TSAQOFAH.COM - Egois atau Ananiah berasal dari bahasa arab انا yang berarti Aku. Ananiah berarti aku atau keakuan. Secara
istilah, ananiah berarti sikap keakuan, sikap mementingkan diri sendiri, kurang
memerhatikan orang lain. Dalam bahasa Indonesia sikap seperti itu (ananiah)
disebut EGOIS. Sikap ananiah terkait erat dengan sikap takabbur.
Dalam kehidupan sehari-hari sikap ananiah sering kali dijumpai, baik pada
diri remaja maupun orang dewasa, sudah tentu sikap ananiah tidak disukai dalam
pergaulan karena cenderung meremehkan atau tidak menghargai orang lain. Ananiah
dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk dan bisa dijumpai dalam kehidupan sehari
hari antara lain; selalu ingin menang dalam pembicaraan bersama teman, kurang
menghargai pendapat orang lain walaupun benar, susah menerima saran atau
kritikan dari orang lain.
Larangan ananiah (egois)
Islam melarang umatnya bersikap ananiah dan mendidik umatnya agar
pandai-pandai menghormati orang lain sebagaimana wajarnya. Aisyah ra berkata, “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kita agar menghormati manusia sesuai
dengan kedudukannya.” (HR.Muslim dari Aisyah).
Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
bersabda, “Tidaklah seorang anak muda yang memuliakan orang tua karena
ketuaannya, melainkan Allah akan mengadakan baginya orang yang akan memuliakan
dia setelah tuanya.” (HR. Tarmizi dari Anas Bin Malik).
Apabila kita sebagai generasu muda mau menghormati yang tua, Insya Allah kelak setelah tua akan dihormati pula oleh yang muda . Dengan demikian, hadits di atas sebagai motivasi bagi kita untuk menghormati orang lain terutama yang lebih tua. Akan tetapi walaupun hadits di atas dikatakan menghormati orang tua karena ketuaannya bukan berarti selain orang tua tidak dihormati, salah satu bentuk menghormati orang lain ialah menjaga diri agar tidak bersikap aninah atau egois karena ada dampak yang ditimbulkan sifat tersebut.
Apabila kita sebagai generasu muda mau menghormati yang tua, Insya Allah kelak setelah tua akan dihormati pula oleh yang muda . Dengan demikian, hadits di atas sebagai motivasi bagi kita untuk menghormati orang lain terutama yang lebih tua. Akan tetapi walaupun hadits di atas dikatakan menghormati orang tua karena ketuaannya bukan berarti selain orang tua tidak dihormati, salah satu bentuk menghormati orang lain ialah menjaga diri agar tidak bersikap aninah atau egois karena ada dampak yang ditimbulkan sifat tersebut.
Dampak Negatif Ananiah (egois)
Setiap larangan pasti berdampak negatif bila dilanggar, sifat dan sikap
ananiah mempunyai dampak pada pelakunya yakni antara lain:
a. Tidak disukai dalam pergaulan
karena dia meremehkan orang lain
b. Menurunkan martabatnya sehingga
lambat laun tidak disukai orang
c. Terisolir dari pergaulan
masyarakat lingkungannya.
Adapun cara menghindari dari hal tersebut terkadang tidak mudah karena sudah watak manusia. Namun demikian, bila ada kemauan yang sungguh-sungguh niscaya akan memperoleh hasil juga.
Adapun cara menghindari dari hal tersebut terkadang tidak mudah karena sudah watak manusia. Namun demikian, bila ada kemauan yang sungguh-sungguh niscaya akan memperoleh hasil juga.
Adapun cara untuk menghilangkan sifat ananiah anatara lain
a. Mengendalikan diri untuk tidak
menang dalam dalam pembicaraan
b. Tidak menganggap bahwa
pendapatnya sendiri yang benar
c. Belajar menghargai orang lain
sebagaimana dirinya ingin dihargai
Inilah 4 Ciri Orang Egois
Ketika ada orang yang lebih mementingkan kepentingan
dirinya sendiri ketimbang orang lain, maka ia disebut orang egois. Ketika ada
orang yang selalu ingin menang sendiri, maka ia juga disebut egois. Pernahkah
kita melaukan tindakan yang menurut orang lain itu egois? Padahal dalam diri
kita sendiri, tindakan itu sama sekali bukan egois.
Tak jarang keegoisan seseorang membuat orang lain menjadi
benci terhadap dirinya, bahkan tak sedikit yang memusuhinya pula. Ketika belum
lama berteman, sifat keegoisannya belum kelihatan, tetapi setelah ia tahu bahwa
temannya itu memiliki sifat egois, bisa jadi ia menjaga jarak atau memilih tidak
menjadi temannya lagi. Coba kita bayangkan jika keegoisan tumbuh dalam sebuah
keluarga.
Biasanya, ketika masih menjadi pengantin baru, sifat egois tidak kelihatan, tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya kelihatan juga. Jika tidak pintar dalam menyikapinya bisa dipastikan hubungannya tidak bertahan lama, dan berakhir dengan perceraian.
Biasanya, ketika masih menjadi pengantin baru, sifat egois tidak kelihatan, tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya kelihatan juga. Jika tidak pintar dalam menyikapinya bisa dipastikan hubungannya tidak bertahan lama, dan berakhir dengan perceraian.
Apakah Anda tipe orang egois?
