
Oleh Nur Hamidah,
Mahasiswa STAI Al Fatah Bogor
TSAQOFAH.COM - Hidup ini pilihan. Mau menjadi apa dan siapa seseorang, sangat tergantung apa yang selama ini menjadi konsentrasinya. Namun demikian, bukan tidak mungkin manusia yang sempurna ini mempunyai banyak cita-cita dan harapan. Setidaknya, profil singkat seorang pejuang pendidikan dari Jama'ah Muslimin (Hizbullah) berikut ini bisa menginspirasi pembaca.
Adalah Saeful Bahri, M.Pd., seorang Mudirus Shuffah Pesantren Al Fatah
Cileungsi Bogor. Ia lahir dan tumbuh besar di pulau Sumatera, tepatnya di desa
Pagelaran Lampung Selatan, 9 Agustus 1956 silam. Ia merupakan anak pertama dari
sebelas bersaudara. Meski orang tuanya memiliki anak yang banyak, dan situasi
ekonomi tidak mendukung, tapi semua itu tak menyurutkan tekadnya untuk terus
meraih ilmu setinggi-tinginya.
Demi meraih apa yang sudah menjadi
tekadnya, ia dimasukkan oleh kedua orang tuanya ke pesantren. Sejak sekolah
dasar (MI) ia sudah mondok di Pesantren Al-Fatah Muhajirun Natar, Lampung
Selatan. Namun, selama proses pendidikannya, ia sempat berhenti satu tahun
akibat satu dan lain hal.
Menurutnya, teman-teman seangkatannya
saat itu tidak selesai sekolah. “Belum sempat lulus Aliyah
teman-teman pada enggak selesai. Satu persatu
pergi dan menyisakan tiga orang saja. Hanya tersisa dua teman saat itu yang
bertahan sekolah. Tapi mereka akhirnya memutuskan untuk menikah. Jadilah saya sendirian. Karena
teman-teman setinggat saya sudah pada pergi, saya memutuskan untuk pulang saja dan menjadi petani setahun di rumah,” ujarnya mengenang masa lalu.
Masuk Takhasus
Selama setahun merasakan berhenti tidak
sekolah, ia merasa jenuh. Kesempatan kedua datang. Dengan berbagai proses, ia
akhirnya bisa mengenyam pendidikan Takhasus sekelas dengan perguruan
tinggi berlokasi di Cileungsi Bogor pada tahun 1986.
Dijenjang Takhasus itu, Saeful masuk dan menjadi angkatan pertama pada lembaga tersebut. Ia
tak sendiri belajar pada level Takhasus itu. Banyak juga teman-teman
seangkatannya kala itu yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Di antara
mereka ada yang datang dari Jawa Barat seperti Tasikmalaya, Majalengka, Bogor,
dan daerah luar Jawa Barat lainnya.
Menurut lelaki yang bacaan al Qur’annya
bagus itu, teman-teman seangkatannya setelah lulus Takhasus, tersebar di
beberapa daerah di Indonesia. “Bukan hanya lulusan biasa ya. Teman-teman
seangkatan saya, alhamdulillah berhasil merintis pesantren-pesantren Al-Fatah
cabang di daerah-daerah,” jelasnya.
Di antara teman-temannya, ada yang
memilihi jalan hidup sebagai pendakwah atau mubaligh (dai), khotib Jum’at
bahkan guru (pengajar). Sementara Saeful sendiri diamanahi sebagai Rois/Kepala
Sekolah Madrasah Aliyah tahun 2001, ditempat pondok dimana ia mengajar.
Cita-citanya
Ayah tujuh anak ini memiliki cita-cita yang sangat sederhana nan mulia
dalam hidupnya yaitu menjadi seorang guru di pesantren. Rupanya, kehendak Allah berlaku padanya, kini, ia bukan hanya
dipercaya menjadi seorang guru, tapi juga mendapat amanah besar untuk langsung
memimpin Pondok Pesantren Al-Fatah
Cileungsi sebagai Mudirush Shuffah.
“Cita-cita saya sederhana. Saya hanya
ingin menjadi seorang guru. Namun, Allah berkehendak lain, kini saya diberi
amanah untuk mengelola proses berjalannya Pesantren Al-Fatah Cileungsi Bogor ini,”
ucapnya.
Menjadi guru berarti mengajar, dan
mengajar berarti harus berilmu. Itulah yang difahami oleh Saeful Bahri. Karena motivasi untuk
selalu ingin berbagi ilmu itu pula yang mendorongnya untuk melanjutkan kuliah
hingga ke jenjang Magister.
