TSAQOFAH.COM – Dalam sebuah
hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Allah mengharamkan kezaliman
terhadap diri-Nya. Kemudian Allah haramkan pula kezaliman di tengah-tengah
manusia dan mempertegasnya dengan kalimat larangan, “Janganlah kalian saling
menzalimi!”. Maka wajarlah jika Imam Adz-Dzahabi menempatkan kezaliman
termasuk di
antara al-Kabair (dosa-dosa besar).
Ketika Allah telah
mengharamkannya melalui lisan Nabi-Nya dan ulama juga telah menegaskan besar
dosanya, maka sudah terbayang betapa berat siksaan bagi pelaku kezaliman kelak.
Namun demikian, ada saja orang yang tidak takut dengan-Nya dan tidak
mengindahkan peringatan-Nya. Tidak tanggung-tanggung, mereka melakukan
kezaliman secara berjamaah dengan terstruktur dan sistematis. Mereka memanfaatkan
setiap orang yang menempati posisi tertentu untuk saling menguatkan kezaliman dan melegitimasinya.
Pembantu
Kezaliman Dikumpulkan Bersama Penguasa Zalim
Allah mengancam mereka semua,
walau berbeda-beda posisi, kerja dan jabatannya, namun di mata Allah mereka
adalah satu golongan.
احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا
وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ
“(Diperintahkan
kepada malaikat), “Kumpulkanlah orang-orang zalim beserta teman sejawat mereka
dan apa yang dulu mereka sembah.” (Qs. As-Shaffat : 22)
Rabi’ bin Khutsaim
rahimahullah menafsirkan ayat tersebut,
يُحْشَرُ الْمَرْءُ مَعَ
صَاحِبِ عَمَلِهِ
“Manusia
dikumpulkan bersama rekan kerjanya.” (Majmu’ul
Fatawa, 7/62)
Mereka yang tolong-menolong
dan membantu dalam kezaliman tidak akan pernah luput dari pengawasan Allah.
Tidak ada satu langkah pun dari mereka kecuali setiap jengkalnya diawasi oleh
Allah, tidak ada satu titik pun dari perbuatan mereka kecuali akan dibalas oleh
Allah. Mustahil bagi Allah lalai terhadap kezaliman, apa pun profesi dan
lembaganya yang ikut membantu dalam memperkuat dan melegalkan kezaliman, Allah
tidak pernah mengabaikannya. Bahkan, sekedar cenderung terhadap kezaliman
ditegur langsung oleh Allah.
وَلا تَرْكَنُوا إِلَى
الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah
kamu cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api
neraka.” (Qs. Hud : 113)
Orang-orang yang membantu
sebuah kezaliman mendapatkan balasan yang sama sesuai dengan andilnya dalamm sebuah tindak kezaliman. Lantaran mereka memberikan
manfaat langsung kepada pelaku zalim. Kaki dan tangan mereka berinteraksi
langsung, mata pun melihat kezaliman tersebut, namun tidak ada pengingkaran
dari mereka terhadap kezaliman.
Ibnu Jauzi berkata :
مساعد الظلم ظالم، قال
السجان لأحمد بن حنبل: هل أنا من أعوان الظلمة؟ فقال: لا، أنت من الظلمة؛ إنما أعوان
الظلمة من أعانك في أمر
“Pembantu
kezaliman termasuk orang zalim. Seorang (tukang cambuk) berkata kepada Ahmad
bin Hanbal : apakah saya termasuk pembantu kezaliman? Beliau menjawab : tidak, kamu termasuk yang berbuat zalim, pembantu
kezaliman hanyalah orang yang membantumu dalam urusanmu.” (Shaidul Khathir,
hlm. 435)
Nah, setiap orang yang
membantu kezaliman termasuk zalim. Mereka adalah satu golongan yang kelak akan
dikumpulkan bersama di hari Kiamat. Namun, balasan yang mereka terima sesuai
dengan kadar bantuan yang mereka berikan.
Tingkatan Manusia
dalam Membantu Kezaliman
Pembantu kezaliman
bertingkat-tingkat sesuai dengan andil yang mereka berikan dan setiap tingkatan
ada konsekuensinya masing-masing. Di antara tingkatan tersebut ialah :
1. Setingkat
dengan pelaku kezaliman, ialah yang
menggunakan tangannya untuk memukul dan tenaganya untuk melaksanakan kezaliman.
Biasanya mereka adalah tangan kanan pemimpin zalim. Karena pekerjaannya atau
pengabdiannya kepada pemimpin zalim itu, orang-orang menjadi tersakiti,
teraniaya dan merasa takut. Nabi mengecam mereka tidak akan mencium wanginya
Surga.
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ
النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ
بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ
كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا،
وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Dua golongan
dari penduduk neraka yang tidak pernah aku melihatnya, golongan yang membawa
cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia mereka memukul manusia, dan
perempuan-perempuan berpakaian tapi telanjang melenggak-lenggok, kepala mereka
seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, tidak pula
mencium baunya, padahal baunya dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Orang kelompok
pertama adalah orang-orang yang menjalankan perintah kezaliman secara langsung
dari penguasa zalim. Mereka bisa berupa algojo dan pesuruh raja yang memegang
cemeti, menakut-nakuti manusia dengan cemeti yang dimilikinya, mencambuk manusia bahkan memenjarakan manusia tanpak haq.