Ciri orang yang egois; pertama, mendustakan
ayat-ayat Allah. Kedua, ingin menang sendiri. Ketiga, suka
mengatur tapi tidak mau diatur. Keempat, keras kepala.
Pertama,
mendustakan ayat-ayat Allah SWT. Dalam hal ini cakupannya sangat luas sekali.
Orang kafir bisa dikategorikan oang yang egois, karena mereka enggan memeluk
Islam. Padahal agama Islam adalah agama penyempurna bagi agama – sebelumnya.
Sehingga jelaslah bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa dikatakan orang
yang super egois.
Orang yang mengaku muslim (orang islam) tetapi tidak
melaksanakan perintah-perintah allah maka termasuk kedalam orang-orang egois.
misalnya saja tidak melaksanakan sholat lima waktu, dan amalan-amalan yang lain
yang Allah perintahakan, serta tidak menianggalkan apa yang allah larang,
misalnya mabuk-mabukan, berfoya-foya, dan lain sebagianya.
Kedua,
ingin menang sendiri. Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan merupakan hal
yang lumrah, tetapi menjadi bermasalah ketika ada orang yang ingin menang
sendiri. Buat apa menang kalau tidak sportif, menang seperti ini sama saja
kalah. Kemenangan sesungguhnya adalah menang secara sportif, tentu lebih
terhormat. Orang yang ingin menang sendiri, kurang lebih bisa dianalogikan
seperti itu. Akibat sifatnya inilah ia dijauhi serta di musuhi teman-temannya.
Ketiga, suka
mengatur tapi tidak mau diatur. Seorang pemimpin dituntut untuk mampu memimpin
anggotanya. Tetapi masa menjadi seorang pemimpin itu ada batas dan jangka
waktunya. Ketika menjadi seorang pemimpin ia bisa mengatur anggotanya seperti
apa yang diinginkan, tetapi ketika ia sudah kembali menjadi anggota maka harus
siap diatur seperti dirinya mengatur ketika menjadi seorang pemimpin.
Saat ini, banyak sekali kita temukan orang-orang yang siap
memimpin tetapi tidak siap dipimpin. Ketika ia sudah tidak lagi memegang
jabatan sebagai pemimpin, ia memilih keluar. Inilah potret yang saat ini
terjadi dan sudah membudaya. Akhirnya bermusuhan dan saling menjatuhkan satu
sama lain sehingga perseteruan ini tanpa akhir alias jadi “musuh bebuyutan”.
Keempat, keras kepala. Keras kepala identik dengan sebutan kepala batu, artinya isi kepalanya sangat keras sehingga sangat sulit untuk dihancurkan. Orang bekepala batu yaitu orang yang tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Orang yang berkepala batu biasanya berpasangan dengan muka tembok dan tangan besi. Jika tiga unsur ini sudah menyatu, maka sangat sulit untuk mengubahnya apa lagi untuk diingatkan.
Keempat, keras kepala. Keras kepala identik dengan sebutan kepala batu, artinya isi kepalanya sangat keras sehingga sangat sulit untuk dihancurkan. Orang bekepala batu yaitu orang yang tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Orang yang berkepala batu biasanya berpasangan dengan muka tembok dan tangan besi. Jika tiga unsur ini sudah menyatu, maka sangat sulit untuk mengubahnya apa lagi untuk diingatkan.
Orang yang keras kepala pada masa Nabi Musa adalah Fir’aun,
dan akhirnya Allah SWT tenggelamkan Fir’aun dan tentaranya di tengah lautan. Pada masa Nabi Nuh. Umatnya juga sangat keras kepala.
Sehingga Allah SWT mengirimkan banjir bandang yang sangat dahsyat, sehingga tak
ada yang selamat dari umatnya Nabi Nuh walau pun lari ke atas gunung. Kecuali
yang ikut naik kapal dengan Nabi Nuh. Pada masa Nabi Ibrahim AS, Allah SWT jadikan Namrud orang
yang egois dank eras kepala sehingga ia tewas.
Penutup
Egois adalah sifat yang tumbuh alami dari dalam diri
manusia. Karena benar-benar alami, sampai manusia tidak menyadari kehadiran
sifat egois itu sendiri. Dan sampai sekarang pun belum ada obat yang bisa
menghilangkan sifat egoisme dari dalam diri manusia. Setiap orang pasti pernah
bertindak egois, baik secara sadar maupun tidak sadar.
Untuk mampu menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada
dalam diri manusia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kita baru kembali dari satu peperangan
yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar…’, yang membuat para
Sahabat terkejut dan bertanya, “Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ?”Rasulullah
berkata, “Peperangan melawan hawa nafsu.” (Riwayat Al Baihaqi)
Abu Bakar Al-Warraq berkata : “Jika hawa
nafsu mendominasi, maka hati akan menjadi kelam, Jika hati menjadi kelam, maka
akan menyesakkan dada. Jika dada menjadi sesak, maka akhlaknya menjadi rusak.
Jika akhlaknya, maka masyarakat akan membencinya dan iapun membenci mereka”.
Dengan mengedepankan iman, tentu sifat-sifat egois yang
terdapat dalam diri kita akan bisa diredam. Bantuan Allah swt lah yang menjadi
tumpuan terakhir agar kita terbebas dari sifat-sifat buruk tersebut, dan selalu
dalam bimbingan-Nya. Semoga kita termasuk kedalam hamba-hamba yang mendapat
perlindungan Allah Subhanahu wa ta'ala, aamiin. (Ba./berbagai sumber)


0 Komentar