Dalam hal mengajar, Saeful sendiri
termotivasi dari perintah Allah dan Rasul-Nya. “Bukankah Rasulullah pernah
menyebutkan bahwa orang-orang yang berilmu
itu adalah pewaris para nabi? Jadi, bergerak pada bidang dakwah yang fokusnya dalam ranah pendidikan
karena mengajarkan kebaikan, al Qur’an, nilai-nilai akidah, akhlak pada santri
(murid) nanti guru akan mendapatkan pahala kebaikan dari apa yang telah ia
ajarkan, liman dalla ‘ala khairin falau mitslu ajri faa ‘ilihi,” katanya
penuh semangat.
Hingga saat ini, motivasi itu masih melekat kuat dalam dirinya. Motivasi utamanya menjadi seorang guru bukan berupa materi karena posisi guru bukanlah profesi yang membuat
orang menjadi kaya. “Jika ingin kaya, ya jadilah pengusaha,” terangnya.
Suka-duka
Hidup ini selalu dipenuhi warna. Ujian
selalu menanti seorang hamba selama ia masih menjalani kehidupan dunia. Kadang
kala, ada duka terasa. Di lain waktu, ada juga suka yang datang menyapa. Inilah
hidup, yang penuh dengan suka duka. Hal yang sama pun dialami oleh Saeful.
Menurutnya, menjadi guru di pesantren
mengharuskan seseorang menjalani hidup ini dengan penuh kreatif dan produktif
dalam segala bidang, jika mampu. Karena itu, membangun mental untuk sabar, kuat, mandiri, dan hidup sederhana sejatinya bisa ditempa dengan menjadi seorang
guru di pesantren.
“Alhamdulillah, suka duka dalam dunia
pesantren membuat saja merasa ditarbiyah (dididik) oleh Allah. Saya
bersyukur bisa meraih level pendidikan hingga sekarang ini,” jelasnya yang kini
sudah bisa meraih gelar Master dalam bidang pendidikan itu.
Menurut ustadz yang punya moto hidup “hidup mulia atau mati syahid” itu, mengutamakan untuk meraih ridho Allah adalah lebih utama dan
mulia daripada memilih hidup menjadi budak dan diperbudak dunia.
“Mencari dunia bukanlah sebuah cita-cita yang hakiki, tapi sebuah
cita-cita yang bersandar pada Allah dan Rasulnyalah kelak yang bisa membawa kita lebih dekat dengan
keindahan yang sebenar-benarnya; keindahan dalam ketaatan,” terangnya.
Memilih Menjadi ‘Alim
Di matanya, menjadi seorang pengajar
(berilmu) akan membuat orang tersebut menjadi mulia. Ia menyitir sebuah hadits faa innal ‘aalima laa yastaghfirulahu man
fissamaawaati wa ma fil ardh, orang yang berilmu itu akan mendapatkan doa
dari para malaikat dan dari makhluk-makhluk yang ada di muka bumi memohonkan
ampun untuk orang-orang yang berilmu. “Nah, bukankah itu mulia?” katanya.
Bahkan menurutnya, termasuk ikan-ikan yang ada di lautan pun ikut
memohonkan ampun untuk orang yang berilmu. Orang berilmu itu disebutkan seperti
bulan purnama di antara seluruh bintang-bintang yang menerangi kegelapan. “Begitu juga orang berilmu. Ia mampu menerangi kegelapan yang
dialami oleh manusia,” tambahnya.
Selain mengawal jalannya proses belajar
mengajar di pesantren, ustadz Saeful juga punya kesibukan lain mengisi taklim ibu-ibu di masjid terdekatnya. Tak hanya
mengisi taklim kaum ibu, ia juga seringkali diminta menjadi imam sholat lima
waktu di masjid pesantren. Karena suaranya panjang dan bagus, ia juga
seringkali menjadi muadzin.
Katanya, “Siapa yang mengambil pekerjaan sebagai
seorang ‘alim, maka ia akan
memperoleh keberuntungan yang banyak. Jika
bisnis untung dapat uang 100 juta ataupun satu milyar, maka itu masih terbilang kecil dibandingkan dengan orang yang mendapat
keberuntungan dari ilmunya. Keuntungannya banyak karena di dapatkan di dunia
dan akhirat.”
Ada banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah singkat ustadz
Saeful Bahri. Satu di antaranya adalah bagaimana menumbuhkan,
menjaga dan merawat semangat (cita-cita) hidup untuk mewujudkan impian. Meski
tantangan sana sini tak sedikit, tapi fokus pada mimpi adalah hal utama.
Kini, ustadz Saeful Bahri yang menetap di
lingkungan Pesantren Al-Fatah Cileungsi Bogor itu hidup bahagia bersama anak
istrinya. Ternyata, untuk menjadi bahagia itu tidak selamanya diukur dengan
melimpahnya materi.(BA)


0 Komentar