Tsaqofah.com - Iman
Syafi'i rahimahullah pernah berkata, “Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka
ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah engkau
melepaskannya. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat
mudah.”
Ungkapan Imam Syafi’i di atas bila dihayati maka akan
terasa betapa mencari sahabat yang senantiasa berupaya mengingatkan kita kepada
syariat Allah dan Rasul-Nya tidak semudah memutar telapak tangan. Artinya, bila
seseorang ingin mendapatkan sahabat yang baik dan selalu mengingatkan kepada
Allah, maka hal awal yang harus dilakukan adalah memperbarui niatnya terlebih
dahulu. Jika niatnya karena Allah ingin mencari sahabat yang baik, maka insya
Allah akan terwujud mendapatkan seorang sahabat yang baik.
Niat menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan. Sebab dari niat yang kuat itulah keinginan akan terwujud. Dalam niat yang kuat ada prasangka baik (huznuzan) kepada Allah sehingga Allah akan mengikuti apa yang kita sangkakan itu.
Niat menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan. Sebab dari niat yang kuat itulah keinginan akan terwujud. Dalam niat yang kuat ada prasangka baik (huznuzan) kepada Allah sehingga Allah akan mengikuti apa yang kita sangkakan itu.
Di akhir zaman ini, banyak orang membangun
persahabatan dengan alasan berbagai jenis. Ada yang bersahabat karena
seprofesi; sama-sama guru, jurnalis dan lainnya. Tapi ada juga orang-orang yang
bersahabat lintas profesi. Mereka tidak perlu melihat siapa dan kerja sebagai
apa dia. Selama ia seorang muslim yang baik akhlaknya, maka mereka itulah
sahabat.
Semua jenis pershabatan yang dibangun selain karena
dasar jalinan iman dan akidah, pasti akan sirna dan tidak akan pernah
bersambung hingga ke akhirat (surga). Tapi sebaliknya, persabatan yang dibangun
atas dasar kecintaan kepada Allah, dan karena Allah, maka itulah persahabatan
yang akan kekal dari dunia sampai ke surga.
Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila penghuni surga telah masuk ke
dalam surga,
lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka
dahulu di dunia. Maka merakapun bertanya kepada Allah, ‘Ya Rabb... Kami tidak
melihat sahabat-sahabat
kami sewaktu di dunia, salat
bersama kami, puasa bersama kami, dan berjuang bersama kami. Maka Allah
berfirman, "Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang
dihatinya ada iman walaupun sekecil zarrah."
(HR. Ibnul Mubarak dalam kitab Az-Zuhd).
Masya
Allah, hadis di atas memberikan sebuah gambaran yang jelas kepada setiap muslim
yang lurus akidah dan baik akhlaknya bahwa setiap persahabatan atau setiap
sahabat yang membangun persahabatannya hanya karena Allah, mereka saling mencintai
karena Allah, saling menasehati karena Allah, maka kelak satu sama lain akan
saling menyelamatkan agar semuanya masuk ke dalam surga bersama-sama.
Hadis
di atas juga memberikan gambaran kepada setiap muslim bahwa Allah Ta’ala akan
memberikan izin kepada orang yang beriman untuk menarik sahabat-sahabat mereka
yang ada di neraka, tentu dengan syarat sahabat yang masih di neraka itu ada
iman di hatinya walaupun sebesar debu (zarrah).
Ternyata, seorang sahabat muslim (mukmin) itu
mempunyai syafa’at pada hari kiamat untuk menyelematkan sahabat-sahabatnya yang
masih di dalam neraka. Tentu ini adalah berita besar bagi setiap muslim untuk
terus berupaya menjaga sahabat-sahabatnya dan berusaha terus untuk memperbanyak
sahabat-sahabat mukminnya agar kelak bisa saling memberi syafa’at di hari
kiamat.
Al-Hasan
Al-Bashrii berkata, "Perbanyaklah
sahabat sahabat mukminmu,
karena mereka memiliki syafa'at pada hari kiamat.”
Bahkan, Ibnu
Jauzi dengan menangis tersedu berkata
pada sahabatnya, "Jika
kamu tidak menemui aku di surga
bersama kamu, maka tolonglah tanyakan
kepada Allah tentang aku."
Mari
kita perbanyak sahabat mukmin kita. Sebab kita tidak pernah tahu siapa di
antara sahabat mukmin kita yang kelak akan mencari dan mengajak dan menolong
kita untuk masuk bersama-sama ke dalam surga. Wallahua’lam. (minanews.net)By. Abu Labib Abdullah A


0 Komentar