TSAQOFAH.COM - Tulisan singkat ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya. Intinya adalah bagaimana seorang wanita Islam bisa menjadi lebih baik lagi dalam menjalani kehidupannya. Terlebih jika ia sudah menjadi seorang istri.
By. Abu Tsaqib FA
Kelima, wanita yang punya sifat malu
Kelima, wanita yang punya sifat malu
Sepantasnya
seorang wanita Islam mempunyai rasa malu. Malu jika harus dipandang oleh lelaki
ajnabi. Malu jika harus berpakaian mengumbar aurat. Malu jika bermaksiat kepada
Allah. Malu ketika tidak taat pada suaminya. Dan malu keluar rumah tanpa ada
urusan penting. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
الْحَيَاءُ
لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ
“Rasa
malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan
Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain).
Seorang wanita Islam sudah sepantasnya
mempunyai rasa malu, layak seperti malunya dua wanita kakak beradik di jaman
Nabi Musa AS. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَمَّا
وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ
مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا
نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى
لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ
إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24)
“Dan
tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan
orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang
banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata:
“Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami
tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu
memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut
umurnya.” Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (Qs. Qashash: 23-24).
Kedua wanita itu, malu berdesak-desakan dengan kaum
lelaki untuk meminumkan ternaknya. Bagaimana dengan wanita akhir
zaman hari ini? Dalam kesempatan lain, bahkan
kedua wanita itu menunjukkan rasa malunya saat diminta ayahnya untuk memanggil
Nabi Musa agar menghadap. Allah
melanjutkan firman-Nya,
فَجَاءَتْهُ
إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ
لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا
“Kemudian
datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh
rasa malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku memanggil kamu agar ia
memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.‘” (Qs. Al Qashash : 25)
Amirul
Mukminin Umar bin Khaththab radiyallahu ‘anhu
mengatakan, “Gadis itu menemui Musa ‘Alaihis Salaam dengan pakaian yang
tertutup rapat, menutupi wajahnya.” Sanad riwayat ini shahih.
Keenam, taat dan menyenangkan hati suami
Sungguh betapa tentram hati seorang suami ketika mendapati istrinya taat saat diperintah (bukan untuk bermaksiat). Ia mampu membuat hati suaminya tenang, nyaman dan damai saat bersamanya. Dengan kata-katanya yang lemah lembut, dengan sentuhannya yang halus, dengan semumnya yang menggoda, sungguh semua itu adalah akhlak seorang istri yang bisa membuat hatinya senang dan meridhainya.
Keenam, taat dan menyenangkan hati suami
Sungguh betapa tentram hati seorang suami ketika mendapati istrinya taat saat diperintah (bukan untuk bermaksiat). Ia mampu membuat hati suaminya tenang, nyaman dan damai saat bersamanya. Dengan kata-katanya yang lemah lembut, dengan sentuhannya yang halus, dengan semumnya yang menggoda, sungguh semua itu adalah akhlak seorang istri yang bisa membuat hatinya senang dan meridhainya.
Ia tidak pernah sekalipun menolak perintah suaminya selama perintah itu adalah kebaikan. Ia senantiasa membuat suaminya bahagia sehingga terasa ringan beban berat yang dipikul suaminya selama ini. Ia juga selalu hadir di sisi suaminya, menemaninya saat senang maupun susah. Di hatinya terpatri kuat untuk selalu ada bagi suaminya.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ
إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا
وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah
ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah wanita
yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika
dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami
pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai no.
3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan
shahih)
Al Hushain bin Mihshan menceritakan bahwa
bibinya pernah datang ke tempat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam karena
satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam bertanya kepadanya,
أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ:
نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ
عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ
وَنَارُكِ
“Apakah
engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain
menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”,
tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak
pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lihatlah di mana
keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan
nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana
kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)
Ketujuh, memelihara kehormatan, anak dan harta suami
Wajib bagi seorang wanita Islam menjaga kehormatan diri, suami dan anak-anaknya. Seperti dalam firman Allah Ta’ala,
Ketujuh, memelihara kehormatan, anak dan harta suami
Wajib bagi seorang wanita Islam menjaga kehormatan diri, suami dan anak-anaknya. Seperti dalam firman Allah Ta’ala,
فَالصَّالِحَاتُ
قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“Sebab
itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri
ketika suaminya tidak ada” (Qs. An Nisa’: 34).
