Oleh Annisa Humairo (Jurnalis Majalah Islam Tsaqofah)
TSAQOFAH.COM - Ulama
berkebangsaan Mesir ini lahir di desa Mahmudiyah, Buhairah – Mesir pada tanggal
14 Oktober 1906. Dan wafat pada 12 Februari 1949 di usianya yang ke-42 di
Kairo, Mesir. Beliau memperjungkan islam berdasarkan Alqur’an dan Assunnah
hingga dibunuh oleh penembak misterius yang disebut oleh publik dengan penembak
titipan pemerintah. Semoga Allah menerima Ruh beliau.
Selain sebagai
ulama Fiqih dan Hadits , ayahnya, Ahmad Al Banna adalah seorang ahli jam dan
arloji. Sehingga tidak jarang Hassan muda mempelajari hal yang ditekuni ayahnya
tersebut. Karena kecerdasan dan disiplin yang diterapkan ayahnya, maka pada
usia 14 tahun Hassan sudah menghafal seluruh Alqur’an. Dan diterima sebagai
mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum pada usianya yanng ke 16.
Begitu
menyelesaikan s1 nya pada usia 21, ia ditunjuk untuk mengajar di Ismailiyyah.
Masa itu adalah masa disaat umat islam sedang mengalami kekalahan dan kegoncangan.
Kehilafahan Usmaniyyah yang saat itu sebagai pengayom umat islam di dunia juga
sedang mengalami keterpurukan. Saat itu Kemal Attaturk menyeser ulama muslim
dan dijebloskan ke penjara negara.
Berangkat dari
kondisi ini dan rasa geramnya akan perbudakan Inggris atas umat islam,
membuatnya berfikir untuk mengembalikan kejayaan islam yang sempat benderang.
Ia mulai mendatangi warung-warung kopi
dan membumbui obrolannya dengan dakwah islam. Begitu ia lakukan terus menerus
sehingga tanpa disadari oleh masyarakat bahwa nilai-nilai islam mulai melekat
kembali di lingkungan mereka. Hassan juga membuka kuliah malam untuk para
mehasiswanya yang ingin mendapat ilmu-ilmu islam secara lebih mendalam.
Hassan Albanna dan Ikhwanul Muslimin
Pada
29 Maret 1928, Hassan bersama dengan enam temannya mendirikan sebuah organisasi
islam bernama Ikhwanul Muslimin. Organisasi ini bergerak dalam bidang dakwah
dengan mengadakan seminar keagamaan, menulis teks pidato yang berkaitan dengan
islam dan juga melakukan pembinaan masyarakat. Dakwah tersebut disambut hangat
oleh masyarakat Mesir. Baik dari kalangan buruh, pengusaha, ulama, maupun
rakyat biasa, semua mendukung organisasi ini.
Sekitar
tahun 1945, pada saat ada perpecahan antara Arab dan Yahudi, Ikhwanul Muslimin
mengumpulkan pemuda sebagai sukarelawan untuk dibina ruhani dan jasmaninya.
Sehingga muncullah pasukan yang paling ditakuti oleh tentara barat dari seluruh
pasukan gabungan Arab. Yaitu pasukan Mujahid Ikhwanul Muslimin. Pasukan
tersebut terus mengobrak-abrik kekuatan musuh dan berhasil memukul mundur
pasukan lawan.
Lalu terjadilah satu hal yang tercatat menjadi aib yang
mencoreng nama baik pemerintah Mesir
sampai saat ini. Adalah Amerika, sekutu Yahudi mengancam akan mengebom Mesir
jika pasukan mujahid Ikhwanul Muslimin tidak ditarik mundur segera. Dan dari
sinilah aib tersebut dimulai. Ribuan pasukan mujahid Ikhwanul Muslimin ditarik
paksa untuk mundur dan dilucuti persenjataannya oleh pemerintah Mesir.
Para
mujahid sukarelawan itu bahkan dengan tanpa hati dijebloskan ke penjara negara
tanah air mereka sendiri. Puncaknya adalah peristiwa penembakan Hassan Albanna
sebagai Sang Pelopor berdirinya Ikhwanul Muslimin.
Dakwah
beliau sangat mendunia. Bahkan di Indonesia. Ia salah satu tokoh yang
menyatakan dukungan segera setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.
Kontak dengan ulama Indonesia pun terjalin. Tercatat salah satu ulama
Indonesia, M. Natsir, pernah berpidato didepan rapat Ikhwanul Muslimin.
Syahidnya
Hassan Albanna bukan lantas berarti surutnya dampak dakwah beliau. Meski
sebesar apapun kekuatan musuh Allah yang terus berusaha memadamkan cahaya-Nya,
sudah menjadi sunnatullah ruh jihad muslimin tidak pernah mati. Semoga Allah
mencatat amal sholehnya. Aamiin.
“Kitab yang terletak di perpustakaan
sedikit yang membacanya. Tetapi seorang muslim sejati adalah laksana kitab
terbuka yang dibaca oleh semua orang. Dan kemana saja ia pergi ia adalah
dakwah yang bergerak” (Hassan Albanna).
(Dari
berbagai sumber)


0 Komentar