Oleh Abu Najma AM*
Tsaqofah.com - Masih ada saja sebagian
orang Muslim yang berkata, “Mana dalil larangan merokok dalam Qur’an? Mana…coba
sebutkan..!” Sungguh, ungkapan semacam ini adalah ucapan yang keluar atas
dasar nafsu bukan rasa keimanan dan ketundukan kepada Allah.
Sudah menjadi hal umum,
jika merokok adalah akhlak yang tidak baik (buruk). Padahal, sudah jelas,
merokok itu tidak sehat untuk jiwa, badan, keluarga dan mata pencaharian termasuk
menyia-nyiakan harta bahkan akal pikiran.
Kenyataannya, masih banyak
orang yang bertahan merokok dari minggu ke minggu, bulan ke bulan bahkan tahun
berganti tahun. Jadi, apakah tidak ada efek positif dari menjalankan sholat lima
waktu, puasa Ramadhan yang dijalankan dari tahun ke tahun itu?
Sungguh, apa artinya jika
sholat yang ditegakkan itu ternyata belum mampu merobohkan kemaksiatan? Bukankah
sholat itu kata Allah mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar (QS. al
Ankabut: 45)? Apakah merokok tidak termasuk perbuatan keji?
Saudaraku, jika ada orang
lain yang menasihatimu agar meninggalkan aktivitas merokok, bukan berarti dia lebih
baik dan lebih alim darimu. Bisa jadi nasehatnya kepadamu adalah bentuk kasih
sayangnya agar engkau tidak menumpuk-numpuk kesia-siaan yang akan semakin
memberatkan di akhirat kelak.
Jika ada saudara seiman
menasihatimu, maka jangan pula langsung kau vonis bahwa ia membencimu. Namun,
ketahuilah bisa jadi ia adalah orang yang berusaha menjaga kebersihan dan kesehatan
diri dan lingkungan. Bisakah engkau membayangkan betapa udara yang kita hirup
setiap hari ini akan semakin tercemari akibat asap rokokmu dan ratusan bahkan
jutaan para perokok lainnya. Bukankah itu termasuk merusak alam? Lalu, akankah
Allah ridha kepada hamba-Nya yang selalu mengotori alam ini?
Tentu Anda sudah tahu bahwa rokok itu adalah racun mematikan. Orang-orang yang merokok tahu persis akan bahaya ini. Karena sedikit-banyak mereka merasakan dampak dari rokok yang mereka hisap. Mereka sudah merasakan dampak tersebut dalam waktu yang lama. Namun anehnya, mereka tetap enggan bersungguh-sungguh berhenti darinya.
Tentu Anda sudah tahu bahwa rokok itu adalah racun mematikan. Orang-orang yang merokok tahu persis akan bahaya ini. Karena sedikit-banyak mereka merasakan dampak dari rokok yang mereka hisap. Mereka sudah merasakan dampak tersebut dalam waktu yang lama. Namun anehnya, mereka tetap enggan bersungguh-sungguh berhenti darinya.
Haram Karena Ada Kaidah Syariat
Bagi orang-orang yang mempelajari kaidah-kaidah
atau prinsip-prinsip syariat dari Al Quran dan sunnah, tidak diragukan
lagi, mereka pasti mengetahui keharaman rokok. Karena rokok memiliki bahaya
yang besar dan dosa yang wajib dijauhi.
Allah Tabaraka wa Ta’ala menjelaskan tentang
kandungan syariat yang Dia perintahkan Rasul-Nya untuk menjelaskannya adalah
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ
“Dan (Rasul itu) menghalalkan bagi mereka segala yang
baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. Al-A’raf: 157).
Masihkah tidak yakin dengan firman Allah di atas?
Rokok, diakui dengan jujur dari para perokok sendiri adalah sesuatu
yang buruk, bukan sesuatu yang baik. Rokok dapat membunuh seseorang, membunuh
secara perlahan dan bertahap. Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa di antara
penyebab kematian yang paling utama adalah rokok. Diterangkan,
lebih dari 500 juta orang mati
setiap tahunnya lantaran rokok. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman di dalam
Alquran,
وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah
adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29). Masihkah tidak percaya dengan ayat
Allah ini?
Dia juga berfirman,
وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ
اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berbuat baik.” (QS.
Al-Baqarah: 195).
Tidak diragukan lagi, para perokok dengan aktivitas merokok yang mereka
lakukan telah menjatuhkan diri mereka dalam kebinasaan. Kebinasaan dalam
kesehatan, harta, badan, bahkan istri dan anak-anaknya pun mendapatkan bahaya
sebagai perokok pasif.
Di antara prinsip agung syariat
mulia ini (al Islam) sebagaimana yang dijelaskan dalam
hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh berbuat sesuatu yang memberikan mudharat
(bahaya) pada diri sendiri dan orang lain.”
Rokok mengabaikan prinsip yang agung ini. Rokok itu 100%
bahaya dan mudharat, tidak ada manfaatnya sama sekali. Allah Tabaraka wa Ta’ala
telah mengharamkan khamr, sebagaimana dalam firman-Nya,
وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا
“Dan dosa keduanya (khamr dan judi) lebih besar dari
manfaatnya.” (QS.
Al-Baqarah: 219).
Artinya, keduanya diharamkan karena bahayanya lebih besar
dari manfaatnya. Bagaimana dengan rokok yang sama sekali tidak bermanfaat, 100%
mudharat? Masihkah mau merokok?
Ketahuilah, merokok itu adalah perbuatan menyia-nyiakan
harta. Ada seseorang perokok yang memiliki usia sebagai perokok aktif selama
tujuh tahun, ia menghitung-hitung uang yang ia habiskan untuk membeli rokok
selama tujuh tahun mencapai 150 juta rupiah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam menjelaskan kepada kita,
)لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى
يُسْأَلَ عَنْ أربع)) وذكر منها (( وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ
وَفِيمَا أَنْفَقَهُ
(
“Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari
kiamat, hingga ditanya tentang empat perkara.” Di antaranya adalah “Tentang
hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan.”
Apa yang akan dijawab oleh seorang perokok pada hari
kiamat kelak. Ketika ia ditanya bagaimana ia membelanjakan hartanya? Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam telah melarang menyebarkan desas-desus, banyak bertanya
(yang tidak manfaat), dan menyia-nyiakan harta. Tidak diragukan lagi, membeli
rokok adalah perbuatan yang nyata dalam menyia-nyiakan harta.
Saudaraku, mari tinggalkan rokok
semata-mata karena takut kepada Allah Ta’ala. Jangan kotori jiwa dan raga ini
dengan kenikmatan mengikuti hawa nafsu yang sesaat ini. Bertaubatlah agar kita
kembali kepada-Nya dalam keadaan jiwa raga yang bersih, wallahua’lam. (Ba/Minanews.net)
*Pemerhati masalah sosial agama. Menetap di Majalengka



0 Komentar