dan
yang batin pada dirimu. Di zaman ini, keikhlasan merupakan sesuatu yang langka
(tidak ada yang memilikinya), kecuali bagi mereka yang dirahmati Allah, terelebih lagi di tengah kehidupan yang penuh
dengan tipu muslihat, fitnah, juga lemahnya muroqobah (mawas diri) dan
keyakinan kepada Allah Ta’ala.
Tentu saja penulis tidak
mengatakan keikhlasan itu telah musnah, sebab itu adalah perkataan dusta.
Namun, untuk menuju keikhlasan itu membutuhkan mujahadah (kesungguhan)
yang terus-menerus dengan istikomah dalam setiap amal dan perbuatan. Tidak
mudah memang, tapi Allah Ta’ala-lah yang akan memudahkan selama niat seseorang
itu lurus dan benar.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Aku
mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku
paling sangat tidak membutuhkan kesyirikan, maka siapa yang melakukan suatu
perbuatan yang dalam perbuatan itu ia mempersekutukanKu dengan selain dengan
selain Aku, maka akan meninggalkannya dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim)
Terkadang seseorang telah beriltizam (konsisten)
hingga ia termasuk dalam golongan orang yang konsisten. Namun, tujuannya bukan
untuk konsistensi itu sendiri dan tidak pula bertujuan untuk mendapat ridha
Allah, melainkan ia memiliki maksud-maksud lain yang dengan cepat menghancurkan
konsistensinya, sebab ia tidak mengharapkan Allah dan kehidupan akhirat.
Abu Al-Qasim Al-Qusyairi rahimahullah, “Ikhlas itu adalah
memusatkan niat dalam melaksanakan ketaatan hanya kepada Allah Ta’ala semata.
Yaitu melakukan ketaatan hanya bermaksud untuk taqarrub kepada Allah Ta’ala,
tidak ada maksud lain, seperti; untuk mendapatkan perhatian, pujian manusia
atau tujuan-tujuan lain yang bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Sementara
itu, Sahal bin Abdullah At-Tasatturi rahimahullah berkata, “Orang yang
bijaksana ketika menafsirkan ikhlas maka mereka tidak mendapatkan selain
pengertian bahwa hendaknya bergerak atau berdiamnya seseorang dalam situasi
terlihat ataupun tersembunyi hanya karena Allah semata, dan tidak dinodai oleh
hawa nafsu atau pun dorongan duniawi.
Sejatinya,
siapa pun yang mendambakan keselamatan di dunia dan akhirat, hendaknya ia
bersikap ikhlas dan secara terus-menerus mengawasi niatnya, karena hanya dengan
sikap itulah suatu pekerjaan memiliki nilai ibadah di sisi Allah. Pekerjaan
sedikit tapi disertai keikhlasan, jauh lebih baik daripada pekerjaan banyak
namun hampa dari keikhlasan, wallahua’alam.(sumber: minanews.net)
By. Abu Najma AM
Sumber:
Buku “31 Sebab Lemahnya Iman” penerbit: Darul Haq


0 Komentar