Tsaqofah.com - Dari Abu
Shuhaib bin Sinan ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh
menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya. Dan yang
demikian itu hanya ada pada seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan dia
bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Dan jika mendapat musibah dia
bersabar, maka sabar itu baik baginya.” (HR. Muslim)
Hadis di atas
menunjukkan keadaan setiap manusia saat mendapat musibah, ada yang beriman dan
ada yang tidak beriman (orang kafir). Orang yang beriman akan bersabar dan
mencari jalan keluar seraya mengharap pahala. Sedangkan orang yang tidak
beriman akan senantiasa mencela/mengumpat, meratapi, berandai-andai dengan
waktu.
Dan orang yang
beriman jika mendapat nikmat maka dia bersyukur dengan sebenar-benarnya,
memenuhi rukun syukur, yaitu hati yang mengakui bahwa nikmat tersebut dari
Allah Yang Maha Pemberi Rizki, lalu lisannya memuji Allah SWT dan
menyebut-nyebut nikmatnya, kemudian menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada
Allah Azza wa Jalla.
Dalam hadis tersebut mengandung perintah bersabar karena kesabaran merupakan sarana kebaikan. Begitu juga perintah untuk bersyukur, karena syukur adalah penyebab bertambahnya nikmat. Antara sabar dan syukur adalah dua rumus utama dalam kehidupan seorang Muslim. Dengan sabar dan syukur itulah Allah SWT akan memasukkan hamba-Nya ke surga.
Makna lain yang terkandung dalam hadis tersebut adalah sebuah konsekuensi bahwa keadaan orang kafir ketika mendapat nikmat juga buruk, karena setiap langkahnya adalah maksiat kepada Allah SWT, karena mereka senantiasa berada dalam kemaksiatan yang paling besar selama masih dalam keadaan kafir. Apalagi jika mereka dalam keadaan teruji.
Dalam hadis tersebut mengandung perintah bersabar karena kesabaran merupakan sarana kebaikan. Begitu juga perintah untuk bersyukur, karena syukur adalah penyebab bertambahnya nikmat. Antara sabar dan syukur adalah dua rumus utama dalam kehidupan seorang Muslim. Dengan sabar dan syukur itulah Allah SWT akan memasukkan hamba-Nya ke surga.
Makna lain yang terkandung dalam hadis tersebut adalah sebuah konsekuensi bahwa keadaan orang kafir ketika mendapat nikmat juga buruk, karena setiap langkahnya adalah maksiat kepada Allah SWT, karena mereka senantiasa berada dalam kemaksiatan yang paling besar selama masih dalam keadaan kafir. Apalagi jika mereka dalam keadaan teruji.
Namun bagi
seorang Muslim, besarnya pahala sangat tergantung seberapa besar dan berat
ujian yang diterima.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala seseorang itu tergantung besarnya ujian yang ia terima, dan sesungguhnya Allah SWT apabila mencintai sebuah kaum, maka kaum tersebut akan diuji oleh Allah SWT, barangsiapa yang ridha dengan ujian serta cobaan tersebut, maka baginya pahala yang besar disisi Allah, akan tetapi jika dia marah atau benci (tidak ridha) dengan ujian tersebut, maka dia hanya akan mendapat murka dari Allah SWT. (HR. at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031).
Inilah hidup yang penuh dengan ujian agar Allah SWT sejauh mana seorang Muslim mampu bersabar. Ujian bukan hanya berupa keburukan tapi juga kebaikan. Adakalanya seseorang tidak sadar saat ia diberi kemudahan dalam berbagai hal. Ia lupa kalau kemudahan dalam hidup ini pun bagian dari ujian Allah SWT kepada setiap hamba-Nya.
Penting untuk disadari, ketika kita diberi ujian berupa kenikmatan dalam hidup, maka syukurilah. Sebaliknya jika diuji dengan segala keburukan dan kepahitan hidup, maka bersabarlah. Wallahua’lam.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala seseorang itu tergantung besarnya ujian yang ia terima, dan sesungguhnya Allah SWT apabila mencintai sebuah kaum, maka kaum tersebut akan diuji oleh Allah SWT, barangsiapa yang ridha dengan ujian serta cobaan tersebut, maka baginya pahala yang besar disisi Allah, akan tetapi jika dia marah atau benci (tidak ridha) dengan ujian tersebut, maka dia hanya akan mendapat murka dari Allah SWT. (HR. at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031).
Inilah hidup yang penuh dengan ujian agar Allah SWT sejauh mana seorang Muslim mampu bersabar. Ujian bukan hanya berupa keburukan tapi juga kebaikan. Adakalanya seseorang tidak sadar saat ia diberi kemudahan dalam berbagai hal. Ia lupa kalau kemudahan dalam hidup ini pun bagian dari ujian Allah SWT kepada setiap hamba-Nya.
Penting untuk disadari, ketika kita diberi ujian berupa kenikmatan dalam hidup, maka syukurilah. Sebaliknya jika diuji dengan segala keburukan dan kepahitan hidup, maka bersabarlah. Wallahua’lam.


0 Komentar