Oleh Abu Labib Abdullah A
Seringkali dalam kehidupan ini kita ngiri melihat
orang yang belimpah harta benda, punya sawah ladang yang luas bahkan anak
keturunan yang banyak dan berpengaruh pula di tengah-tengah masyarakat bahkan
jarang sakit pula.
Naluri manusia kita bicara, “Kenapa dia begitu
mudah dalam mengumpulkan harta ya? Padahalkan sehari-hari dia bukan orang yang
taat beribadah?”
Salahkah jika ada perasaan semacam itu dalam hati
seorang manusia? Walaupun ia seorang muslim? Tidak. Suara hati manusia adalah
hal yang lumrah. Itulah tanda sempurnanya ia sebagai manusia.
Lalu yang tidak boleh seperti apa? Jika perasaan
merasa hidup lebih buruk dari orang lain, sehingga membuatnya semakin lalai dan
terus dibuai dengan angan-angan kosong tanpa mau berubah menjadi lebih baik
itulah yang dilarang.
Kembali kesituasi di atas. Bisa jadi orang yang kita
lihat semua serba lebih dalam masalah dunia adalah bukan orang yang baik.
Nyatanya, dia tidak taat menjalankan perintah agama. Bisa jadi, itulah yang
dinamakan istidraj.
Secara bahasa Istidraj diambil
dari kata da-ra-ja (Arab: درج
) yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya.
Sementara istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai
‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung.
Allah biarkan orang ini dan tidak disegerakan azabnya.
Allah berfirman yang artinya,
فسَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
“Nanti Kami akan menghukum mereka
dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka
ketahui.” (Qs. Al-Qalam: 44) (Al-Mu’jam Al-Lughah Al-Arabiyah, kata:
da-ra-ja).
Dari Ubah bin Amir ra, Nabi
SAW bersabda, “Apabila engkau melihat Allah memberikan kenikmatan dunia
kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu
hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”
Kemudian Nabi SAW membaca firman Allah
yang artinya, “Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan
kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka;
sehingga bila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka,
Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam
berputus asa.” (Qs. Al-An’am: 44), (HR. Ahmad, no. 17349, disahihkan
Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 414).
Sederhananya, jika melihat orang yang secara agama ibadahnya buruk,
sementara maksiat kepada Allah dan manusia jalan terus, lalu rezekinya Allah
berikan melimpah, kesenangan hidup begitu mudah ia dapatkan, tidak pernah sakit
dan celaka, panjang umur, bahkan Allah berikan kekuatan pada fisiknya. Maka,
waspadalah sebab bisa jadi itu adalah istidraj baginya dan bukan kemuliaan.
Inilah tanda Istidraj
Di antara tanda hamba yang mengalami istidraj
itu antara lain.
Pertama, terus melakukan kemaksiatan
tapi kesuksesan justru semakin melimpah. Ali Bin Abi Thalib ra berkata, “Hai
anak Adam ingat dan waspadalah bila kau lihat Tuhanmu terus menerus melimpahkan
nikmat atas dirimu sementara engkau terus-menerus melakukan maksiat kepadaNya.”
(Mutiara Nahjul Balaghoh Hal 121)
Begitulah manusia. Saat diuji, dia mendekat kepada
Allah. Dan terus mendekat. Lalu saat Allah angkat ujian-Nya, dan dititipkan-Nya
sedikit harta, manusia menjadi lupa daratan. Lupa bersyukur. Bahkan dunia
beserta isinya seolah miliknya. Ia terus dalam keadaan lalai seperti itu hingga
kematian datang menjemput sementara ia lalai. Nauzubillah.
Kedua, semakin
kikir justru hartanya semakin melimpah. Allah Ta’ala
berfirman yang artinya,
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat
lagi pencela yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung (harta)
lalu dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya.” (Qs.
Al-Humazah : 1-3).
Ayat mulia di atas berkisah tentang hamba yang kikir dan
menghitung-hitung hartanya. Ia mengira harta yang ditumpuknya itu kelak
akan mengokohkan posisi dan kekuasaannya. Padahal semua
itu nisbi, semu dan fatamorgana.
Ketiga, jarang sakit. Imam Syafi’i pernah
berkata, “Setiap orang pasti pernah mengalami sakit suatu ketika dalam hidupnya. Jika engkau tidak pernah sakit, lihatlah
ke belakang mungkin ada yang salah dengan dirimu. Bisa
jadi ia tidak pernah sakit karena berbuat syirik memuja dan bersekutu dengan
jin atau setan. Kalaupun bukan karena itu, jelas ada sesuatu yang menyimpang
dalam dirinya. (Tafsir Al Muyassar, 1/464).
Ibnu
Athaillah berkata, “Hendaklah engkau takut jika selalu mendapat karunia Allah,
sementara engkau tetap dalam perbuatan maksiat kepada-Nya, jangan sampai
karunia itu semata-mata istidraj oleh Allah.”
Itulah di antara tanda-tanda istidraj. Semoga kita tidak lagi tertipu
jika melihat orang-orang yang diberi karunia lebih oleh Allah Ta’ala di satu
sisi, tapi di lain sisi ia tidak taat kepada Allah dan Nabi-Nya, Wallahua’lam.



0 Komentar