Ath
Thobari mengatakan dalam kitab tafsirnya (6: 692), “Wanita tersebut menjaga
dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di
samping itu, ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu.”
Kedelapan, bersyukur dengan pemberian suami
Cukuplah seorang istri dianggap telah kufur kepada suaminya bila ia tidak pernah bersyukur atas semua pemberian suami; sedikit atau banyak. Ridho atas banyak sedikit pemberian dari suami adalah bagian dari salah satu sifat wanita yang perlu diperjuangkan oleh para bujangan. Bersyukurlah bagi seorang pemuda yang bisa mempunyai pendamping yang selalu bersyukur atas segala pemberian suami seberapa besar kecilnya.
Kedelapan, bersyukur dengan pemberian suami
Cukuplah seorang istri dianggap telah kufur kepada suaminya bila ia tidak pernah bersyukur atas semua pemberian suami; sedikit atau banyak. Ridho atas banyak sedikit pemberian dari suami adalah bagian dari salah satu sifat wanita yang perlu diperjuangkan oleh para bujangan. Bersyukurlah bagi seorang pemuda yang bisa mempunyai pendamping yang selalu bersyukur atas segala pemberian suami seberapa besar kecilnya.
Suatu hari, setelah selesai shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepadanya ketika shalat,
وَرَأَيْتُ
النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا
النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ:
يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ،
لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا
قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Dan
aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti
hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka
bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya
Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada
yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau
menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri
kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri
kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu
(yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali
belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim
no. 907).
Camkan hadits di atas, hanya karena melihat kekurangan suami
sekali saja, padahal banyak kebaikan lainnya yang diberi. Seperti hujan
setahun terhapus dengan kemarau sehari.
Kesembilan, berdandan dan berhias diri hanya spesial untuk suami
Aneh, dunia sudah terbalik. Sebagian wanita lebih senang tampil aduhai dan menggoda saat keluar rumah dan dihadapan lelaki lain (ajnabi). Namun, sayang seribu sayang, para wanita (istri) itu tampil sangat biasa dihadapan suaminya. Tak jarang, bau asap dapur masih menempel di tubuhnya. Bau pesing kencing bayinya pun tak sekali tercium dari bajunya. Lalu? Bagaimana suaminya akan semakin cinta dan sayang kepadanya bila cara ia memperlakukan dan menyambut suaminya tidak seperti saat ia tampil kondangan keluar rumah.
Kesembilan, berdandan dan berhias diri hanya spesial untuk suami
Aneh, dunia sudah terbalik. Sebagian wanita lebih senang tampil aduhai dan menggoda saat keluar rumah dan dihadapan lelaki lain (ajnabi). Namun, sayang seribu sayang, para wanita (istri) itu tampil sangat biasa dihadapan suaminya. Tak jarang, bau asap dapur masih menempel di tubuhnya. Bau pesing kencing bayinya pun tak sekali tercium dari bajunya. Lalu? Bagaimana suaminya akan semakin cinta dan sayang kepadanya bila cara ia memperlakukan dan menyambut suaminya tidak seperti saat ia tampil kondangan keluar rumah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ
إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا
وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah
ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah wanita yang
paling baik?” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Yaitu yang
paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan
tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR.
An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits
ini hasan shahih).
Tulisan
singkat ini bukan untuk menggurui siapapun melainkan sekedar mengajak setiap
wanita Islam agar selalu menanamkan semangat terus belajar sehingga mempunyai
bekal yang cukup dalam mengamalkan syariat Islam ini. Bagi para
lelaki Islam, pilihlah calon istri dengan kriteria di atas agar hidup Anda
bahagia dunia akhirat.
Bagi para suami, jika pasangan
hidup Anda belum sesuai dengan Sembilan sifat di atas, maka tidak ada kata
terlambat untuk mengajak istri Anda menjadi lebih baik lagi di mata Allah dan
Rasul-Nya, wallahua’lam.(sumber: minanews.net)


0 Komentar