Mereka juga bisa berupa para
petugas penarik pajak dan upeti penguasa yang mengambil harta manusia secara
zalim. Potret mereka bisa berkembang dari masa ke masa dan dari zaman ke zaman.
2. Orang-orang
yang menyeru atau memprovokasi untuk melakukan kezaliman. Bisa jadi mereka menyerukan atau membela kezaliman
dengan memanfaatkan forum-forum pertemuan, mimbar-mimbar, media sosial, lembaga
pendidikan, seni,
budaya dan sebagainya. Pengaruh mereka terhadap kezaliman tidaklah
sedikit. Karena kejahatannya, mereka akan dijerumuskan ke Neraka sedalam tujuh
puluh musim.
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ
بِالْكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللَّهِ، لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا، فَيَهْوِي بِهَا فِي
نَارِ جَهَنَّمَ سَبْعِينَ خَرِيفًا
“Sesungguhnya
seseorang mengucapkan suatu kalimat yang dibenci Allah, yang ia tidak
mengetahui bahayanya, maka dengannya ia dijatuhkan ke dalam neraka jahannam
sedalam tujuh puluh musim.” (HR. Ibnu Majah
no. 3970)
Kelompok kedua
ini adalah provokator. Baik dengan
halus maupun kasar, mereka melakukan provokasi yang menyebabkan sebuah
kezaliman terjadi. Mereka bisa seorang wartawan yang dengan berita-beritanya
menyebabkan timbul kezaliman, mereka bisa para akademisi yang dengan tulisan
dan kajiannya melahirkan sebuah tindak kezaliman, mereka bisa tokoh masyarakat,
bahkan bisa jadi dari kalangan ulama suu’.
3. Mereka yang
hatinya condong dengan kezaliman. Mereka
senang dengan kezaliman yang dilakukan oleh orang yang zalim, mereka juga rela
terhadap kezaliman yang dirasakan oleh orang yang tak bersalah. Padahal mereka
tidak ingin kezaliman itu menimpa diri mereka. Sikap ini bisa jadi karena
kecintaan terhadap kelompok atau suku tertentu, sehingga melupakan ikatan
persaudaraan seiman. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam ingin supaya mereka
instropeksi dan kembali merenungi sedalam-dalamnya kondisi keimanan mereka.
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ،
حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna
iman seseorang, sampai ia mencintai sesuatu seperti halnya ia mencintai untuk
dirinya.” (HR. Bukhari no. 13).
4. Mereka yang
membantu kezaliman dengan cara acuh. Mereka
biarkan saudara-saudaranya terzalimi, tanpa mengingkari kezaliman dalam
hatinya.
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ،
لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا، وَيُشِيرُ
إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ
الْمُسْلِمَ
“Seorang muslim
adalah saudara bagi muslim yang lain, jangan menzaliminya, mengacuhkannya dan
menghinakannya. Takwa itu di sini. Beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali.
Cukuplah seseorang itu buruk ketika ia menghinakan saudaranya yang muslim.” (HR. Muslim no. 2564)
Ancaman bagi Penguasa
Zalim dan Antek-antek Kezaliman
Tidak cukup di situ, beratnya
siksaan orang-orang yang zalim dan yang membantunya juga datang dari sikap Nabi
Shalallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam yang
penyayang dan mencintai umatnya berlepas diri dari para pemimpin yang pendusta
dan orang-orang di belakangnya yang turut membantunya. Lantaran kezaliman
mereka yang diikuti dan dibantu banyak orang, menjadikan Nabi Shalallahu ‘alaihi
wasallam menolak mereka untuk mencicipi telaganya di hari kiamat kelak.
Dari Ka’ab bin ‘Ujrah
berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami sedang kami
ada sembilan orang, beliau bersabda :
إِنَّهُ سَتَكُونُ بَعْدِي
أُمَرَاءُ، مَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ
مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ
بِكَذِبِهِمْ، وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ،
وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ
“Sungguh
setelahku akan ada para pemimpin. Siapa yang membenarkan kebohongannya dan
membantunya berbuat zalim, maka bukan termasuk umatku dan tidak akan datang ke
telagaku. Dan siapa yang tidak membenarkan kebohongannya dan tidak membantunya
dalam berbuat zalim, maka ia termasuk umatku dan termasuk orang yang datang ke
telagaku.” (HR.an-Nasa’i no. 4207)
Demikianlah jika seorang
pemimpin berbuat zalim, akan membawa orang-orang di lembaga atau aparaturnya
untuk ikut menjadi zalim. Sungguh kezaliman merupakan dosa besar yang diancam
langsung oleh Allah dengan siksa-siksa di Neraka. Namun, hilangnya rasa takut
dan hasrat duniawi menjadikan mereka lalai, padahal Allah sedetik pun tidak
lalai dari mengawasi mereka. Wallahu ‘alam bish showab.(Zamroni/kiblat.net)


0 Komentar